New Site: Minaesa, Minahasa Utara

Setelah hampir 3 tahun menjalankan program Fisheries Improvement melalui kegiatan pengumpulan data perikanan (port sampling) di Kota Manado, pada tahun 2020 MDPI mulai mengidentifikasi wilayah lain untuk memperluas jangkauan upaya pengelolaan perikanan di Provinsi Sulawesi Utara. Hal ini sejalan dengan strategi baru MDPI yang telah merumuskan kembali beberapa pendekatan sehubungan dengan pembangunan berbasis masyarakat, melalui program Fisheries Community Organization (FCO). Sebagai desa yang mayoritas populasinya merupakan nelayan skala kecil, yang juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya alam, Desa Talawaan Bajo di Kabupaten Minahasa Utara dinilai berpotensi menjadi desa yang dapat mempelopori perikanan berkelanjutan di tanah Nyiur Melambai.


Sejak menjalin hubungan awal dengan aparat desa dan masyarakat setempat, MDPI telah melakukan beberapa tahap asesmen demi memastikan bahwa pendekatan program yang diimplementasi nantinya dapat sesuai dengan kebutuhan sosial-ekonomi desa, dengan tetap mengusung keberlanjutan, dan mendukung upaya pengelolaan perikanan yang lebih baik di Indonesia. Sejumlah respon positif dari masyarakat dan adanya dukungan dari pemerintah turut menjadi motivasi bagi MDPI untuk mendampingi komunitas nelayan di desa pesisir ini. Menempatkan diri di tengah masyarakat menjadi salah satu kunci dan kepercayaan MDPI dalam bekerja, oleh karena itu mulai bulan Juli 2021, MDPI resmi berkantor di Talawaan Bajo, desa yang secara administrasi terdaftar sebagai Desa Minaesa di Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.

Terletak di seberang pulau Bunaken, Talawaan Bajo menjadi rumah bagi 257 nelayan yang berasal dari beragam daerah di Sulawesi, 95% di antaranya merupakan nelayan pancing ulur (handline). Antusiasme para nelayan dalam mendukung praktik perikanan berkelanjutan jelas tercermin dari keterlibatan aktif mereka di beberapa kegiatan awal yang telah dilakukan bersama MDPI. Mulai dari kesediaan mereka menjadi bagian dari pengumpulan data port sampling dan pemasangan teknologi ketelusuran di atas kapal, pengurusan 46 Pas Kecil yang menjadi persyaratan terbitnya Tanda Daftar Kapal Perikanan (TDKP), hingga pengurusan Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA) untuk 13 nelayan. Secara berkala, MDPI akan memastikan semua nelayan Talawaan Bajo ke depannya memiliki Kartu KUSUKA dan dokumen kapal resmi, mengingat dokumen kapal juga menjadi salah satu cara mengurangi kegiatan perikanan ilegal dan tidak teratur (illegal, unreported and unregulated/IUU fishing).

Tidak hanya nelayan, namun para istri dan anak nelayan, serta aparat desa juga turut terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti saat perayaan World Fisheries Day 2020 dan kegiatan peningkatan kesadaran lainnya. Di akhir bulan Agustus 2021, MDPI mengadakan acara “movie night” perdana bersama anak-anak nelayan, dengan mengusung tema pelestarian penyu; bayaknya penyu yang datang bertelur di sekitar pesisir desa menyebabkan anak-anak seringkali menemukan tukik dan menjadikannya sebagai objek mainan, sehingga pendekatan edukatif kepada mereka juga menjadi penting untuk dilakukan.

Serangkaian kegiatan program fisheries improvement dan community organizing yang sejauh ini berhasil dijalankan di berbagai wilayah kerja MDPI turut menjadi fokus utama yang akan difasilitasi di Minaesa. Namun, sebagai wilayah yang terhitung baru untuk MDPI, proses identifikasi potensi dan penilaian kesesuaian terus aktif dilakukan seiring berjalannya waktu, dengan terus menggali kearifan lokal yang ada. Besar harapan desa ini tidak hanya akan menumbuhkan nelayan panutan, tetapi juga dapat menjadikan perempuan, anak muda ataupun pemerintah setempat sebagai bagian aktif dalam pengelolaan perikanan yang dapat turut mengembangkan potensi desa tersebut.