News

  • Pengalaman Berharga Magang sekaligus Melaut Bersama Nelayan

    22 Oct 2019
    Moch Syifa
    140
    0

    PULAU BURU – Nama saya Ari Trisnadhi, mahasiswa semester sembilan Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Universitas Pattimura (Unpatti) Maluku. Di akhir masa studi ini, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk bisa magang di Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI), lebih tepatnya di wilayah Buru Utara, Maluku.

    Kegiatan utama yang saya lakukan selama magang adalah melakukan pengambilan data perikanan dengan menggunakan metode port sampling. Dalam pengambilan data tersebut, saya melakukan pengukuran panjang dan berat ikan, wawancara dengan nelayan mengenai lokasi memancing dan interaksi dengan hewan endangered, threatened, protected (ETP). Semua data tersebut lantas dimasukkan ke sistem database yang disebut dengan i-Fish. Saya menggunakan aplikasi i-Fish yang ada di ponsel saya. Ada empat lokasi pendataan, yaitu di Desa Wailihang, Desa Waprea, Teluk Bara, dan Waipure.

    Selama melakukan pendataan tersebut, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman berharga. Terutama kisah-kisah dari para nelayan yang ada di sana. Ternyata, meskipun mereka termasuk dalam nelayan skala kecil, mereka tetap memahami tentang perikanan berkelanjutan. Para nelayan itu mengatakan, saat ini sudah tidak berani lagi untuk menangkap hiu, lumba-lumba, pari, penyu, atau burung laut. Menurut pemahaman mereka, hewan-hewan yang dilindungi tersebut berfungsi untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan.

    Bahkan, para nelayan itu menyebut lumba-lumba sebagai ‘sahabat’. Mengingat selama ini para nelayan menjadikan lumba-lumba penanda adanya tuna sirip kuning di lautan. “Jika ada gerombolan lumba-lumba, di situ pasti ada ikan tuna,” kata salah satu nelayan. Pengetahuan itu pula yang sudah diwariskan secara turun-temurun.

    Pendataan menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Ari selama menjalani magang di kantor MDPI Buru Utara.

    Pemahaman yang baik oleh para nelayan ini tidak bisa dilepaskan dari sosialisasi yang terus-menerus dilakukan oleh banyak pihak, termasuk oleh tim MDPI yang ada di Buru. Selain itu, para nelayan itu sebagian juga bergabung dalam kelompok Fair Trade. Sedangkan pemahaman tentang hewan-hewan dilindungi tersebut juga merupakan salah satu standar Fair Trade yang harus dipenuhi.

    Selain melakukan pendataan dan wawancara, saya juga berkesempatan untuk melakukan analisis hasil rekaman time lapsed camera (TLC) yang terpasang di perahu nelayan. Tujuan dipasangnya TLC ini adalah untuk mengumpulkan informasi tentang interaksi nelayan terhadap hewan ETP selama melakukan aktivitas memancing. Sekaligus ini untuk memverifikasi data hasil wawancara. Dalam sehari, saya bisa menganalisis sebanyak 3-4 video. Sehingga, selama dua bulan magang di Buru Utara, saya telah melakukan analisis sebanyak 62 video rekaman TLC.

    Analisis yang saya lakukan adalah dengan menonton satu per satu video dari TLC dan mengambil screenshoot dari beragam aktivitas nelayan selama melaut. Tentu saja ada banyak tantangan selama melakukan analisis tersebut. Misalnya, rekaman video yang terputus atau hasil rekaman yang buram atau tidak jelas. Ini mengakibatkan saya menjadi cukup sulit untuk melihat aktivitas para nelayan.

    Selain melakukan kegiatan rutin berupa pendataan dan analisis TLC, saya juga mendapatkan kesempatan yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya berkesempatan untuk ikut nelayan melaut sebanyak dua kali. Saya begitu terkagum-kagum dengan cara para nelayan menangkap tuna. Mereka mengejar sekumpulan lumba-lumba sebagai petunjuk adanya tuna di lautan. Ombak dan panasnya matahari tidak menyurutkan semangat para nelayan untuk menangkap tuna. Dari melaut itu pula, saya bisa melihat langsung fakta di lapangan bagaimana para nelayan menangkap ikan. Ini selaras dengan apa yang sudah saya lakukan pada saat melakukan wawancara dengan para nelayan.

