oleh Reno Nanda Pratama
Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah iklan yang menawarkan paket recreational fishing dan spearfishing (memanah ikan) dengan harga yang tidak murah. Aktivitas itu dipromosikan sebagai pengalaman petualangan yang memacu adrenalin, lengkap dengan dokumentasi foto dan video yang siap dibagikan di media sosial.
Tapi di Pulau Buru, Maluku, saya bertemu dengan orang-orang yang melakukan aktivitas serupa hampir setiap hari. Mereka tidak menyebutnya olahraga, tidak menggunakan peralatan mewah, dan tidak mengejar dokumentasi untuk media sosial. Bagi mereka, spearfishing adalah pekerjaan dan sumber penghidupan keluarga.
Kesempatan bertemu dengan para nelayan spearfishing ini datang saat saya mendampingi tim MDPI dalam asesmen awal program penguatan partisipasi masyarakat untuk pengelolaan kawasan konservasi pesisir di Pulau Buru. Di Desa Waprea dan Wailihang, saya berbincang dengan Ridwan Umanailo, Randi Tukang, Juliansya Malaka, dan sejumlah nelayan lainnya yang setiap malam menghabiskan waktu berjam-jam di bawah permukaan laut.
Dari mereka, saya tidak hanya belajar tentang teknik berburu ikan menggunakan panah, tetapi juga tentang pengalaman panjang berinteraksi dengan laut yang membentuk pengetahuan ekologis yang berharga bagi upaya konservasi.
Menjadi nelayan spearfishing membutuhkan pemahaman mendalam mengenai perilaku ikan, kondisi perairan, dan kemampuan mengelola tenaga saat menyelam. Menariknya, sebagian besar aktivitas berburu dilakukan setelah matahari terbenam.
Menurut Juliansya dan rekan-rekannya, malam hari merupakan waktu yang paling efektif untuk berburu. Dalam kondisi gelap, banyak ikan cenderung lebih tenang. Ketika terkena sorotan cahaya senter, ikan sering kali berhenti bergerak sejenak sehingga lebih mudah didekati.
Untuk mendukung mobilitas di sela-sela terumbu karang, para nelayan menggunakan speargun berukuran lebih pendek. Selain lebih lincah digunakan di ruang yang sempit, ukuran tersebut juga membantu menghemat tenaga saat harus berulang kali menarik karet pelontar selama berjam-jam di dalam air.
Ada pula teknik unik yang mereka gunakan untuk menarik perhatian ikan. Dengan menekan udara di rongga tenggorokan, nelayan menghasilkan suara tertentu yang dipercaya dapat memancing rasa penasaran ikan sehingga mendekat ke arah sumber suara. Hal ini ternyata juga dipraktikan oleh para spearfishing lainnya, seperti di video berikut:
Sumber: Akun Instagram (ahmedkotry7)
Sebaliknya, berburu pada siang hari memerlukan pendekatan berbeda. Ikan dapat melihat pergerakan penyelam dengan lebih jelas sehingga cenderung lebih waspada. Untuk kondisi ini, nelayan menggunakan panah yang lebih panjang dengan jangkauan tembak yang lebih jauh.
Perbedaan cara berburu tersebut juga melahirkan spesialisasi di kalangan nelayan. Ada yang fokus memburu ikan, sementara yang lain lebih sering mencari lobster di celah-celah terumbu karang.
“Kalau mencari ikan, mata harus terus memperhatikan kolom air. Kalau mencari lobster, fokusnya justru ke lubang-lubang karang. Sulit dilakukan bersamaan,” ujar Randi Tukang
Spesialisasi ini turut memengaruhi pola pemasaran hasil tangkapan. Ikan konsumsi berukuran sedang biasanya dijual langsung kepada masyarakat desa, sedangkan ikan bernilai ekonomi tinggi seperti kakap merah, kerapu, bubara, dan tenggiri dikirim ke Namlea yang menawarkan harga pasar lebih baik.
Oleh karena itu, bagi para nelayan, keberhasilan satu malam melaut sering kali menentukan pendapatan keluarga untuk hari berikutnya.

Sebagian besar nelayan spearfishing yang saya temui belajar secara otodidak. Mereka tidak pernah mengikuti pelatihan freediving formal atau memiliki sertifikasi menyelam. Namun kemampuan mereka beradaptasi dengan laut terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun.
Tanpa bantuan tabung oksigen, beberapa nelayan mampu menyelam hingga kedalaman puluhan meter untuk mengejar target tangkapan. Mereka juga terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam di dalam air setiap kali melaut.
Randi Tukang bercerita bahwa dalam satu malam ia bisa berada di laut hingga lima jam, biasanya dibagi menjadi dua sesi penyelaman. Targetnya sederhana, membawa pulang hasil tangkapan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Peralatan yang mereka gunakan pun berkembang seiring waktu. Dahulu, banyak nelayan hanya mengandalkan speargun rakitan sederhana dan senter kepala yang dimodifikasi agar tidak kemasukan air.
