• Cerita Nelayan Yusran Tomia: Antusias Melihat Hasil Rekaman Kamera Selang Waktu (TLC)

    8 Aug 2019
    Moch Syifa
    196
    0

    ANTUSIAS: Yusran Tomia atau Onco Yus terlihat begitu antusias saat melihat tayangan video dari kamera TLC yang dipasang di kapalnya.

    WAPREA – BURU, 21 Juli 2019 – Yusran Tomia, adalah salah satu nelayan tuna yang berasal dari Desa Waprea, Kecamatan Waplau Kabupaten Buru, Maluku. Laki-laki berusia 40 tahun ini sudah menjalani rutinitas sebagai pencari ika tuna sejak 17 tahun yang lalu. Onco Yus, dia biasa disapa, saat ini tergabung dalam kelompok nelayan Fair Trade Setia Selalu Waprea, yang didampingi Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI).

    Yusran salah satu dari 231 nelayan Fair Tade di Buru yang sangat kooperatif dengan program-program dan proyek yang dilakukan MDPI di Pulau Buru. Salah satunya adalah proyek implementasi Kamera Selang Waktu atau Time Lapsed Camera (TLC) pada kapal nelayan sebagai alat verifikasi port sampling data yang diambil oleh enumerator MDPI. Kamera TLC ini sekaligus sabagai bahan bukti interaksi nelayan terhadap hewan-hewan yang dilindungi atau yang biasa disebut endangered, threatened and protected (ETP).

    “Saya bersedia ketika akan dipasangkan kamera TLC di kapal saya karena sudah diberi penjelasan oleh staf MDPI dan saya pribadi sangat percaya dengan MDPI karena sudah mendampingi kami nelayan Fair Trade selama ini. Dengan adanya kamera ini saya tidak merasa diawasi dan bagi saya ketika TLC diapasang, yang melihat nanti bisa tahu aktivitas nelayan kecil itu seperti apa,” Ujar Onco Yus.

    Ada sebanyak 65 trip yang berhasil direkam kamera TLC pada kapal Onco Yus, dimulai pada Oktober 2017 sampai Juli 2019. Ayah dua orang anak ini sangat antusias untuk melihat hasil rekaman TLC dirinya ketika pulang melaut apalagi dapat ikan tuna dan ada hewan ETP seperti Lumba-lumba, Penyu, Burung, Hiu, Paus dan Pari yang disekitarnya.

    Untung Ayudia, Site Supervisor MDPI Buru, memperlihatkan hasil rekaman melaut dari kamera TLC kepada Onco Yus pada Minggu 21 Juli 2019 lalu. Menyaksikan dirinya terekam kamera saat melaut, Onco Yus merasa senang dan beberapa kali tersenyum ketika melihat hasil rekaman kamera tersebut.

    “Kami sebagai nelayan Fair Trade bersedia jika MDPI ingin memasang baik Time Lapsed Camera (TLC), PDS dan alat lainnya di kapal untuk membantu program perikanan berkelanjutan. Kami dan saya pribadi sangat mendukung itu” Ujar Onco Yus.

    Penulis: Untung Ayudia Musli (Site Supervisor MDPI, Pulau Buru)

    KETERTELUSURAN: Untung (kiri) bersama Onco Yus sering berdiskusi mengenai perikanan yang berkelanjutan.

    Continue Reading
  • Catatan Internship: Banyak Belajar tentang Pendataan Ikan dan Interaksi dengan Nelayan

    6 Aug 2019
    Moch Syifa
    160
    0

    KUPANG- Saya adalah salah satu mahasiswa semester VI Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Nusa Cendana Kupang yang turut serta dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung di Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) yang bertempat di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba  Kota Kupang. PKL saya lakukan untuk periode 1 Juli sampai 2 Agustus 2019.  Kegiatan PKL bertujuan untuk menunjang pengetahuan mahasiswa dalam bidang yang mereka tekuni masing-masing.

    Hari pertama PKL, kaki ini melangkah penuh semangat menghampiri kantor Yayasan MDPI Kupang. Berawal dari senyuman manis yang penuh hangat dari staf yang ada di Yayasan MDPI Kupang. Saya bersama seorang teman saya, Firman, disambut dengan penuh keakraban. Kami memulai hari itu dengan perkenalan singkat dan menyimak materi yang sangat luar biasa sesuai dengan bidang jurusan kami. Materi tersebut disampaikan langsung oleh Pak Alief Dharmawan sabagai Supervisor di Yayasan MDPI Kupang. Materi yang dipaparkan meliputi perikanan yang berkelanjutan, alat tangkap ramah lingkungan, ikan target, hasil tangkapan sampingan, identifikasi ikan, dan indentifikasi langkah awal dalam pengkajian stock. Dari materi ini kami belajar bahwa untuk melestarikan lingkungan laut agar tetap  terjaga sumber daya ikannya harus menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Ini sekaligus untuk mengetahui jenis ikan yang ditargetkan dan hasil tangkapan sampingan untuk didata oleh MDPI.

