Ujung Tombak yang Berjiwa: Tantangan dan Perjuangan Pekerja Lapangan

oleh Ida Ayu Adnyani

Artikel ini merupakan refleksi dari HR & GA Coordinator MDPI terkait kinerja organisasi di lapangan. Penulisan menggunakan sudut pandang praktisi manajemen sumber daya manusia yang ditujukan untuk pembaca umum dan anggota internal MDPI.

Umar Papalia, seorang nelayan asal Kabupaten Buru, Maluku, pernah memendam keraguan yang mendalam. Baginya, organisasi masyarakat sipil (OMS) kerap kali hanya hadir untuk “memanfaatkan” nelayan. Krisis kepercayaan itu melekat kuat, hingga pada tahun 2013, pertemuannya dengan Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) perlahan mengubah segalanya. Melalui implementasi standar Fair Trade USA, Umar mulai merasakan dampak nyata.

“Awalnya saya enggan menjalankan standar Fair Trade USA. Namun setelah melihat (hasilnya), saya sadar sertifikasi ini tidak main-main. Kami bisa membeli pisau tahan karat, mesin kapal, bahkan membuka tabungan pendidikan anak,” kisahnya dalam dokumenter Temali (2024).

Kisah Umar adalah salah satu wujud nyata dari kerja keras tim lapangan MDPI. Di balik riuh gelombang dan embusan angin laut, mereka hadir bukan sekadar untuk mengisi buku laporan dan data, melainkan menjadi “ujung tombak” yang mengukir cerita, tawa, dan harapan bersama masyarakat pesisir.

Berdaya, Menginspirasi, dan Terus Berkembang

MDPI berpartisipasi dalam upacara desa yang diselenggarakan oleh masyarakat pesisir Kabupaten Karangasem; sebuah ungkapan syukur atas terlaksananya implementasi pengembangan masyarakat adat di awal 2026.

Saat menginjakkan kaki di desa pesisir, misi utama yang dibawa MDPI adalah menjadikan masyarakat lebih berdaya. Tim tidak hanya membagikan ilmu teoretis, tetapi juga membuka akses terhadap informasi dan perbaikan fasilitas perikanan. Mereka mengajak nelayan berdiskusi, mencatat hasil tangkapan, hingga membangun kelompok guna memperkuat resiliensi di tengah struktur sosial-ekonomi yang acap kali tidak stabil.

Proses ini tentu menantang untuk menghadapi keseharian nelayan yang lelah, dan staf lapangan perlu terus berupaya menginspirasi, serta menumbuhkan optimisme bahwa semangat gotong-royong di tingkat akar rumput mampu menjadi solusi atas segala keterbatasan.

Alam dan budaya lokal juga menempa staf untuk terus berkembang. Mereka belajar bahasa setempat, memahami adat, dan menyesuaikan strategi. Di Desa Seraya Timur, Bali, misalnya, pendekatan perbaikan perikanan diselaraskan dengan nilai lokal “bendega” agar lebih mudah diterima dan dijalankan. Ketika pendekatan yang adaptif ini membuahkan hasil, rasa bangga hadir melampaui nilai materi—terutama ketika staf melihat nelayan binaan yang dulu kesulitan, kini perlahan berkembang menjadi lebih mandiri.

Keberhasilan yang terus muncul membuat kami termotivasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab, staf MDPI di lapangan tidak hanya termotivasi oleh upah, tetapi juga rasa bangga melihat data, dampak, dan daya masyarakat dampingan.

Tantangan

Kami belajar bahwa pengabdian staf lapangan melampaui hambatan fisik yang terlihat. Lebih dalam, terdapat tantangan mental dan kecerdasan emosional yang kasat mata:

  • Tantangan Emosional dan Sosial: Pekerja lapangan seringkali menjadi penengah dalam konflik antar nelayan atau kelompok. Ada beban emosional berasal dari paparan konflik dan tuntutan netralitas sebagai representatif organisasi.
  • Kesenjangan Ekspektasi: Staf lapangan seringkali dianggap “seseorang yang menyelesaikan masalah” oleh masyarakat, ini dapat menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis. Mereka harus bisa mengelola harapan ini dengan bijak, menjelaskan batasan, dan tetap memberikan pendampingan yang efektif dan profesional.
  • Isolasi dan Keterbatasan Koneksi: Saat hidup jauh dari keluarga. Ketangguhan mengatasi rasa sepi dan membangun dukungan dari sesama staf atau masyarakat setempat harus dibangun.
  • Menjaga Kepercayaan: Sebagai perwakilan MDPI, setiap staf adalah cerminan dari seluruh organisasi. Menjaga sikap yang baik dan etika kerja yang tinggi adalah investasi terpenting.

Di tengah semua itu, kami tetapĀ termotivasi untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab karena rasa bangga melihat perkembangan daya masyarakat dampingan.

Saran dan Dukungan

Seorang staf MDPI jauh bertugas di Kabupaten Morotai (kiri), sedang memandu nelayan (kanan) mencatat aktivitas melautnya secara digital.

Untuk menghadapi tantangan dan kendala, staf perlu meregulasi hal-hal berikut:

  • Menjaga Kesehatan Mental: Luangkan waktu untuk istirahat, hobi, atau berkomunikasi dengan orang terdekat. Lakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan untuk menjaga keseimbangan.
  • Bangun Jaringan Dukungan Internal: Para staf lapangan adalah tim. Saling berbagi cerita, tantangan, dan keberhasilan akan memperkuat mental dan rasa kebersamaan.
  • Rayakan Kemenangan Kecil: Jangan hanya fokus pada tujuan besar. Apresiasi diri dan tim akan menambah motivasi.
  • Terapkan Batasan Profesional: Meskipun menjadi bagian dari keluarga nelayan, penting untuk menetapkan batasan yang sehat untuk menjaga objektivitas dan menghindari kelelahan emosional.
  • Tetap Amanah: Kepercayaan masyarakat pesisir, donor, mitra, dan publik adalah aset paling berharga.

 

Apresiasi Kepada Tombak Inspirasi

Hampir 13 tahun MDPI hadir di tengah masyarakat pesisir, menjadikan kepercayaan dan komitmen sebagai fondasi kerja yang hangat. Pendekatan kekeluargaan yang terbangun telah memicu transformasi besar: mengubah cara pandang nelayan dari sekadar melaut untuk menyambung hidup hari ini, menjadi peduli pada keberlanjutan perikanan demi masa depan.

Keberhasilan luar biasa ini tentu lahir dari sinergi yang kuat, kerjasama tim yang diibaratkan seperti Sang Pelempar dan Ujung Tombaknya. Yayasan bertindak sebagai Sang Pelempar yang menetapkan arah dan sasaran strategis, sementara staf lapangan adalah ujung tombaknya yang melesat terjun langsung ke masyarakat. Agar tetap tajam dan akurat, setiap ujung tombak ini tentu membutuhkan asahan berupa dukungan, pembekalan, serta kepercayaan penuh.

Terima kasih atas segala dedikasi dan kerja keras yang telah dicurahkan. Mari terus melangkah menuju harapan terbesar: menciptakan masa depan di mana nelayan dapat berdiri tegak secara berdikari. Sebab, keberhasilan sejati bukanlah ketika kita terus menopang, melainkan ketika MDPI telah bertransformasi dari seorang pendamping menjadi mitra yang setara bagi masyarakat pesisir yang berdaya.