    Saya terus berharap agar kesejahteraan para nelayan bisa meningkat. Saya juga ingin agar pemerintah bisa terus memberikan kebijakan-kebijakan yang mampu mengangkat derajat para nelayan di Indonesia. Terima kasih tak terhingga untuk tim MDPI yang ada di Buru Utara atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya.

     

    Ditulis oleh: Ari Trisnadhi

    Editor: Putra Satria Timur – Mohammad Syifa

     

     

    Continue Reading
  • Jaga Kualitas Data Perikanan, MDPI Lakukan Validasi dan Verifikasi

    16 Oct 2019
    Moch Syifa
    188
    1

    Tim Fisheries Improvement (FI) Yayasan MDPI melakukan validasi dan verifikasi data perikanan pada 3-5 September lalu.

    DENPASAR, 5 September 2019 – Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) merasa perlu untuk selalu menjaga kualitas data perikanan yang dimiliki. Karena itulah, dilaksanakan kegiatan Validasi dan Verifikasi Port Sampling Data yang dilaksanakan pada 3-5 September lalu di kantor Yayasan MDPI di Denpasar. Proses verifikasi tersebut diikuti oleh team Fisheries Improvement Program (FIP), yang didalamnya juga hadir tiga orang Regional Supervisor (RS).

    Dalam sambutannya saat membuka kegiatan validasi tersebut, Direktur Eksekutif Yayasan MDPI Saut Tampubolon menekankan mengenai pentingnya pengelolaan data perikanan yang baik. Terlebih dalam manajemen data perikanan sangat dibutuhkan data dengan kualitas yang baik. “Jika tidak ada data maka tidak ada pengelolaan. Data yang tidak bagus maka pengelolaannya juga tidak bagus. Demikian sebaliknya,” kata Saut.

    Untuk diketahui, kegiatan validasi tersebut memiliki tujuan untuk melihat kembali sekaligus memverifikasi data yang sudah pernah dikumpulkan di semua site MDPI, yakni untuk periode Januari – Juli 2019. Data yang divealidasi dan diverifikasi adalah yang sudah masuk dalam I-Fish database. Poin-poin penting yang dibahas dalam proses validasi tersebut meliputi data trip/perjalanan memancing, data biologis (panjang dan berat ikan), data hewan endangered, threatened, protected (ETP), kapal yang teregistrasi, lokasi memancing, serta poin-poin lainnya yang sudah tercantum dalam standard operation procedure (SOP).

    Selain itu, dengan adanya validasi dan verifikasi tersebut, kualitas data yang dimiliki juga bisa terjamin. Sehingga data yang dilaporkan kepada pemerintah bisa terjamin kualitas dan kuantitasnya. Data ini dibutuhkan oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlangsungan perikanan yang berkelanjutan. Untuk itu, perlu dilakukan proses validasi dan verifikasi sebanyak dua kali dalam setahun.

    Masih dikatakan Saut, pengelolaan bersama perikanan tuna perlu dilakukan. Ini dikarenakan tuna merupakan ikan yang bersifat high migratory atau bermigrasi tinggi. Artinya, pengelolaannya tidak bisa hanya dilakukan oleh pemangku kepentingan di daerah atau pemerintah lokal dan pusat. Melainkan harus dikelola dengan kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah, akademisi, LSM, pelaku industri, dan nelayan. Serta semua pihak yang berkaitan dengan perikanan tuna. Tidak hanya di dalam negeri, melainkan pihak dari luar negeri. “Data yang dikumpulkan oleh MDPI ini digunakan untuk menghitung komposisi tangkapan atau Harvest Strategy (HS) dalam pengelolaan tuna,” lanjut Saut.

    Kegiatan validasi dan verifikasi tersebut dibagi dalam tiga hari. Hari pertama merupakan pengantar beserta update isu-isu terkini dalam pengelolaan perikanan tuna. Sedangkan di hari kedua, pembahasan lebih fokus pada proses validasi dan verifikasi data yang masuk. Dalam kesempatan ini, Data Collection Officer MDPI menampilkan data yang selanjutnya diklarifikasi oleh para RS. Selanjutnya, para RS juga berkesempatan untuk memaparkan kondisi di lapangan, baik itu tantangan maupun temuan-temuan lainnya yang dihadapi. Terakhir, semuanya memastikan bahwa poin-poin yang ada di SOP sudah terpenuhi dengan baik.