    Desi belajar melakukan pendataan perikanan, salah satunya adalah dengan melakukan wawancara dengan nelayan.

    Selain materi yang kami dapat, kami juga diarahkan untuk menonton video penangkapan ikan untuk mengindentifikasi jenis-jenis ikan yang nelayan tangkap. Untuk mengidentifikasi jenis ikan kami dijarkan menggunakan analisis data Time Lapsed Camera (TLC). Analisis TLC merupakan sebuah kamera yang mengambil gambar otomatis secara berkala yang digunakan untuk memontoring semua peristiwa yang terjadi. TLC adalah metode baru yang sederhana dalam mengumpulkan data perikanan pancing ulur (Handline) yang tentunya dapat digunakan sebagai bukti ilmiah.

    Kegiatan PKL ini difokuskan pada pendataan di mana saya mendapatkan tugas mendata ikan target dan saya memilih ikan tuna untuk didata sebagai judul PKL saya. Untuk pendataannya, saya memulai dengan melakukan pengukuran panjang ikan tuna dan menimbang berat dari ikan tuna. Pengukuran panjang berat tuna ini  bertujuan untuk mengetahui perbandingan yang signifikan antara panjang dan berat ikan tuna. Pendataan ini didampingi langsung oleh Pak Alief Dharmawan sebagai Site Supervisor. Lalu ada pula Ibu Agnesia Dau sebagai Sustainability Facilitator dan Pak Hernot Reits Jon Loudoe sebagai Sustainability Facilitator. Saya diajarkan bagaimana bersikap dan berinteraksi dengan baik terhadap para nelayan yang kami temui di lapangan guna mendapatkan respon yang baik sehingga kegiatan pendataan dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Adapun tuna yang ditemukan dilapangan, yaitu Thunnus albacares (Yellowfin tuna/YFT), Thunnus obesus ( Bigeye tuna/ BET), Katsumonus pelamis (cakalang/SKJ),  dan Thunnus alalunga (Albakor/ ALB). Sebelum saya melakukan PKL saya mengetahui terdapat semua jenis tuna di PPI Oeba, namun pada kenyataannya hanyalah empat jenis tuna yang didapatkan. Ukuran dan berat ikan tuna yang didapatkan adalah  ikan  SKJ  beratnya adalah 3,1 – 3,8 Kg, Panjangnya 31-62 cm. Berat YFT dimulai dari 1- 65 Kg, panjang 27- 150 cm, berat BET di mulai dari1,17-35 Kg, panjangnya 51-124 cm.

    Saya memilih MDPI sebagai tempat PKL saya karena awalnya MDPI melakukan sebuah seminar di Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana dan dari itu saya melakukan pendekatan dengan Pak Alief. Tak disangka, dia menyambut saya dengan begitu antusias sehingga saya merasa nyaman untuk melakukan PKL di MDPI.

     

    Ditulis oleh: Desi Satria Homa Galla

    Continue Reading
  • Catatan Internship: Pengalaman Pertama Melakukan Pendataan dan Pengukuran Ikan

    6 Aug 2019
    Moch Syifa
    165
    0

    KUPANG- Mentari mulai terbit dari ufuk timur. Artinya, pagi telah tiba. Saya pun bersiap-siap untuk menuju tempat yang nantinya akan memberikan cerita dan ilmu baru. Tempat itu adalah Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia atau biasa disingkat MDPI yang berada di Kupang, tepatnya terletak di PPI Oeba Kota Kupang.

    Ini menjadi awal mula perjalanan sebulan penuh saya untuk mencari dan belajar ilmu sebagai bentuk pemenuhan terhadap salah satu tugas dari kampus, yakni melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL). Awalnya saya tertarik untuk melakukan PKL di Yayasan MDPI karena beberapa waktu lalu Yayasan MDPI berkunjung ke kampus Universitas Nusa Cendana Kupang. Dari situlah selanjutnya saya tertarik untuk belajar lebih dalam lagi dan melakukan pendekatan untuk bisa PKL. Sebuah kesempatan yang tidak saya sia-siakan  karena jarang sekali ada tempat atau instansi yang melakukan pendataan dengan fokus utamanya adalah tuna .

    Tahap awal ketika saya memulai PKL di Yayasan MDPI Kupang adalah dengan melakukan perkenalan. Saya bertemu langsung dengan Pak Alief Dharmawan sebagai Site Supervisor, Agnesia Dau sebagai Sustainability Facilitator dan Hernot Reits Jon Loudoe sebagai Sustainability Facilitator. Merekalah yang membimbing, serta menjadi inspirator, sekaligus motivator selama saya melakukan PKL.

