Harga Tuna Turun, Hidup Kami Juga: Cerita Keluarga Nelayan yang Menolak Tenggelam

oleh Reno Nanda Pratama

Setiap kali suaminya berangkat melaut, Nurfita Thalib menatap perahu kecil itu sampai hilang di balik garis laut. Ia tak pernah tahu apakah perahu itu akan pulang membawa ikan, atau sekadar kelelahan melawan ombak. Tapi satu hal pasti: di rumah, ia harus tetap menyiapkan ember, meja jualan, dan semangat untuk bertahan.

————————–

Hujan turun deras di Jambula sore itu. Langit muram, tapi laut tetap memanggil. Di dermaga kecil, beberapa perahu nelayan sudah siap berangkat. “Kalau diam di rumah, perut anak-anak siapa yang isi?” kata Nurfita Thalib, sambil menyiapkan ember berisi ikan hasil tangkapan suaminya.

Saya datang ke kelurahan ini untuk mengumpulkan data profil nelayan dampingan. Tapi niat itu cepat bercampur rasa ingin tahu lainnya: bagaimana sebenarnya keluarga nelayan bertahan ketika laut mulai pelit memberi hasil dan harga ikan jatuh bebas?

Dulu, tuna jadi simbol harapan. Ikan besar, harga tinggi, dan pasar ekspor yang menjanjikan. Sekitar 2015, nelayan Jambula mulai beralih dari ikan kecil seperti cakalang dan tongkol ke tuna. Hidup seolah membaik: penghasilan naik, rumah mulai dibenahi, dan anak-anak bisa sekolah tanpa harus berhutang ke tengkulak.

Tapi masa itu tak lama.

Sekarang, tuna makin jarang muncul. Sekali dapat, harganya tak lagi sepadan. Dulu satu kilogram bisa laku lebih dari Rp 40 ribu, kini bahkan tak sampai Rp 30 ribu. Ongkos bensin, es, dan bekal melaut kadang lebih besar dari hasil yang dibawa pulang. Banyak nelayan akhirnya kembali ke pola lama—menangkap ikan kecil—asal dapur tetap berasap.

Ketika Dunia yang Jauh Mengatur Hidup di Tepi Laut

Penurunan harga bukan hanya karena ikan sulit didapat. Laut Jambula juga diguncang oleh hal yang tak bisa mereka lihat: keputusan perdagangan global.

Beberapa waktu lalu, Amerika Serikat—salah satu negara tujuan ekspor utama tuna Indonesia—menaikkan tarif impor hingga 32 persen. Bagi nelayan kecil, angka itu terdengar abstrak. Tapi dampaknya nyata: harga jual anjlok, pengepul menekan harga, dan seluruh rantai ekonomi di pesisir ikut goyah.

Satu kebijakan di gedung pemerintahan ribuan kilometer jauhnya bisa menentukan apakah seorang anak di Ternate bisa makan ikan malam ini atau tidak. Ironis, tapi begitulah cara dunia bekerja bagi orang-orang yang hidup dari laut.

Perempuan-perempuan di Garis Depan

Ketika para lelaki terombang-ambing oleh ketidakpastian laut, para istri justru berdiri paling tegak. Di sepanjang jalan lintas provinsi yang membelah Jambula, kamu bisa melihat pemandangan yang hampir sama setiap sore: meja kayu, ember ikan, dan perempuan-perempuan yang menjajakan hasil tangkapan.

Mereka tak mau lagi bergantung pada pengepul. Salah satunya, Nurfita. Ia anggota kelompok pengolah dan pemasar (Poklahsar) Makufato yang didampingi oleh Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI).

“Kalau lewat pengepul, satu tong (40 liter) paling dibayar Rp 400 ribu. Pernah paling tinggi Rp 1,8 juta. Tapi kalau jual sendiri, bisa lebih dari itu,” kata Nurfita di teras rumahnya, sambil menata ikan cakalang yang masih basah.

Dari setiap hasil jualan, Nurfita menyisihkan Rp 500 ribu untuk ditabung di koperasi nelayan Bubula Ma Cahaya. Tabungan kecil itu jadi simbol harapan besar. Ia ingin anak laki-lakinya jadi tentara, dan anak perempuannya jadi dokter.

“Kalau istri semangat, suami juga ikut semangat,” katanya sambil tertawa kecil.

Nurfita menjual ikan kecil.
Nurfita menjual ikan kecil hasil tangkapan suaminya.

Baca juga: Laut yang Semakin Sepi: Ironi di Balik Kemandirian Nelayan Waelihang

Bertahan Tanpa Menyerah

Kisah Nurfita bukan satu-satunya. Di Jambula, banyak keluarga nelayan yang menolak menyerah. Mereka beralih ke ikan kecil, mengatur strategi jualan, membentuk kelompok perempuan, dan menciptakan sistem ekonomi mikro yang mereka kendalikan sendiri.

Pendapatan memang tak besar, tapi cukup untuk bertahan—dan yang lebih penting, mereka tak lagi sepenuhnya tergantung pada tengkulak.

Musim ikan yang baik masih jadi momen yang dirayakan bersama. Mereka membakar ikan di tepi pantai, makan bersama, saling menyemangati. Di tengah ketidakpastian, kebersamaan itu jadi jangkar.

Mereka tahu laut tak lagi murah hati. Tapi mereka juga tahu, laut tidak bisa ditinggalkan.

Baca juga: Menjaga Laut, Menjamin Pangan: Pesan di Hari Pangan Sedunia

Laut yang Adil Bukan Tentang Ikan yang Banyak

Cerita Jambula bukan sekadar kisah tentang harga ikan. Ini tentang bagaimana keputusan global bisa mengubah ritme hidup di kampung kecil. Tentang bagaimana perempuan menjaga keluarga tetap bertahan ketika struktur ekonomi tak berpihak pada mereka.

Negara perlu hadir—melindungi harga ikan, membuka akses pasar yang lebih adil, memperkuat posisi tawar nelayan kecil. Industri juga harus memberi ruang bagi jalur distribusi yang langsung dari komunitas nelayan.

Karena laut yang adil bukan cuma soal ikan yang melimpah, tapi soal hidup yang layak bagi mereka yang menggantungkan nasib di atasnya.