    Di hari terakhir, dilakukan pembahasan mengenai temuan-temuan dan permasalahan yang ada di dalam pengelolaan data. Tujuannya agar para RS bisa menindaklanjuti. Dibahas pula mengenai strategi perbaikan dalam melakukan pendataan di lapangan.

    Manajer FIP Yayasan MDPI Wildan menyampaikan bahwa target mengenai fisheries improvement (FI) dalam enam bulan dan rencana kerja yang sudah disusun harus bisa tercapai bersama-sama. Dalam kesempatan itu, juga dilakukan update mengenai rencana kegiatan Fisheries Co-Management Committee (FCMC). Termasuk di dalamnya mengenai rekomendasi dan rencana aksi yang sudah disusun sebelumnya.

     

    Ditulis oleh: Amrulloh

    DIedit oleh: Mohammad Syifa

     

    Continue Reading
  • Magang di MDPI dan Keramahan Masyarakat Dusun Ampera

    4 Oct 2019
    Moch Syifa
    175
    0

    Ikut terlibat langsung dalam proses pengukuran kapal nelayan sebagai salah satu syarat pendaftaran kapal.

    SERAM SELATAN – Nama saya Rifan S. Dikromo atau biasa dipanggil Rifan, seorang mahasiswa semester akhir jurusan Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Universitas Pattimura, Maluku. Saya merasa bersyukur sekali karena mendapatkan kesempatan untuk bisa magang di Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Meskipun hanya berlangsung dua bulan, saya banyak sekali mendapat pengalaman berharga.

    Ada tiga kegiatan utama yang harus saya lakukan selama saya magang di MDPI, yaitu pengambilan data perikanan dengan metode port sampling, pemasangan Time Lapsed Camera (TLC) pada kapal atau perahu nelayan, dan menganalisis hasil hasil rekaman TLC.

    Selama magang di MDPI, saya tinggal Dusun Ampera yang ada di Desa Tamilouw, Seram Selatan. Di sana ada satu kelompok nelayan yang menjadi dampingan Yayasan MDPI, yaitu Kelompok Teluk Ampera yang beranggotakan 18 orang.Tidak sendirian, namun saya juga langsung mendapat bimbingan dari tim MDPI yang ada di sana, yakni Kakak Manda Tuasalamony selaku Site Supervisor MDPI Seram Selatan, Abang Safril sebagai Sustainability Facilitator, dan ada pula Bang La Djamali sebagai Fair Trade Supervisor untuk wilayah Seram Selatan. Selain itu, saya juga banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat.

    Di Seram Selatan, setidaknya ada tiga landing site yang dijadikan sebagai lokasi oleh MDPI untuk sampling pendataan, yakni Ampera, Yainuelo, dan Haruo. Dari ketiga lokasi itu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Yainuelo dan Haruo. Di sana, saya tinggal di rumah nelayan bersama staf MDPI selama satu minggu untuk melakukan pendataan.

    Sedangkan untuk kegiatan analisis TLC, selama dua bulan saya magang, saya sudah menganalisis 91 video, dengan rincian yaitu sebanyak 69 video di Seram Selatan dan 22 video untuk Seram Utara. Tidak hanya itu, saya juga terlibat langsung dalam mendampingi para nelayan untuk proses registrasi kapal atau perahu. Saya terlibat langsung dalam pengurusan dokumen untuk keperluan penerbitan pas kecil dan registrasi kapal dan terlibat dalam proses pengukuran kapal atau perahu nelayan.

    Meskipun hanya berlangsung selama dua bulan, namun kegiatan magang saya tersebut sangat berkesan. Saya pun semakin memahami mengenai ilmu yang telah saya pelajari selama di bangku perkuliahan serta mengetahui langsung seperti apa kondisi di lapangan.

    Selama magang, saya juga sangat terkesan dengan keramahan para penduduk, terutama para nelayan. Saya juga telah merasakan secara langsung tinggal bersama nelayan pada saat melakukan pengambilan data. Bahkan, saya juga berkesempatan untuk bisa berbagi cerita dan pengalaman dengan para nelayan yang saya temui.