    Hal pertama saya lakukan saat melakukan PKL di Yayasan MDPI adalah pengenalan tentang apa yang dilakukan Yayasan MDPI dalam mendukung perikanan berkelanjutan di Kupang. Penjelasan mengenai materi-materi tersebut dilakukan langsung oleh Alief,Agnes dan Reits. Pengenalan materi ini berlangsung selama empat hari dan banyak ilmu baru yang saya dapat. Di antaranya adalah terkait jenis ikan target, tangkapan sampingan, tangkapan lain dari handline serta cara untuk mengidentifikasi ikan  serta hewan-hewan yang dilindungi atau biasa disebut dengan ETP.

    Bukan hanya itu yang diberikan, tetapi masih banyak lagi materi yang saya dapatkan terkait dengan kegiatan pendataan ikan. Yaitu mengenai tata cara atau prosedur dalam pengisian form serta bagaimana tata cara ketika berpapasan langsung dengan nelayan dan mewawancarai mereka. Adapula tata cara menggunakan alat pengukur panjang ikan baik itu tuna diatas 10 kg maupun yang dibawah 10 kg , dan pengenalan terhadap tiga supplier tempat dilakukan pendataan yakni UD.Tunas Harapan, CV.ASK dan UD.Bara, serta masih banyak materi yang lainnya.

    Firman mencoba untuk pertama kalinya melakukan pengukuran ikan saat melakukan kegiatan magang/internship di Yayasan MDPI Kupang.

    Mempelajari hal baru menjadikan saya lebih semangat untuk belajar. Tetapi ada juga kendala terbesar bagi saya, yaitu ketika harus menghafal nama-nama latin dari ikan.  Selain itu, saya juga mendapatkan materi lainnya, yaitu mengenai analisis Time Lapsed Camera (TLC) yang merupakan pengembangan dari bidang fotografi yang menjadikan sekumpulan foto yang diambil dari periode tertentu menjadi sebuah video. Waktu pengambilan foto bisa dibuat berkala setiap beberapa detik maupun menit bergantung pada kebutuhan.

    Pertama kali melihat hasil rekaman TLC, saya pun terkagum-kagum. Dari video itu, terlihat begitu jelas semua kegiatan nelayan, termasuk bagaimana nelayan menangkap ikan. Tidak hanya melihat video, saya juga mendapat tugas langsung dari supervisor untuk menganalisis video tersebut, yaitu dengan melihat hasil tangkapan, termasuk semua jenis ikan, rumpon, hewan dilindungi serta kejadian lain dengan cara  screenshot video tersebut dan setelah itu diinput ke dalam file excel. Ada banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan dari kegiatan analisis ini. Di antaranya adalah untuk selalu fokus dan bekerja sama dengan teman saya dalam melakukan analisis agar bisa mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Namun adapula kendala yang saya temui. Yaitu hasil screenshot yang terlihat buram sehingga kami sulit untuk melakukan identifikasi.

    Pengalaman menarik lainnya adalah saya harus memulai turun ke lapangan untuk melakukan pendataan ikan. Ini adalah pengalamn pertama saya yang sangat berharga. Awalnya, saya tidak langsung melakukan pengukuran, namun saya banyak melakukan pengamatan. Setelah beberapa hari, tiba saatnya pertama kalinya saya memegang alat untuk mengukur panjang ikan tuna diatas 10 kg yang biasa disebut dengan caliper. Ketika itu juga keringat dingin mulai bermain-main dari wajah yang penuh ketakutan karena baru pertama kali menjalankan hal ini. Walau gugup tetapi bukan menjadi alasan untuk tidak bisa berbuat. Hal ini justru menjadi pemicu utnuk saya lebih memaksimalkan peluang yang telah diberikan dan alhasil mengukur ikan tuna bisa saya lakukan tanpa ada kesalahan apapun.

    Selanjutnya saya langsung diberikan kesempatan oleh supervisor untuk mengukur tuna dibawah 10 kg menggunakan papan ukur dan saya tetap pada pendirian bahwa harus bisa walaupun hal baru tidak menyulitkan ketika melakukannya dan ikan berhasil saya ukur dengan kemampuan baru tetapi mendapat hasil yang memadai. Selanjutnya data yang diperoleh diupload ke I-FISH.

    Praktik kerja lapang di MDPI menjadikan diri ini lebih banyak mengetahui ilmu baru, pengalaman baru serta banyak hal yang tak dapat dideskripsikan satu persatu. Pada hakikatnya bahwa ilmu yang saya dapat di sini akan menjadi modal awal yang berharga di hari-hari yang akan datang. Mungkin kata-kata tak mampu untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan ketika PKL disini tetapi terlebih dari itu hanya kata terima kasih untuk Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Kupang.

