Perempuan dan Perubahan dalam Pengelolaan Perikanan dan Pengembangan Ekonomi Pesisir

Oleh: Bachori Dhian Pratama dan Siti Zulaeha

Untuk menghadapi tantangan di sektor perikanan, perempuan turut memainkan peran penting dalam mendukung pengelolaan perikanan tuna secara berkelanjutan dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. Kesetaraan partisipasi laki-laki dan perempuan di sektor perikanan dapat menjadi titik awal untuk mengurangi marjinalisasi dan meningkatkan partisipasi perempuan di sektor perikanan ke depannya.


Dewasa ini, pengelolaan perikanan berbasis data menjadi penting dilakukan untuk mendukung ketersediaan data secara nasional. Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) telah berhasil mengumpulkan data perikanan tuna di beberapa lokasi sejak tahun 2013, yang menunjukkan ukuran tuna hasil tangkapan beberapa tahun terakhir telah menurun, membuat nelayan perlu melakukan perjalanan lebih jauh, mengakibatkan hari melaut yang lebih lama, dan peningkatan biaya bahan bakar. Data dari sektor pancing ulur (handline) di Indonesia saat ini termasuk salah satu dari kumpulan data tuna paling kuat yang tersedia secara nasional, sebuah keberhasilan yang tidak lepas dari adanya peran perempuan.

Perempuan yang biasanya dikenal sebagai pengasuh utama dalam rumah tangga dan bertanggung jawab atas makanan, gizi, hingga keuangan keluarga kini melebarkan keterlibatan mereka di masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, para istri nelayan turut aktif berkontribusi membantu upaya pengelolaan perikanan dan pengembangan ekonomi di berbagai wilayah pesisir Indonesia, seperti melalui pencatatan hasil tangkapan ikan dan pembukuan; aktivitas yang awalnya hanya digiati oleh suami mereka.

Kesadaran pentingnya pendataan telah dirasakan oleh masyarakat pesisir, seperti di Desa Jambula, Ternate, Maluku Utara. Diawali dengan intervensi program pendataan perikanan Tuna, Cakalang, Tongkol (TCT) pada tahun 2018, masyarakat pesisir Desa Jambula perlahan sadar akan pentingnya pendataan, lebih lagi keterlibatan perempuan di dalamnya. Bahkan, kegiatan rutin rapat bulanan kelompok nelayan Fair Trade pun rutin dihadiri oleh para istri nelayan. Selain mendapatkan kesempatan bertukar pikiran dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan, mereka turut menerima ragam informasi yang menambah wawasan dan kesadaran mereka akan pentingnya penyediaan data untuk rencana pengelolaan perikanan nasional.

Ibu Endang, salah satu istri nelayan yang tergabung dalam kelompok sertifikasi Fair Trade di Jambula telah melakukan pencatatan hasil tangkapan selama kurang lebih 4 tahun. Konsistensi pencatatan hasil tangkapan dilakukan melalui pengisian logbook selepas suami pulang melaut, demi meringankan tanggung jawab suami dalam hal pencatatan perjalanan memancing sebagai upaya pemenuhan standar perikanan tangkap sertifikasi Fair Trade dan Marine Stewardship Council. Tidak berhenti di situ saja, Ibu Endang juga mengajak istri nelayan lainnya untuk melakukan pencatatan perjalanan memancing karena beliau percaya bahwa selain aksinya yang dapat meringankan kerja suami untuk mencatat, mereka dapat membawa perubahan dalam pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Ibu Endang bersama tim MDPI mengajak istri nelayan Jambula lainnya agar aktif mengisi logbook perikanan

Selain aspek lingkungan melalui kegiatan pendataan, kontribusi perempuan di sektor perikanan juga membantu meningkatkan perekonomian keluarga.  Penelitian KIARA menemukan bahwa 48 persen pendapatan keluarga nelayan dikontribusikan oleh perempuan melalui kegiatan produksi (menangkap dan mengumpulkan ikan/organisme laut lainnya) dan pasca-panen (menyiapkan dan menjual produk ikan). Dari sisi jual beli ikan, para istri nelayan di Jambula juga menjadi bagian dari mata rantai pasok perikanan tuna di Ternate dengan membantu proses transport ikan dari lokasi pendaratan ke gudang supplier, juga menjual ikan hasil tangkapan lainnya di pasar sekitar, hingga menjadi bendahara koperasi nelayan yang saat ini menjalankan usaha jual beli tersendiri.

Di Desa Seruni Mumbul, Lombok Timur, perempuan juga mengemban peran penting dalam meningkatkan pendapatan keluarga melalui kegiatan jual beli hasil tangkapan suaminya di bawah koperasi nelayan. Melalui koperasi yang berhasil dibentuk bersama MDPI pada September 2021, para istri nelayan memanfaatkan koperasi sebagai wadah untuk meningkatkan kemampuan pembukuan dan tentunya pendapatan keluarga mereka. Salah satu istri nelayan di desa tersebut, Ibu Dina mengungkapkan bahwa keberadaan koperasi membuka wawasan mereka dan menumbuhkan keinginan untuk terlibat dalam pengelolaan perikanan tuna di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Lebih dari itu, Ibu Dina juga berkesempatan hadir dalam pertemuan reguler Komite Pengelolaan Bersama Perikanan Tuna yang secara rutin diselenggarakan 2 tahun sekali oleh MDPI. Tahun 2022 menjadi kali pertama Ibu Dina terlibat dalam penyusunan rencana aksi pengelolaan perikanan provinsi NTB sebagai perwakilan dari pengurus Koperasi Segare Harapan Jaya. Ibu Dina yakin bahwa perempuan bisa bergerak maju untuk mengembangkan potensi wilayah melalui peningkatan mata pencaharian alternatif.

Ibu Dina ikut menjalankan usaha jual beli produk perikanan di Desa Seruni Mumbul

Cerita perempuan tangguh lainnya datang dari salah satu wilayah dampingan MDPI yaitu Kelurahan Toro, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ibu Herna yang juga merupakan istri nelayan menjadi sorotan di kampungnya karena telah berhasil mengembangkan Koperasi Kembali Muda Mandiri. Sejak November 2020, koperasi yang dibentuk bersama MDPI ini menjadi wadah bagi perempuan di Kelurahan Toro untuk mengembangkan kapasitas mereka dalam berorganisasi, pembukuan, dan pengembangan bisnis. Dipercayai menjadi bendahara koperasi, Ibu Herna kini telah mampu mengembangkan pembukuan dan berkesempatan menyampaikan hasil kerjanya dalam Rapat Anggota Tahunan pada Februari 2022.

Ibu Herna memimpin proses pembukuan koperasi, Bone, Sulawesi Selatan

Lebih dari 8 tahun MDPI telah bekerja untuk memajukan komunitas pesisir, termasuk mengembangkan kapasitas para perempuan di dalamnya, terlebih melalui program pembentukan “champion” di daerah mereka masing-masing. Bertepatan dan sejalan dengan tema International Women’s Day tahun ini, “gender equality today for a sustainable tomorrow“, MDPI juga yakin bahwa partisipasi para tokoh perempuan mampu membawa perubahan demi perikanan yang berkelanjutan dan pengembangan ekonomi pesisir yang lebih luas ke depannya.

Selamat Hari Perempuan Sedunia. Perempuan membawa perubahan baik!