    Saya juga berharap agar kesejahteraan para nelayan kecil di Indonesia bisa semakin meningkat. Tentu saja dengan dukungan dari pemerintah serta lembaga atau organisasi seperti MDPI yang terus melakukan pendampingan kepada nelayan kecil.

     

    Ditulis oleh: Rifan S.Dikromo

    Diedit oleh: Mohammad Syifa/MDPI

    Continue Reading
  • Cerita Nelayan Yusran Tomia: Antusias Melihat Hasil Rekaman Kamera Selang Waktu (TLC)

    8 Aug 2019
    Moch Syifa
    364
    0

    ANTUSIAS: Yusran Tomia atau Onco Yus terlihat begitu antusias saat melihat tayangan video dari kamera TLC yang dipasang di kapalnya.

    WAPREA – BURU, 21 Juli 2019 – Yusran Tomia, adalah salah satu nelayan tuna yang berasal dari Desa Waprea, Kecamatan Waplau Kabupaten Buru, Maluku. Laki-laki berusia 40 tahun ini sudah menjalani rutinitas sebagai pencari ika tuna sejak 17 tahun yang lalu. Onco Yus, dia biasa disapa, saat ini tergabung dalam kelompok nelayan Fair Trade Setia Selalu Waprea, yang didampingi Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI).

    Yusran salah satu dari 231 nelayan Fair Tade di Buru yang sangat kooperatif dengan program-program dan proyek yang dilakukan MDPI di Pulau Buru. Salah satunya adalah proyek implementasi Kamera Selang Waktu atau Time Lapsed Camera (TLC) pada kapal nelayan sebagai alat verifikasi port sampling data yang diambil oleh enumerator MDPI. Kamera TLC ini sekaligus sabagai bahan bukti interaksi nelayan terhadap hewan-hewan yang dilindungi atau yang biasa disebut endangered, threatened and protected (ETP).

    “Saya bersedia ketika akan dipasangkan kamera TLC di kapal saya karena sudah diberi penjelasan oleh staf MDPI dan saya pribadi sangat percaya dengan MDPI karena sudah mendampingi kami nelayan Fair Trade selama ini. Dengan adanya kamera ini saya tidak merasa diawasi dan bagi saya ketika TLC diapasang, yang melihat nanti bisa tahu aktivitas nelayan kecil itu seperti apa,” Ujar Onco Yus.

    Ada sebanyak 65 trip yang berhasil direkam kamera TLC pada kapal Onco Yus, dimulai pada Oktober 2017 sampai Juli 2019. Ayah dua orang anak ini sangat antusias untuk melihat hasil rekaman TLC dirinya ketika pulang melaut apalagi dapat ikan tuna dan ada hewan ETP seperti Lumba-lumba, Penyu, Burung, Hiu, Paus dan Pari yang disekitarnya.

    Untung Ayudia, Site Supervisor MDPI Buru, memperlihatkan hasil rekaman melaut dari kamera TLC kepada Onco Yus pada Minggu 21 Juli 2019 lalu. Menyaksikan dirinya terekam kamera saat melaut, Onco Yus merasa senang dan beberapa kali tersenyum ketika melihat hasil rekaman kamera tersebut.

    “Kami sebagai nelayan Fair Trade bersedia jika MDPI ingin memasang baik Time Lapsed Camera (TLC), PDS dan alat lainnya di kapal untuk membantu program perikanan berkelanjutan. Kami dan saya pribadi sangat mendukung itu” Ujar Onco Yus.

    Penulis: Untung Ayudia Musli (Site Supervisor MDPI, Pulau Buru)

    KETERTELUSURAN: Untung (kiri) bersama Onco Yus sering berdiskusi mengenai perikanan yang berkelanjutan.

    Continue Reading
  • Catatan Internship: Banyak Belajar tentang Pendataan Ikan dan Interaksi dengan Nelayan

    6 Aug 2019
    Moch Syifa
    347
    1

    KUPANG- Saya adalah salah satu mahasiswa semester VI Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Nusa Cendana Kupang yang turut serta dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung di Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) yang bertempat di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba  Kota Kupang. PKL saya lakukan untuk periode 1 Juli sampai 2 Agustus 2019.  Kegiatan PKL bertujuan untuk menunjang pengetahuan mahasiswa dalam bidang yang mereka tekuni masing-masing.