“Saya sudah berkali-kali kehilangan senter karena pecah di bawah air,” kenang Juliansya sambil tertawa.
Selain itu, kini sebagian besar nelayan telah menggunakan perlengkapan yang lebih memadai, mulai dari wetsuit, masker, snorkel, fins, hingga lampu selam khusus. Nilai investasi peralatan tersebut dapat mencapai lebih dari Rp10 juta per orang, jumlah yang cukup besar bagi nelayan skala kecil.

Peralatan sprearfishing milik Randi Tukang dengan speargun pendek untuk memanah di malam hari.
Meski terlihat tenang dari permukaan, aktivitas spearfishing menyimpan berbagai risiko.
Salah satu yang paling sering dihadapi adalah dampak tekanan air saat menyelam terlalu dalam. Ridwan Umanailo pernah kehilangan pendengaran pada salah satu telinganya selama beberapa bulan akibat masalah yang terjadi saat penyelaman.
Di sisi lain, pengalaman tersebut justru melahirkan kepercayaan lokal di kalangan nelayan.
“Kalau sudah pernah kena telinga pica, katanya nanti menyelam jadi lebih mudah,” ujarnya sambil tersenyum.
Di balik candaan itu, saya melihat bagaimana risiko telah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Ancaman lain datang dari satwa liar. Selain hiu yang tertarik pada ikan hasil tangkapan, perairan Pulau Buru juga dikenal sebagai habitat buaya air asin.
Karena itu, sebelum turun ke air pada malam hari, para nelayan biasanya menyapu permukaan laut dengan cahaya senter. Jika terlihat pantulan sepasang mata di kejauhan, mereka akan memilih berpindah lokasi.
Pengalaman menghadapi hiu juga membentuk berbagai strategi keselamatan. Hasil tangkapan tidak diikat langsung ke tubuh, melainkan disimpan dalam kotak styrofoam yang ditarik menggunakan tali di belakang penyelam. Cara sederhana ini membantu mengurangi risiko ketika predator tertarik oleh aroma darah ikan.
Bagi para nelayan, kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan cepat sering kali sama pentingnya dengan kemampuan memanah ikan.
Baca juga: 4 Hal yang Dapat Dilakukan untuk Memaksimalkan Program Kampung Nelayan Merah Putih
Semakin lama saya berbincang dengan para nelayan, semakin jelas bahwa hubungan mereka dengan laut tidak hanya sebatas mencari nafkah.
Menghabiskan waktu berjam-jam di bawah air membuat mereka mengenali perubahan kondisi lingkungan dengan sangat baik. Mereka tahu lokasi karang yang sehat, area yang mulai mengalami kerusakan, hingga musim kemunculan berbagai jenis ikan.
Ridwan menjelaskan bahwa mereka berusaha menghindari kerusakan karang saat menyelam. Menurutnya, terumbu karang membutuhkan waktu lama untuk pulih apabila patah atau rusak.
Kesadaran menjaga terumbu karang juga terlihat dari kebiasaan yang dilakukan sebagian nelayan pemanah saat berada di bawah air. Ridwan bercerita bahwa mereka kerap mengangkat sampah kain, potongan tali, maupun jaring bekas yang tersangkut di karang ketika menemukannya saat berburu.
Awalnya tindakan itu dilakukan karena alasan praktis. Sampah kain dan jaring yang terlilit di karang sering mengganggu pergerakan nelayan ketika berenang atau membidik ikan. Namun seiring waktu, mereka juga memahami bahwa sampah-sampah tersebut dapat menutupi permukaan karang dan menghambat pertumbuhannya.
Bagi para nelayan yang menghabiskan banyak waktu di bawah permukaan laut, kondisi terumbu karang yang sehat bukan hanya penting bagi ekosistem, tetapi juga menentukan keberadaan ikan yang menjadi sumber penghidupan mereka. Karena itu, ketika menemukan sampah yang memungkinkan untuk diangkat, mereka biasanya akan membawanya kembali ke daratan.
Selain itu, mereka juga cenderung menghindari menangkap ikan yang masih berukuran kecil.
“Kalau masih kecil, biasanya kami biarkan dulu. Dagingnya juga belum banyak,” katanya.
Prinsip serupa berlaku ketika mereka menemukan lobster yang sedang membawa telur. Dalam beberapa kasus, nelayan memilih membiarkannya tetap hidup demi menjaga keberlanjutan populasi.
Praktik-praktik tersebut lahir bukan dari pelatihan formal, melainkan dari pengalaman panjang yang mengajarkan bahwa keberlangsungan penghidupan mereka sangat bergantung pada kesehatan ekosistem laut.
