oleh Muhammad Alzaki Tristi
Morotai– Bagi nelayan, perjalanan melaut bukan sekadar tentang membawa pulang hasil tangkapan. Di balik aktivitas mencari ikan, ada berbagai risiko yang harus dihadapi, mulai dari perubahan cuaca, gelombang, kecelakaan di atas kapal, hingga situasi darurat ketika bantuan tidak mudah dijangkau.
Kesadaran akan risiko tersebut perlahan tumbuh di kalangan kelompok nelayan Fair Trade USA di tiga Desa Sangowo, Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Bagi mereka, menjadi nelayan yang lebih baik bukan hanya tentang mendapatkan hasil tangkapan, tetapi juga tentang memastikan dapat kembali pulang dengan selamat.
Semangat itu terlihat dalam Pelatihan Keselamatan di Laut (Safety at Sea) yang diselenggarakan Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) bersama BASARNAS Kota Ternate, Kamis (6/8/2026). Bertempat di Aula Kantor Kecamatan Morotai Timur, kegiatan ini diikuti 56 nelayan dari tiga kelompok nelayan Fair Trade USA, yaitu Kelompok Nelayan Bakumote, Pomakirio, dan Porimoi.

Bagi kelompok-kelompok nelayan di Morotai, pelatihan ini menjadi ruang untuk belajar sekaligus melihat kembali kebiasaan mereka sebelum berangkat ke laut.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami. Kami belajar bahwa keselamatan harus dipersiapkan sebelum melaut, mulai dari membawa pelampung dan GPS hingga mempersiapkan diri menghadapi risiko di laut. Sebelumnya, persiapan keselamatan kami masih minim. Karena itu, kami berharap keselamatan menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas nelayan,” ujar Supriyanto Ali, Ketua Kelompok Nelayan Fair Trade USA Porimoi, Desa Sangowo Timur.

Dalam aktivitas penangkapan ikan, kesiapan menghadapi keadaan darurat sering kali baru terasa penting ketika insiden sudah terjadi. Karena itu, pelatihan ini tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga memperkenalkan nelayan pada keterampilan dasar yang dapat digunakan ketika menghadapi kondisi darurat di laut.
Bersama tim BASARNAS, para nelayan mempelajari pertolongan pertama dan penanganan korban kecelakaan di laut, navigasi menggunakan kompas dan GPS, serta teknik survival di laut dan darat. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana meminta bantuan ketika menghadapi situasi darurat.

Menurut Rescuer BASARNAS Kota Ternate, Alfin Ervanda, antusiasme nelayan selama pelatihan menjadi salah satu hal yang menonjol. Peserta aktif bertanya dan mengikuti praktik yang diberikan, menunjukkan keinginan untuk memahami cara menghadapi berbagai kondisi yang dapat mengancam keselamatan saat melaut.
“Antusiasme nelayan dalam pelatihan ini sangat tinggi. Mereka aktif bertanya dan mengikuti praktik tentang pertolongan pertama dan penanganan korban kecelakaan di laut, navigasi, serta survival. Kami berharap pengetahuan ini terus dikembangkan dan kegiatan sosialisasi keselamatan dilakukan secara rutin, karena masih banyak nelayan yang membutuhkan bekal untuk menghadapi berbagai risiko di laut,” kata Alfin.

Bagi Samsir Makatika, Ketua Komite Nelayan Fair Trade USA Morotai, kesempatan belajar langsung dari tim penyelamat memberikan pengetahuan baru yang sebelumnya belum banyak mereka dapatkan.
Baca juga: Rayakan 13 Tahun Perjalanan, MDPI Teguhkan Semangat “Berdaya Bersama”

“Pelatihan ini sangat penting bagi kami sebagai nelayan. Kami berterima kasih kepada MDPI yang telah memfasilitasi kegiatan ini, sehingga kami bisa belajar langsung dari tim BASARNAS tentang cara menghadapi insiden di laut, menolong korban, hingga penggunaan life jacket,” kata Samsir.
Pelatihan Safety at Sea merupakan bagian dari implementasi Standar Fair Trade USA yang mendorong peningkatan kapasitas nelayan secara berkelanjutan. Namun, bagi MDPI, keselamatan tidak semestinya dipandang hanya sebagai bagian dari persyaratan sertifikasi.
Aktivitas nelayan tuna handline memiliki risiko yang nyata. Mereka bekerja di lingkungan yang dinamis, dengan kondisi cuaca dan laut yang dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, pengetahuan mengenai keselamatan menjadi bagian penting dari upaya memastikan manfaat benar-benar dirasakan oleh nelayan.