    Hari pertama PKL, kaki ini melangkah penuh semangat menghampiri kantor Yayasan MDPI Kupang. Berawal dari senyuman manis yang penuh hangat dari staf yang ada di Yayasan MDPI Kupang. Saya bersama seorang teman saya, Firman, disambut dengan penuh keakraban. Kami memulai hari itu dengan perkenalan singkat dan menyimak materi yang sangat luar biasa sesuai dengan bidang jurusan kami. Materi tersebut disampaikan langsung oleh Pak Alief Dharmawan sabagai Supervisor di Yayasan MDPI Kupang. Materi yang dipaparkan meliputi perikanan yang berkelanjutan, alat tangkap ramah lingkungan, ikan target, hasil tangkapan sampingan, identifikasi ikan, dan indentifikasi langkah awal dalam pengkajian stock. Dari materi ini kami belajar bahwa untuk melestarikan lingkungan laut agar tetap  terjaga sumber daya ikannya harus menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Ini sekaligus untuk mengetahui jenis ikan yang ditargetkan dan hasil tangkapan sampingan untuk didata oleh MDPI.

    Desi belajar melakukan pendataan perikanan, salah satunya adalah dengan melakukan wawancara dengan nelayan.

    Selain materi yang kami dapat, kami juga diarahkan untuk menonton video penangkapan ikan untuk mengindentifikasi jenis-jenis ikan yang nelayan tangkap. Untuk mengidentifikasi jenis ikan kami dijarkan menggunakan analisis data Time Lapsed Camera (TLC). Analisis TLC merupakan sebuah kamera yang mengambil gambar otomatis secara berkala yang digunakan untuk memontoring semua peristiwa yang terjadi. TLC adalah metode baru yang sederhana dalam mengumpulkan data perikanan pancing ulur (Handline) yang tentunya dapat digunakan sebagai bukti ilmiah.

    Kegiatan PKL ini difokuskan pada pendataan di mana saya mendapatkan tugas mendata ikan target dan saya memilih ikan tuna untuk didata sebagai judul PKL saya. Untuk pendataannya, saya memulai dengan melakukan pengukuran panjang ikan tuna dan menimbang berat dari ikan tuna. Pengukuran panjang berat tuna ini  bertujuan untuk mengetahui perbandingan yang signifikan antara panjang dan berat ikan tuna. Pendataan ini didampingi langsung oleh Pak Alief Dharmawan sebagai Site Supervisor. Lalu ada pula Ibu Agnesia Dau sebagai Sustainability Facilitator dan Pak Hernot Reits Jon Loudoe sebagai Sustainability Facilitator. Saya diajarkan bagaimana bersikap dan berinteraksi dengan baik terhadap para nelayan yang kami temui di lapangan guna mendapatkan respon yang baik sehingga kegiatan pendataan dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Adapun tuna yang ditemukan dilapangan, yaitu Thunnus albacares (Yellowfin tuna/YFT), Thunnus obesus ( Bigeye tuna/ BET), Katsumonus pelamis (cakalang/SKJ),  dan Thunnus alalunga (Albakor/ ALB). Sebelum saya melakukan PKL saya mengetahui terdapat semua jenis tuna di PPI Oeba, namun pada kenyataannya hanyalah empat jenis tuna yang didapatkan. Ukuran dan berat ikan tuna yang didapatkan adalah  ikan  SKJ  beratnya adalah 3,1 – 3,8 Kg, Panjangnya 31-62 cm. Berat YFT dimulai dari 1- 65 Kg, panjang 27- 150 cm, berat BET di mulai dari1,17-35 Kg, panjangnya 51-124 cm.

    Saya memilih MDPI sebagai tempat PKL saya karena awalnya MDPI melakukan sebuah seminar di Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana dan dari itu saya melakukan pendekatan dengan Pak Alief. Tak disangka, dia menyambut saya dengan begitu antusias sehingga saya merasa nyaman untuk melakukan PKL di MDPI.