     

     

    Ditulis oleh: Firman Nur Laga Lewo

     

     

    Continue Reading
  • PRESS RELEASE: INVEST Project for Women’s Economic Empowerment in Fisheries Supply Chains

    16 Jul 2019
    Moch Syifa
    343
    0

    BALI, July 11, 2019 – Under USAID’s INVEST initiative, MDPI has been awarded a project to develop and test an approach that incorporates FinTech solutions and women’s economic empowerment activities alongside the electronic catch documentation and traceability (eCDT) app, Trafiz. The main objectives of this project are to improve the role of women in small-scale fisheries through women’s empowerment activities that lead to improved livelihoods and greater involvement in the ecosystem approach to fisheries management (EAFM).

    The target area of this project is North Sulawesi, initially focusing on the three areas overlapping with MDPI’s work under the USAID Oceans and Fisheries Partnership (Manado, Bitung and Sangihe) with the option for expanding beyond these areas being assessed. The target fishery is the small-scale handline tuna fishery of North Sulawesi. Previously, MDPI has piloted Trafiz, an Android-based app developed by Altermyth, in partnership with MDPI, for three male suppliers in North Sulawesi, with support from USAID Oceans, and three female suppliers in North Maluku, with support from USAID SEA project.

    It is known that women also play a key role in these supply chains, in terms of transfer of fish from one actor to the next and therefore there is potential in expanding the use of the app to these female actors to gather a wider coverage of data. It is also hypothesized that the input of data could be motivated through the incentive of an enabling financial service embedded in the Trafiz app. One of the examples of the women’s involvement in these small-scale fisheries can be seen in Bitung, North Sulawesi, where 50 percent of the existing workforce in the wholesalers node are women. They often have an important role in financial management in the households. However, women often face barriers in accessing financial services, in terms of limited or no collateral, especially in small-scale enterprises. Financial literacy amongst supply chain actors could also be strengthened for household benefits. This INVEST project aims to help support the role of women in this fishery supply chain, particularly related to financial management and fisheries management engagement.

    This INVEST project will cover four objectives: assessment of barriers to finance faced by women in small-scale fisheries (SSF) and integration of FinTech tools into Trafiz, delivery of women’s empowerment activities that leads to improved livelihoods and greater engagement in an ecosystem approach to fisheries management (EAFM), increase women’s influence in planning and implementing EAFM, and implement mixed-methods data collection to support the Learning Initiative.

    Continue Reading
  • Istri Nelayan Desa Jambula: Kami Antar Ikan dan Bantu Isi Buku Fisher-Log

    12 Jul 2019
    Moch Syifa
    167
    0

    TERNATE- Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIT. Seorang perempuan parobaya beberapa kali berjalan mondar-mandir di tepi pantai. Sesekali dia melihat ke arah lautan seperti sedang menunggu seseorang. “Tadi katanya tidak terlalu jauh. Karena angin sedang kencang dan ombak tinggi,” kata Endang berdiri menghadap ke lautan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tampak beberapa nelayan sedang duduk-duduk di sebuah bangunan mirip gazebo yang biasa mereka sebut sebagai landing site.

    Perempuan itu adalah Endang Dahlan. Sore itu dia sedang menunggu Gafur Kaboli, sang suami, yang sedang pergi melaut. Wajar saja jika sore itu Endang sedikit was-was, karena sebagian besar nelayan yang ada di Desa Jambula, Ternate hari itu tidak melaut. Ini dikarenakan gelombang yang cukup tinggi melanda perairan Ternate dalam seminggu terakhir.

    Sambil menunggu sang suami ‘mendarat’ dari mencari ikan tuna, Endang lantas ikut bergabung dan berbincang dengan nelayan lainnya. Angin memang bertiup cukup kencang sore itu, tapi langit masih tampak cerah. Pemandangan Pulau Maitara di kejauhan dipadu dengan sinar jingga matahari sore, membuat suasana terasa begitu menentramkan.

    Tak berselang lama, Endang lantas beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke arah rumahnya yang hanya berjarak puluhan meter saja dari landing site yang biasa dijadikan oleh para nelayan untuk menurunkan hasil tangkapan itu. Lantas Endang kembali lagi sambil membawa seceret berisi kopi yang sudah dia seduh dan siapkan. Tidak lupa dia juga menyajikan sepiring pisang goreng yang masih hangat. “Ayo silakan dimakan pisangnya. Kopinya juga (diminum, red),” ujar perempuan 40 tahun itu. Obrolanpun lantas berlanjut lagi.

    Gofur adalah ketua Kelompok Nelayan Fair Trade Desa Jambula. Kelompok nelayan tuna yang baru berusia satu tahun tersebut saat ini memiliki anggota sebanyak 27 orang. Dengan dukungan dari Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA), tim Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) di Ternate terus melakukan pendampingan terhadap kelompok nelayan Desa Jambula ini. MDPI mendampingi para nelayan dan memastikan bahwa standar-standar yang diterapkan oleh Fair Trade USA bisa benar-benar dipenuhi oleh para nelayan.