Berikut salah satu praktik sparefishing yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Kabupaten Buru:
Melalui metode spearfishing, nelayan secara langsung memilih target tangkapan satu per satu. Tidak ada jaring yang menyapu seluruh area atau alat tangkap yang menangkap berbagai spesies sekaligus. Setiap keputusan dilakukan secara sadar di bawah permukaan laut.
Kesadaran ini pula yang membuat mereka sering menolak praktik penangkapan ikan yang merusak. Beberapa nelayan bercerita masih menemukan pelaku destructive fishing yang menggunakan bahan kimia untuk melumpuhkan ikan.
Menurut mereka, praktik tersebut tidak hanya merugikan nelayan lain, tetapi juga mengancam keberlanjutan sumber daya laut yang menjadi tumpuan hidup masyarakat pesisir.
Baca juga: Ujung Tombak yang Berjiwa: Tantangan dan Perjuangan Pekerja Lapangan
Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Pulau Buru yang ditetapkan pemerintah mencakup wilayah pesisir yang sangat penting bagi keanekaragaman hayati laut. Di dalamnya terdapat habitat terumbu karang, berbagai jenis ikan, serta kawasan yang menjadi lokasi penting bagi satwa lain seperti penyu dan burung maleo.
Namun bagi masyarakat Waprea dan Wailihang, kawasan tersebut bukan sekadar batas-batas pada peta. Laut adalah ruang hidup yang mereka kenal melalui pengalaman sehari-hari.
Mereka mengetahui lokasi ikan berkumpul, area yang mulai mengalami tekanan, hingga perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Pengetahuan yang lahir dari pengalaman tersebut dikenal sebagai Local Ecological Knowledge atau pengetahuan ekologis lokal.
Bagi MDPI, pengetahuan ini merupakan modal penting dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang efektif dan berkelanjutan.
Pengalaman di Pulau Buru kembali mengingatkan bahwa konservasi tidak dapat berjalan hanya melalui kebijakan atau pendekatan dari atas ke bawah. Upaya menjaga laut membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat yang setiap hari bergantung pada sumber daya pesisir dan laut.
Karena itu, asesmen yang dilakukan MDPI tidak hanya bertujuan memahami kondisi sosial dan ekologis di lapangan, tetapi juga mengidentifikasi individu dan kelompok masyarakat yang berpotensi menjadi mitra strategis dalam menjaga kawasan pesisir.
Malam terakhir saya berada di Waprea, beberapa titik cahaya kembali bergerak perlahan di atas permukaan laut yang gelap. Dari kejauhan, cahaya-cahaya itu tampak sederhana. Namun di baliknya ada orang-orang yang mengenal laut sebagai ruang hidup, sumber penghidupan, sekaligus warisan yang ingin mereka jaga.
Saat itulah saya menyadari bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari ruang rapat atau dokumen kebijakan. Kadang ia tumbuh dari pengalaman sehari-hari orang-orang yang hidup berdampingan dengan laut, memahami setiap perubahan yang terjadi, dan memiliki kepentingan terbesar untuk memastikan laut tetap lestari bagi generasi berikutnya.
Terumbu karang di depan Desa Waprea.
Buku ini disusun untuk mempermudah identifikasi spesies hewan ERS dan ETP yang
berinteraksi dengan nelayan selama aktivitas penangkapan tuna berlangsung. Semua
sumber ilustrasi gambar dan informasi pada buku ini telah dicantumkan pada daftar
referensi.
Kisah dari kampung nelayan kecil di 5 provinsi (NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara) diceritakan oleh masyarakat dampingan dan para pendamping MDPI. Mimpi besar untuk menjangkau lebih luas masyarakat pesisir dengan berupaya pada peningkatan kesejahteraan nelayan kecil melalui pengembangan kapasitas, membangun kemandirian, dan ketahanan ekonomi serta memperkuat institusi lokal demi mendukung perikanan berkelanjutan. Banyak pengalaman inspiratif, cerita sukses, kendala, kritikan, rasa bangga dan haru bercampur aduk dikisahkan dalam buku ini.
Penulis:
Gede Sughiarta, Nilam Ratna, Arroyan Suwarno, Alief Dharmawan,
Adjie Dharmasatya, Hairul Hadi, Muhammad Taeran, Muh. Alwi, Sahril,
Siti Zuleha, Sri Jalil, Hizran Sampalu, Karel Yerusa, Novita Ayu Wulandari,
M. Subhan Moerid.
Penyunting:
Gede Sughiarta, Arroyan Suwarno, Nilam Ratna, Alief Dharmawan
Desain/Layout:
Gede Sughiarta
Foto:
Yayasan MDPI, Gede Sughiarta
Illustrasi:
Panca Kumara