     

    Ditulis oleh: Desi Satria Homa Galla

    Continue Reading
  • Catatan Internship: Pengalaman Pertama Melakukan Pendataan dan Pengukuran Ikan

    6 Aug 2019
    Moch Syifa
    282
    2

    KUPANG- Mentari mulai terbit dari ufuk timur. Artinya, pagi telah tiba. Saya pun bersiap-siap untuk menuju tempat yang nantinya akan memberikan cerita dan ilmu baru. Tempat itu adalah Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia atau biasa disingkat MDPI yang berada di Kupang, tepatnya terletak di PPI Oeba Kota Kupang.

    Ini menjadi awal mula perjalanan sebulan penuh saya untuk mencari dan belajar ilmu sebagai bentuk pemenuhan terhadap salah satu tugas dari kampus, yakni melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL). Awalnya saya tertarik untuk melakukan PKL di Yayasan MDPI karena beberapa waktu lalu Yayasan MDPI berkunjung ke kampus Universitas Nusa Cendana Kupang. Dari situlah selanjutnya saya tertarik untuk belajar lebih dalam lagi dan melakukan pendekatan untuk bisa PKL. Sebuah kesempatan yang tidak saya sia-siakan  karena jarang sekali ada tempat atau instansi yang melakukan pendataan dengan fokus utamanya adalah tuna .

    Tahap awal ketika saya memulai PKL di Yayasan MDPI Kupang adalah dengan melakukan perkenalan. Saya bertemu langsung dengan Pak Alief Dharmawan sebagai Site Supervisor, Agnesia Dau sebagai Sustainability Facilitator dan Hernot Reits Jon Loudoe sebagai Sustainability Facilitator. Merekalah yang membimbing, serta menjadi inspirator, sekaligus motivator selama saya melakukan PKL.

    Hal pertama saya lakukan saat melakukan PKL di Yayasan MDPI adalah pengenalan tentang apa yang dilakukan Yayasan MDPI dalam mendukung perikanan berkelanjutan di Kupang. Penjelasan mengenai materi-materi tersebut dilakukan langsung oleh Alief,Agnes dan Reits. Pengenalan materi ini berlangsung selama empat hari dan banyak ilmu baru yang saya dapat. Di antaranya adalah terkait jenis ikan target, tangkapan sampingan, tangkapan lain dari handline serta cara untuk mengidentifikasi ikan  serta hewan-hewan yang dilindungi atau biasa disebut dengan ETP.

    Bukan hanya itu yang diberikan, tetapi masih banyak lagi materi yang saya dapatkan terkait dengan kegiatan pendataan ikan. Yaitu mengenai tata cara atau prosedur dalam pengisian form serta bagaimana tata cara ketika berpapasan langsung dengan nelayan dan mewawancarai mereka. Adapula tata cara menggunakan alat pengukur panjang ikan baik itu tuna diatas 10 kg maupun yang dibawah 10 kg , dan pengenalan terhadap tiga supplier tempat dilakukan pendataan yakni UD.Tunas Harapan, CV.ASK dan UD.Bara, serta masih banyak materi yang lainnya.

    Firman mencoba untuk pertama kalinya melakukan pengukuran ikan saat melakukan kegiatan magang/internship di Yayasan MDPI Kupang.

    Mempelajari hal baru menjadikan saya lebih semangat untuk belajar. Tetapi ada juga kendala terbesar bagi saya, yaitu ketika harus menghafal nama-nama latin dari ikan.  Selain itu, saya juga mendapatkan materi lainnya, yaitu mengenai analisis Time Lapsed Camera (TLC) yang merupakan pengembangan dari bidang fotografi yang menjadikan sekumpulan foto yang diambil dari periode tertentu menjadi sebuah video. Waktu pengambilan foto bisa dibuat berkala setiap beberapa detik maupun menit bergantung pada kebutuhan.

    Pertama kali melihat hasil rekaman TLC, saya pun terkagum-kagum. Dari video itu, terlihat begitu jelas semua kegiatan nelayan, termasuk bagaimana nelayan menangkap ikan. Tidak hanya melihat video, saya juga mendapat tugas langsung dari supervisor untuk menganalisis video tersebut, yaitu dengan melihat hasil tangkapan, termasuk semua jenis ikan, rumpon, hewan dilindungi serta kejadian lain dengan cara  screenshot video tersebut dan setelah itu diinput ke dalam file excel. Ada banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan dari kegiatan analisis ini. Di antaranya adalah untuk selalu fokus dan bekerja sama dengan teman saya dalam melakukan analisis agar bisa mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Namun adapula kendala yang saya temui. Yaitu hasil screenshot yang terlihat buram sehingga kami sulit untuk melakukan identifikasi.