    Menurut Endang, jika suaminya dan para nelayan lainnya sedang melaut dan mendapatkan ikan, maka dia dan istri-istri nelayan lainnya akan dibuat cukup sibuk. Pasalnya, para istri nelayan akan selalu siap mengantar ikan-ikan hasil tangkapan sang suami ke supplier dengan menggunakan mobil.

    Tidak hanya itu, para istri pula yang akan melakukan pengisian buku fisher-log dan ETP-log. Untuk diketahui, buku fisher-log ini di antaranya berisi informasi mengenai jenis alat pancing yang digunakan nelayan, lokasi pemancingan (fishing ground), umpan yang digunakan, hingga kedalaman memancing. Sedangkan ETP-log berisi informasi mengenai interaksi nelayan dengan hewan-hewan yang dilindungi di laut, baik itu interaksi dengan body kapal maupun bersentuhan langsung dengan fisik nelayan.

    Peran para perempuan atau istri-istri nelayan di Desa Jambula ini bisa dibilang memang cukup besar. Mereka pula yang sehari-hari mengelola keuangan rumah tangga, termasuk mengelola hasil penjualan ikan tuna. Hal ini dibenarkan oleh Wiyanti, 28, istri nelayan yang lainnya. “Saya juga bantu untuk siapkan bekal suami untuk melaut, beli es untuk dibawa melaut. Pokoknya saya bantu suami. Suami tinggal melaut cari ikan,” kata Wiyanti.

    Wiyanti juga mengaku rajin membantu mengisikan buku fisher-log dan ETP-log. Hal itu dia lakukan secara sukarela karena dia tahu bahwa saat pulang melaut suaminya sudah pasti sangat lelah. Wiyanti juga sudah paham bahwa fisher-log dan ETP-log ini penting sebagai salah satu standar dari Fair Trade yang harus dipenuhi.

    Baik Endang maupun Wiyanti juga mengatakan bahwa para istri nelayan ikut aktif dalam pertemuan-pertemuan atau rapat-rapat kelompok nelayan. Awalnya mereka hanya membantu mempersiapkan segala kebutuhan rapat. Namun akhirnya mereka juga ikut mendengarkan materi yang dibicarakan dalam rapat. Sehingga para istri nelayan di Desa Jambula juga tahu mengenai apa itu Fair Trade dan program-program apa saja yang ada di dalamnya. Termasuk mengenai harapan penggunaan Dana Premium saat sudah cairn anti. “Sekarang memang masih belum cair. Tapi nanti kalau sudah cair, ada kebutuhan untuk kelompok nelayan yang harus dibeli,” lanjutnya.

    Peran para istri nelayan ini diakui memang cukup membantu para nelayan. Seperti yang diungkapkan oleh Rahman Rasyid, 43, salah seorang nelayan di desa tersebut. “Kalau tidak ada bantuan istri, kami juga repot,” katanya. Menurut Rahman, begitu dia akrab disapa, semuanya diserahkan pengelolaannya kepada istri. Nelayan seperti dirinya hanya cukup mencari ikan di lautan dan membawanya pulang.

    Rahman juga membenarkan bahwa para istri nelayan memiliki peran yang cukup penting dalam pengelolaan keuangan keluarga, terutama yang terkait dengan hasil penjualan tuna. Para istrilah yang mengatur pengeluaran dan pendapatan. “Hampir semua istri nelayan di sini (Desa Jambula, red) sama. Kami percayakan pada istri yang mengatur dan itu sangat membantu,” ujar Rahman yang sore itu juga tidak melaut akibat ombak tinggi.

    Photo and story by: Mohammad Syifa/MDPI

    PEDULI: Ibu Endang Dahlan, seorang istri nelayan, ikut berpartisipasi aktif dalam mendukung terwujudnya perikanan yang berkelanjutan.

    Continue Reading
  • Tak Sekadar Alat Komunikasi, Ponsel Bantu Nelayan Buru Utara dalam Melaut

    30 Jun 2019
    Moch Syifa
    289
    0

    Bagi para nelayan Fair Trade di Buru Utara, Maluku, telepon seluler (ponsel) bukan hanya sekadar alat komunikasi. Lebih dari itu, para nelayan memanfaatkan ponsel sebagai alat bantu penunjuk arah atau global positioning system (GPS) pada saat melaut. Terutama saat cuaca buruk atau gelap. Para nelayan memanfaatkan ponsel yang sudah dilengkapi dengan aplikasi GPS didalamnya. Meskipun sedang berada di laut dan jauh dari jangkauan sinyal, namun para nelayan tetap bisa memanfaatkan GPS. Ini karena sekarang sudah banyak aplikasi GPS yang tidak membutuhkan sinyal internet.

    Selain untuk penunjuk arah atau GPS, ponsel pintar yang dilengkapi dengan kamera tersebut juga sekaligus membantu para nelayan untuk ikut berpartisipasi dalam pemberantasan illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing. Karena dengan kamera yang ada di ponsel itu, para nelayan bisa memotret kapal-kapal ilegal yang mereka temui saat memancing tuna di lautan lepas.

    Ke depannya, dengan dampingan dari Yayasan MDPI, ponsel yang dimiliki oleh nelayan ini juga bisa menjadi sarana e-learning atau media belajar tentang Fair Trade. Metode belajar dengan menggunakan video ini akan lebih menyenangkan dan memudahkan bagi para nelayan dalam memahami tentang Fair Trade. Program pembelajaran ini dilakukan melalui kerja sama USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) project dan pemegang sertifikat Fair Trade Coral Triangle Processor, yang dikerjakan oleh Yayasan IDEP. Bentuk pembelajarannya adalah dengan menyederhanakan Fair Trade USA Captured Fisheries Standards menjadi materi pembelajaran untuk meningkatkan pengertian nelayan tentang standar Fair Trade sesuai dengan tingkatannya.

     

    Penulis: Mohammad Syifa/MDPI

    Continue Reading
  • Melaut Kini Sudah Tidak Lagi Was-Was

    28 Jun 2019
    Moch Syifa
    386
    0

    Ali Laode, 34, adalah satu dari sekian nelayan di Desa Sangowo, Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, yang kini merasakan manfaat dari registrasi kapal. Bang Ali, begitu dia akrab disapa, tidak perlu lagi was-was ketika melaut dan bertemu dengan petugas Polair. “Kalau ketemu petugas (Polair, Red), tinggal tunjukkan saja BPKP,” katanya.

    Ali memang kini sudah mengantongi dokumen Bukti Pencatatan Kapal Perikanan (BPKP). Dokumen itu dia terima secara resmi bertepatan dengan acara kunjungan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia ke Pulau Morotai pada April lalu. Dengan adanya dokumen itu, Ali mengaku saat ini bisa melaut dengan tenang. “Sekarang lebih aman. Tidak perlu takut-takut lagi ditangkap petugas,” sambung lelaki yang mulai menjadi nelayan tuna sirip kuning sejak 2016 lalu.

    Sebagai nelayan kecil, Ali kini mengaku mengetahui pentingnya memiliki dokumen kapal. Menurut dia, dengan adanya BPKP, berarti dia mengambil ikan di laut secara legal. Sehingga, ikan yang didapatnya juga bisa dijual ke luar negeri. Tidak hanya tentang kelengkapan dokumen, Ali juga lebih memperhatikan kebersihan ikan hasil tangkapannya. “Harus dijaga agar tidak kotor. Karena ikan yang dijual harus selalu bersih,” lanjut Ali.

    Ali mendapatkan pengetahuan tentang penanganan ikan itu setelah dia ikut dalam pelatihan Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB). Kegiatan itu diselenggarakan dengan dinas perikanan setempat dan difasilitasi oleh Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Dalam pelatihan itu, para nelayan diberikan pengetahuan tentang bagaimana menangani ikan hasil tangkapan yang benar agar kualitasnya tetap bisa terjaga.

    Sejak 2018 lalu, Yayasan MDPI dengan dukungan dari Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) hadir di Pulau Morotai untuk melakukan pendampingan terhadap nelayan kecil, khususnya nelayan tuna sirip kuning. Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan MDPI di antaranya adalah pendataan ikan dengan metode port sampling, pendampingan penguruan dokumen kapal (vessels registration), serta kegiatan sosialisasi tentang hewan endangered, threatened, protected (ETP) kepada nelayan.

     

    Penulis/Foto: Mohammad Syifa

    Continue Reading
  • MDPI, Anova, and Harta Samudra Receive Award for Traceability Implementation

    24 Jun 2019
    Moch Syifa
    450
    0

    JAKARTA, June 18, 2019 – MDPI Foundation, Anova, and Harta Samudra collaborated with Bumble Bee Seafoods and the German-based company SAP logistics to successfully implement blockchain technology for strengthening traceability in supply chains sourcing from small-scale handline fisheries. This implementation is the first in Indonesia and the world for small-scale fisheries.

    Blane Olson, Director of Anova Technical Services, LLC said that blockchain has an important role in seafood traceability. “Blockchain is the ultimate tool to combine all existing seafood related technologies, into a common stream, to ensure transparency, traceability, food safety accountability and legal reported fisheries activities from the fishing vessel to the end consumer.” said Blane.

    This successful improvement of traceability is also a benefit for Indonesian handline fisheries. This shows that Indonesia can continue to be a front runner in the efforts to successfully implement sustainability measures in fisheries. Fishermen can demonstrate that they operate within a traceable and legal supply chain, and can be guaranteed of the related Fair Trade Premium Fund being reliably and quickly calculated from their catch.

