CPIB di Buru, Nelayan Belajar Cara Menjaga Kualitas Tangkapan Untuk Diekspor

by Aqidah Nurul Wahidah

Plastik yang menjadi bungkus produk dicuci dan dikeringkan sebagai prosedur penanganan limbah pabrik.

Tuna adalah penyumbang nilai ekspor terbesar kedua untuk Indonesia. Di Indonesia, tuna dapat ditemukan di perairan selatan Pulau Jawa hingga perairan timur Indonesia. Atas dasar fakta ini, MDPI bermisi untuk membangun kapasitas nelayan dan kualitas tangkapannya

Salah satu wilayah Indonesia dengan potensi tuna melimpah berada di Pulau Buru, Maluku. Nelayan Buru telah melakukan penangkapan tuna secara turun temurun menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan, yaitu pancing ulur tuna. Nilai jual yang tinggi menjadikan tuna sumber pemasukan utama bagi banyak warga Buru.

Sayangnya, banyak nelayan Buru yang tidak tahu cara menjaga kualitas tuna yang, jika menurun dan tidak dapat diperbaiki lagi, sangat mempengaruhi harga jualnya.

Masalah ini mendorong MDPI untuk memfasilitasi nelayan mempelajari cara penanganan ikan yang baik dengan berkunjung ke pabrik pemrosesan ikan. Dalam kunjungan ini, nelayan dapat mengobservasi teknik penanganan ikan untuk mempertahankan kualitas.

Proses penanganan

Pada Juli 2023, MDPI mengajak 14 anggota kelompok-kelompok nelayan Buru mengunjungi unit pengolahan ikan PT Harta Samudra (Harsam). Harsam adalah salah satu perusahaan pemasok tuna yang bekerja sama dengan nelayan lokal. Mereka menerapkan praktik pengadaan sumber daya tuna yang bertanggung jawab untuk ekspor ke lebih dari 10 negara.

Sebelum masuk ke dalam ruangan penanganan, nelayan diajarkan praktik kebersihan dan keamanan dalam penanganan ikan. Mereka menanggalkan beberapa atribut pribadi, mengenakan alat pelindung diri, dan melewati proses sterilisasi personel.

Nelayan melihat bagaimana tuna mereka diproses melalui tahap-tahap yang ketat. Tuna yang sudah menjadi loin dikepris (trim), ditimbang, dan diberi kode ketelusuran dengan teknologi TraceTales™. Loin yang sudah dilabel akan melewati proses pembersihan, pemotongan, uji laboratorium, dan penyimpanan sebelum diekspor.

Staf pemrosesan menggunakan TraceTales™ untuk melabeli produk dengan kode ketelusuran.

Oei Eng San, pimpinan perusahaan Harsam cabang Kabupaten Buru, menyambut antusiasme nelayan dengan baik. “Kunjungan ini akan menciptakan keterbukaan antara nelayan dan perusahaan terkait penanganan ikan yang ada di dalam PT Harta Samudra,” ungkapnya.

Selain itu, Oei juga berharap agar ke depannya kualitas ikan dapat menjadi fokus utama oleh nelayan dan pemasok.               Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas ikan dari hulu ke hilir, sampai ke tangan konsumen.

Baca juga: MDPI, Anova, and Harta Samudra Receives Innovation Award 2019 for TraceTales.

Pembelajaran

Sugen Kapoa nelayan tuna KN Latamiha.

Sugen Kapoa, anggota Kelompok Nelayan Latamiha, mengaku senang hasil jerih payahnya ditangani dengan baik sebelum disajikan kepada konsumen. Kunjungan itu memberinya semangat untuk semakin berhati-hati dalam menangani tangkapannya. “Saya semakin sadar betapa pentingnya menjaga kualitas ikan di lapangan,” ujarnya.

Rustam Tuharea, nelayan dan Ketua Komite Fair Trade Buru.

Rustam Tuharea, Ketua Komite Nelayan Fair Trade Buru, juga menyampaikan rasa syukurnya setelah melihat hasil tangkapannya diproses sesuai standar ekolabel. Ia belajar beberapa teknik menghindari penurunan kualitas ikan. Rustam pun berharap pembelajaran ini dapat membuka mata  dan meningkatkan rasa percaya antara nelayan dan pemasok.

Sepulang dari kunjungan ini, 14 nelayan berkomitmen untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka kepada anggota kelompoknya yang lain. Hal ini dilakukan agar terdapat pemerataan pengetahuan dalam menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan.