oleh Adjie Dharmasatya
Peran perempuan dalam perikanan skala kecil menjadi fokus utama keikutsertaan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) dalam Konferensi Gender in Aquaculture and Fisheries (GAF9) yang diselenggarakan di Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand, pada 1–3 Oktober 2025. Forum ini menjadi ruang penting untuk berbagi sekaligus belajar tentang dinamika gender dalam sektor perikanan dan akuakultur.
Dalam forum ilmiah internasional ini, MDPI membawa pengetahuan dan pembelajaran dari lapangan melalui presentasi tiga artikel jurnal dan satu poster penelitian. Seluruh produk pengetahuan tersebut bersumber dari pengalaman nyata masyarakat pesisir dampingan MDPI, tentang keterlibatan perempuan dalam ranah keluarga, sosial, hingga ekonomi desa. Lokasi penelitian mencakup wilayah yang beragam, mulai dari Kelurahan Toro di Tanete Riattang Timur, Desa Seruni Mumbul di Lombok Timur, hingga Kabupaten Buru, Buru Selatan, dan Maluku Tengah di Provinsi Maluku.
Partisipasi MDPI di GAF9 dilatarbelakangi tujuan antara lain: memperluas jangkauan jejaring dalam forum ilmiah internasional, mengangkat pengetahuan berbasis komunitas dengan pendekatan ilmu sosial yang minim bias, mempelajari praktik baik (best practices) dan pembelajaran lintas konteks dari wilayah lain, serta membuka peluang kolaborasi baru termasuk dengan calon donatur dalam pengembangan produk pengetahuan di masa depan.
Baca juga: Rumpon Ilegal di Maluku: Ketika Kekosongan Aturan Mengancam Nelayan Skala Kecil dan Stok Tuna
Bersama lebih dari sepuluh kontingen dari Indonesia yang berasal dari kalangan akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga BRIN, MDPI turut menyumbangkan perspektif dari perikanan skala kecil, khususnya terkait peran perempuan dalam aktivitas penangkapan, pascapanen, kelembagaan bisnis, dan pengelolaan sumber daya perikanan.

Sesi Presentasi: Gender in Fisheries: Contextual Understanding of Gender-Based Labor Divisions among Tuna Fishing Communities in Maluku

Artikel ini menjadi salah satu proyek riset terbesar MDPI sepanjang 2025. Penelitian melibatkan lebih dari 480 pasangan suami-istri nelayan tuna di tujuh desa di Kabupaten Buru dan Maluku Tengah sebagai partisipan penelitian. Fokusnya adalah memahami dinamika pembagian peran dan pengambilan keputusan berbasis gender dalam perikanan tuna skala kecil.
“Pengambilan keputusan berbasis gender tidak sesederhana yang sering kita bayangkan,” ungkap Maman, salah satu peneliti. Menurutnya, faktor sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan sosial-ekologi saling terkait dan membentuk pola relasi antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga nelayan.
Ke depan, penelitian ini diharapkan mampu mengukur kontribusi perempuan tidak hanya dari aspek finansial. “Peran perempuan di luar konteks ekonomi seringkali tak terlihat, padahal sangat krusial bagi keberlanjutan perikanan tuna,” tegasnya.
Sesi Presentasi: Revisiting Gender Roles in Fisheries: A Case Study of the Segare Harapan Jaya Cooperative

Berbeda dari riset sebelumnya, studi kasus ini menyoroti peran perempuan dalam koperasi nelayan di Lombok Timur. Meski perempuan belum menempati posisi manajerial koperasi, kontribusi mereka dalam pengelolaan pascapanen terbukti signifikan.
Dengan pengelolaan yang konsisten oleh istri nelayan, omzet koperasi tumbuh rata-rata 32 persen per tahun sepanjang 2021–2024. Namun, absennya perempuan dalam posisi strategis tetap menjadi indikasi kuat adanya bias struktural yang membatasi peran perempuan dalam ranah pengambilan keputusan.
Sesi Presentasi: Understanding the Meaning of Shifting Roles in SSF Business Institutions: Empowering Fishers’ Wives in Toro Village

Artikel ini mengangkat pengalaman istri nelayan di Desa Toro yang menjalani peran baru sebagai pemimpin dan pengelola kelembagaan bisnis, seperti koperasi nelayan. Penelitian ini merekam proses perubahan peran, tantangan yang dihadapi, serta dampak pemberdayaan terhadap kapasitas dan kondisi ekonomi partisipan.
“Saya rasanya seperti menjalani dunia baru,” ungkap salah satu partisipan yang diteliti. Ungkapan ini menjadi kunci pembacaan riset, karena pemberdayaan ekonomi membuka akses, relasi, pengakuan, dan kompetensi yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh para istri nelayan.
Namun, riset ini juga mencatat sisi lain yang sering luput: peran baru di ranah publik justru menambah beban kerja perempuan, karena pekerjaan domestik tetap sepenuhnya ditanggung oleh mereka. Temuan ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan perlu dibarengi dengan pelibatan laki-laki, terutama dalam pembagian kerja rumah tangga.
Sesi Presentasi: Nurturing Behaviour Change for Inclusive Blue Economy: A Case Study from Bone, Indonesia

Bersama kelompok pengolah dan pemasar (Poklahsar) Mama Tuna Mandiri (MATUMA) di Kelurahan Toro, MDPI mendampingi pengembangan usaha kecil berbasis perempuan pesisir. Pendampingan ini bertujuan menciptakan sumber pendapatan baru bagi keluarga nelayan.
Dengan menggunakan kerangka COM-B model, penelitian ini memetakan perubahan perilaku perempuan setelah pendampingan intensif. Salah satu perubahan signifikan adalah munculnya peran baru sebagai pelaku dan pengelola usaha. Dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga meningkatnya self-worth dan posisi tawar perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga.
“Anak perempuan saya diterima di salah satu universitas terbaik di Sulawesi Selatan. Saya perlu waktu untuk meyakinkan suami agar mengizinkan dia kuliah jauh dari rumah. Akhirnya kami sepakat, dan biaya kuliahnya berasal dari hasil usaha ini,” cerita salah satu partisipan.
Melihat Sesi Presentasi Salah Satu Dewan Pengawas MDPI: Engendering Community-Based Marine Conservation Area in Banda Islands, Indonesia

“Saya senang sekali, tahun ini jadi tahun paling banyak kontingen Indonesia yang ikut GAF. Artinya, semakin banyak pihak yang mulai sadar pentingnya isu gender di perikanan skala kecil,” ujar Ria Fitriana, salah satu presenter di GAF9.
Melalui penelitiannya di Kepulauan Banda, Ria menjelaskan bahwa praktik konservasi berbasis kearifan lokal seperti Sasi telah lama dijalankan. Namun, peran perempuan sebagai pengambil keputusan dalam konteks adat tersebut masih sangat terbatas. Minimnya keterlibatan perempuan dipengaruhi oleh beberapa faktor: belum adanya perempuan dalam posisi kepemimpinan adat, rendahnya kepercayaan diri di ruang publik, serta terbatasnya akses pengetahuan terkait pengelolaan sumber daya laut.
Ia menegaskan bahwa konservasi yang adil dan berkelanjutan tidak mungkin terwujud tanpa pelibatan perempuan. “Dengan memperkuat kapasitas perempuan, meningkatkan kesadaran akan kesetaraan gender, dan membuka ruang partisipasi bagi perempuan adat, pengelolaan laut yang lebih inklusif dapat didorong,” jelasnya.
Refleksi perjalanan dan pembelajaran
Rangkaian penelitian yang dibagikan MDPI di GAF9 menegaskan bahwa perempuan pesisir bukan sekadar pendukung, melainkan aktor penting dalam perubahan perikanan skala kecil. Dari Banda hingga Bone, dari Lombok hingga Maluku, perempuan hadir sebagai pengelola usaha, pelaku pascapanen, pemimpin informal, dan pengambil keputusan keluarga.
Di sisi lain, tantangan masih nyata: beban ganda, keterbatasan akses ke ruang publik, serta minimnya keterwakilan perempuan dalam posisi strategis. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pelatihan atau modal, tetapi harus menyasar perubahan nilai dan struktur sosial.
Temuan-temuan ini menegaskan bahwa peran perempuan dalam perikanan skala kecil bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penting bagi keberlanjutan sosial, ekonomi, dan ekologi pesisir.
Baca juga: Dari Tepian ke Laut: Perempuan dan Peran Strategis dalam Kehidupan Komunitas Nelayan Lombok Timur
Penutup
Pemberdayaan perempuan di sektor perikanan perlu melampaui partisipasi menuju kepemimpinan. Organisasi masyarakat sipil, lembaga riset, pemerintah, dan sektor swasta perlu bersama-sama menciptakan ruang yang aman dan suportif bagi perempuan untuk mengambil peran strategis di koperasi, kelompok usaha, maupun forum pengelolaan sumber daya laut.
Namun, perubahan yang berkeadilan tidak akan tercapai tanpa pelibatan laki-laki. Selama beban domestik masih ditanggung satu pihak, kesetaraan akan tetap timpang. Akuntabilitas ekonomi dan rumah tangga perlu dibangun secara kolektif.
GAF9 menjadi pengingat bahwa setiap cerita dari lapangan adalah pijakan menuju laut yang lebih inklusif. Dengan membangun pengetahuan dari komunitas, mendengarkan suara perempuan, dan menumbuhkan kesadaran bersama, kita bergerak ke arah masa depan perikanan yang adil dan berkelanjutan.
Penguatan peran perempuan dalam perikanan skala kecil perlu diarahkan tidak hanya pada partisipasi, tetapi juga kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
“Laut yang adil, dimulai dari perempuan yang berdaya”
Buku ini disusun untuk mempermudah identifikasi spesies hewan ERS dan ETP yang
berinteraksi dengan nelayan selama aktivitas penangkapan tuna berlangsung. Semua
sumber ilustrasi gambar dan informasi pada buku ini telah dicantumkan pada daftar
referensi.
Kisah dari kampung nelayan kecil di 5 provinsi (NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara) diceritakan oleh masyarakat dampingan dan para pendamping MDPI. Mimpi besar untuk menjangkau lebih luas masyarakat pesisir dengan berupaya pada peningkatan kesejahteraan nelayan kecil melalui pengembangan kapasitas, membangun kemandirian, dan ketahanan ekonomi serta memperkuat institusi lokal demi mendukung perikanan berkelanjutan. Banyak pengalaman inspiratif, cerita sukses, kendala, kritikan, rasa bangga dan haru bercampur aduk dikisahkan dalam buku ini.
Penulis:
Gede Sughiarta, Nilam Ratna, Arroyan Suwarno, Alief Dharmawan,
Adjie Dharmasatya, Hairul Hadi, Muhammad Taeran, Muh. Alwi, Sahril,
Siti Zuleha, Sri Jalil, Hizran Sampalu, Karel Yerusa, Novita Ayu Wulandari,
M. Subhan Moerid.
Penyunting:
Gede Sughiarta, Arroyan Suwarno, Nilam Ratna, Alief Dharmawan
Desain/Layout:
Gede Sughiarta
Foto:
Yayasan MDPI, Gede Sughiarta
Illustrasi:
Panca Kumara