    As a form of appreciation for the success in implementing traceability in small-scale fisheries, the event Luncheon will be held on June 18, 2019 along with MDPI, Anova, and Harta Samudra partners. The purpose of this event is to commemorate the presentation of the SAP Innovation Award for Social Hero to MDPI, Anova Food, and Harta Samudra for their current work on blockchain technology and the implementation of Fair Trade in Indonesia in small-scale handline yellowfin tuna fisheries. The three partners are honored to receive this award, selected from 433 candidates globally.

    TraceTales is an innovative traceability system developed by MDPI, with support from the USAID Oceans and Fisheries Partnership. TraceTales was instrumental in facilitating the successful implementation of the blockchain technology for the Indonesian yellowfin handline supply chain. The TraceTales solution will be an important industry leading platform to integrate additional fisheries throughout Indonesia to increase supply chain visibility, optimization, and full transparency of the Indonesia fish industry.

    Saut Tampubolon, Executive Director of MDPI said that developing traceability system is very challenging. “It can be very challenging to implement Blockchain technology for a small-scale fishery, composed of thousands of independent one-manned vessels and operating on remote islands, but MDPI has made it happen by developing a software solution for seafood processors capturing, storing, and managing product data electronically, “TRACETALES”. MDPI is committed to continuing the development of the TraceTales system to support the achievement of sustainable fisheries management from an environmental, social and economic perspective. On this occasion, we are very proud to receive this award, encouraging us to be a leader in innovating Indonesian fisheries for the future,” added Saut.

     

    TraceTales and SAP blockchain is currently installed in PT Harta Samudra in two processing plants: in Ambon, and Buru. It is also installed in PT Aneka Sumber Tata Bahari Tulehu, Central Maluku and in PT Blue Ocean Grace International (BOGI) Bitung, North Sulawesi. Since 2018, nearly 2,300 tons of frozen loin product from the five plants can be traced using the TraceTales system.

    The TraceTales system will be available to all Indonesian seafood processors and MDPI will work with industry to expand and improve Indonesian seafood traceability, food safety, transparency and sustainability and, hence improving the worldwide business success of Indonesian Seafood Companies.

    Continue Reading
  • Magang Programmer

    13 May 2019
    mdpi
    1174
    2

    Mendukung Pengembangan Sistem Ketertelusuran

    dalam Rantai Pasokan Perikanan Artisan Skala Kecil

     

    MDPI berpengalaman dalam mengembangkan dan menguji inisiatif ketertelusuran untuk perikanan artisan skala kecil dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebagian besar pekerjaan tersebut berada di bawah dua proyek ketertelusuran IFITT dan NWO, serta sebuah proyek kecil yang berfokus mendukung industri Indonesia untuk memenuhi persyaratan lacak balak (chain of custody, CoC) dari MSC. Belum lama ini, MDPI telah bekerja sama dengan USAID Oceans untuk mendukung pengembangan sistem elektronik Dokumentasi dan Ketertelusuran Tangkapan (Catch Documentation and Traceability) untuk perikanan artisan skala kecil. Banyak pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mengembangkan solusi teknologi untuk perikanan skala besar, sementara sektor artisan skala kecil sering tertinggal dalam pengembangan ini. Bagaimanapun, sering kali persyaratan kepatuhan yang sama diterapkan pada perikanan artisan skala kecil untuk persyaratan ekspor atau untuk peraturan tingkat nasional. MDPI secara khusus bertujuan untuk mengembangkan sistem dan mendukung teknologi yang ditujukan untuk sektor perikanan artisan skala kecil dan yang merupakan sumber terbuka (open source) atau berbiaya rendah agar dapat diakses oleh sebanyak mungkin pelaku perikanan artisan skala kecil.

     

    Melalui pendekatan ini, MDPI bertujuan untuk mendukung kepatuhan dengan kegiatan perikanan legal, teregulasi, dan terlaporkan (LLR), daripada membiarkan sektor perikanan artisan skala kecil dilupakan atau tidak diperhatikan. Di bawah proyek-proyek tersebut, MDPI berpengalaman dalam mengembangkan dan menerapkan sistem ketertelusuran tingkat pemasok dan tingkat pengolah.

     

    Karyawan magang akan bekerja di tiga kegiatan MDPI berikut ini:

    • Membantu dan bekerja dengan pengembang peranti lunak senior untuk pengembangan sistem/peranti lunak.
    • Mengembangkan dan menguji peranti lunak agar bebas dari kekutu (bug). Memastikan peranti lunak/sistem berjalan dengan baik.
    • Mendukung pengguna di tempat terpencil termasuk instalasi, pelatihan pengguna, perbaikan kekutu (bug) dan penyelesaikan masalah, serta sistem pencarian dan penyelesaian masalah.
    • Memiliki pengalaman dalam bahasa pemrogaman struktur dan berorientasi obyek pemrograman akan menjadi nilai tambah
    • Memiliki keterampilan untuk menyiapkan jejaring komputer (setup LAN) dan masalah komputer (troubleshooting computer)

     

    Persyaratan:

    • Berpengalaman dalam C# Essential.
    • Lebih disukai bila berpengalaman dalam pengembangan API, penggunaan GitHub, sistem database dan aplikasi web.
    • Lancar berbahasa Indonesia dengan kemahiran berbahasa Inggris.
    • Saat ini sedang menuntut ilmu magister di bidang terkait TI.
    • Lebih disukai yang berpengalaman kerja TI.
    • Bersedia melakukan perjalanan dan bekerja di kawasan timur Indonesia.

     

    Durasi magang adalah minimum 4 bulan, lebih disukai hingga 6 bulan. Posisi karyawan magang terbuka untuk mahasiswa tingkat magister Indonesia dan internasional dan MDPI dapat memberikan dukungan biaya hidup sesuai standar di Indonesia. Biaya perjalanan menuju atau dari Indonesia, serta aplikasi visa tidak akan ditanggung oleh MDPI, namun kami akan membantu persyaratan yang diperlukan.

    Continue Reading
  • Intern for Interoperability

    2 May 2019
    mdpi
    1267

    Position                                : Intern for Interoperability
    Location                               : Denpasar, Bali – Indonesia
    Employment                       : Internship Program
    Report to                             : Supply Chain Manager

    Description:

    MDPI has experience in developing and trialing traceability initiatives for small-scale fisheries in recent years. This work was predominantly under two traceability projects IFITT and NWO, as well as a smaller project focused on supporting Indonesian industry to meet MSC chain of custody requirements. More recently, MDPI has been working with USAID Oceans to support the development of electronic Catch Documentation and Traceability systems for small-scale fisheries. MDPI is specifically aiming to develop systems and support technology aimed at the small-scale sector and that are either Open Source or low cost to be accessible to as many small-scale actors as possible. Through this approach, MDPI aims to support compliance with Legal, Regulated and Reported (LLR) activities, rather than allowing the small-scale sector to be excused or to fall under the radar. The initiatives trialed to date by MDPI include:

    • Spot Trace devices
    • Time-lapse cameras
    • FlyWire camera
    • Pelagic Data System
    • I-Fish app
    • TraceTales
    • Supplier app: Our Fish and Trafiz an app app developed for suppliers

    The next step in MDPI’s work is to integrate the data from various technologies and various chain nodes to provide complete information and data on the journey of a fish once caught in a small-scale fishery. Initial thoughts on how to achieve and implement this include blockchain technology, connecting existing technologies by API’s or using the DEX model proposed by USAID Oceans. The final system needs to take into account:

    • Data sharing agreements
    • Data security
    • Key Data Elements (KDEs)
    • Costs
    • Industry and government preferences
    • Interoperability capacity

    The intern position will identify alternative ideas and identify appropriate ways to link technologies. This may be done by creating partnerships with other organizations, learning and adopting from existing systems and or creating simple in-house solutions that allow for simple data transfer by industry users to existing systems (such as in-house ERP systems).

    The technologies and systems currently in use or in development were developed specifically for tuna supply chains and actors. To make these solutions applicable and scalable to other small-scale fisheries in Indonesia, some customization and development will be required.

    The Intern will work with MDPI and its partners on the following three activities:

    • Evaluate current technology solutions and data collection initiatives underway within MDPI-supported company supply chains and pilot projects
    • Evaluate what adjustments need to be made to existing traceability pilots for them to be scaled up across fisheries
    • Make recommendations on the best approach for creating integration of data, interoperability, between supply chain nodes, including financing options for industry to engage in using these solutions. The technology options and the financing of these need to take the limitations of the small-scale sector into account

    The outcome of this work is a report providing recommendations on the best approaches for integrating data across supply chain codes and between technology pilots as well as incentivizing wider expansion of the devices across the sector.

    Requirements:

    • Currently studying a masters in fisheries or IT related subject
    • Previous IT work experience desirable
    • Knowledge of fisheries supply chains is a plus

    The intern position is open to both Indonesian and international Master’s students and MDPI can support with Indonesian-based costs. Costs of travel to/from Indonesia and visa applications will not be covered by MDPI but we will assist the requirements as necessary.

     MDPI is committed to implementing free discrimination recruitment from the elements of SARA (Tribe, Religion, Race and Intergroup), supporting gender equality, anti-trafficking in persons and rejecting all forms of drug use and trafficking.

    Send complete application to MDPI HR via email: career@mdpi.or.id with subject: Application: Interoperability Internship Program

    Continue Reading