“Bagi MDPI, keselamatan nelayan adalah prioritas. Berdasarkan risk assessment di berbagai wilayah Fair Trade USA, life jacket masih menjadi salah satu kebutuhan penting yang sering tidak dibawa nelayan,” jelas Andi Reza Zulkarnain, Fair Trade Officer MDPI.
Dalam kegiatan tersebut, MDPI juga membagikan life jacket dan obat-obatan kepada kelompok nelayan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan mereka.
“Keselamatan nelayan adalah prioritas. Karena itu, kami ingin memberikan awareness dan pemahaman secara menyeluruh agar nelayan terus memperhatikan keselamatan mereka di laut,” tambah Reza.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan MDPI yang tidak hanya mendampingi kelompok nelayan dalam memenuhi standar Fair Trade USA, tetapi juga mendorong perubahan praktik dan peningkatan kapasitas yang dapat diterapkan dalam aktivitas mereka sehari-hari.
Implementasi Fair Trade USA di Maluku Utara sendiri terus berkembang. Setelah sebelumnya diterapkan pada kelompok nelayan di wilayah lain, pada 2026 program ini diperluas ke Kabupaten Pulau Morotai dengan melibatkan 80 nelayan dari Desa Sangowo, Sangowo Barat, dan Sangowo Timur.

Bagi kelompok yang sedang membangun fondasi organisasinya, proses continuous improvement dalam Fair Trade USA dapat menjadi ruang untuk terus belajar dan memperbaiki praktik. Keselamatan menjadi salah satu bagian penting dari proses tersebut.
Lebih dari sekadar mengetahui cara memakai life jacket atau membaca GPS, para nelayan mulai memahami bahwa keselamatan harus dipersiapkan bahkan sebelum kapal meninggalkan pantai.

Kesadaran seperti inilah yang diharapkan terus tumbuh. Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah perikanan yang bertanggung jawab tidak hanya diukur dari ikan yang berhasil ditangkap atau standar yang berhasil dipenuhi, tetapi juga dari seberapa baik nelayan mampu melindungi dirinya ketika menjalankan pekerjaannya.

Di Morotai, langkah itu sedang dibangun bersama. Nelayan belajar, kelompok memperkuat kapasitas, dan MDPI bersama BASARNAS hadir untuk memastikan pengetahuan tentang keselamatan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi ikut dibawa dalam setiap perjalanan mereka ke laut.
Buku ini disusun untuk mempermudah identifikasi spesies hewan ERS dan ETP yang
berinteraksi dengan nelayan selama aktivitas penangkapan tuna berlangsung. Semua
sumber ilustrasi gambar dan informasi pada buku ini telah dicantumkan pada daftar
referensi.
Kisah dari kampung nelayan kecil di 5 provinsi (NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara) diceritakan oleh masyarakat dampingan dan para pendamping MDPI. Mimpi besar untuk menjangkau lebih luas masyarakat pesisir dengan berupaya pada peningkatan kesejahteraan nelayan kecil melalui pengembangan kapasitas, membangun kemandirian, dan ketahanan ekonomi serta memperkuat institusi lokal demi mendukung perikanan berkelanjutan. Banyak pengalaman inspiratif, cerita sukses, kendala, kritikan, rasa bangga dan haru bercampur aduk dikisahkan dalam buku ini.
Penulis:
Gede Sughiarta, Nilam Ratna, Arroyan Suwarno, Alief Dharmawan,
Adjie Dharmasatya, Hairul Hadi, Muhammad Taeran, Muh. Alwi, Sahril,
Siti Zuleha, Sri Jalil, Hizran Sampalu, Karel Yerusa, Novita Ayu Wulandari,
M. Subhan Moerid.
Penyunting:
Gede Sughiarta, Arroyan Suwarno, Nilam Ratna, Alief Dharmawan
Desain/Layout:
Gede Sughiarta
Foto:
Yayasan MDPI, Gede Sughiarta
Illustrasi:
Panca Kumara