    Pengalaman menarik lainnya adalah saya harus memulai turun ke lapangan untuk melakukan pendataan ikan. Ini adalah pengalamn pertama saya yang sangat berharga. Awalnya, saya tidak langsung melakukan pengukuran, namun saya banyak melakukan pengamatan. Setelah beberapa hari, tiba saatnya pertama kalinya saya memegang alat untuk mengukur panjang ikan tuna diatas 10 kg yang biasa disebut dengan caliper. Ketika itu juga keringat dingin mulai bermain-main dari wajah yang penuh ketakutan karena baru pertama kali menjalankan hal ini. Walau gugup tetapi bukan menjadi alasan untuk tidak bisa berbuat. Hal ini justru menjadi pemicu utnuk saya lebih memaksimalkan peluang yang telah diberikan dan alhasil mengukur ikan tuna bisa saya lakukan tanpa ada kesalahan apapun.

    Selanjutnya saya langsung diberikan kesempatan oleh supervisor untuk mengukur tuna dibawah 10 kg menggunakan papan ukur dan saya tetap pada pendirian bahwa harus bisa walaupun hal baru tidak menyulitkan ketika melakukannya dan ikan berhasil saya ukur dengan kemampuan baru tetapi mendapat hasil yang memadai. Selanjutnya data yang diperoleh diupload ke I-FISH.

    Praktik kerja lapang di MDPI menjadikan diri ini lebih banyak mengetahui ilmu baru, pengalaman baru serta banyak hal yang tak dapat dideskripsikan satu persatu. Pada hakikatnya bahwa ilmu yang saya dapat di sini akan menjadi modal awal yang berharga di hari-hari yang akan datang. Mungkin kata-kata tak mampu untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan ketika PKL disini tetapi terlebih dari itu hanya kata terima kasih untuk Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Kupang.

     

     

    Ditulis oleh: Firman Nur Laga Lewo

     

     

    Continue Reading
  • PRESS RELEASE: INVEST Project for Women’s Economic Empowerment in Fisheries Supply Chains

    16 Jul 2019
    Moch Syifa
    463
    0

    BALI, July 11, 2019 – Under USAID’s INVEST initiative, MDPI has been awarded a project to develop and test an approach that incorporates FinTech solutions and women’s economic empowerment activities alongside the electronic catch documentation and traceability (eCDT) app, Trafiz. The main objectives of this project are to improve the role of women in small-scale fisheries through women’s empowerment activities that lead to improved livelihoods and greater involvement in the ecosystem approach to fisheries management (EAFM).

    The target area of this project is North Sulawesi, initially focusing on the three areas overlapping with MDPI’s work under the USAID Oceans and Fisheries Partnership (Manado, Bitung and Sangihe) with the option for expanding beyond these areas being assessed. The target fishery is the small-scale handline tuna fishery of North Sulawesi. Previously, MDPI has piloted Trafiz, an Android-based app developed by Altermyth, in partnership with MDPI, for three male suppliers in North Sulawesi, with support from USAID Oceans, and three female suppliers in North Maluku, with support from USAID SEA project.

    It is known that women also play a key role in these supply chains, in terms of transfer of fish from one actor to the next and therefore there is potential in expanding the use of the app to these female actors to gather a wider coverage of data. It is also hypothesized that the input of data could be motivated through the incentive of an enabling financial service embedded in the Trafiz app. One of the examples of the women’s involvement in these small-scale fisheries can be seen in Bitung, North Sulawesi, where 50 percent of the existing workforce in the wholesalers node are women. They often have an important role in financial management in the households. However, women often face barriers in accessing financial services, in terms of limited or no collateral, especially in small-scale enterprises. Financial literacy amongst supply chain actors could also be strengthened for household benefits. This INVEST project aims to help support the role of women in this fishery supply chain, particularly related to financial management and fisheries management engagement.

    This INVEST project will cover four objectives: assessment of barriers to finance faced by women in small-scale fisheries (SSF) and integration of FinTech tools into Trafiz, delivery of women’s empowerment activities that leads to improved livelihoods and greater engagement in an ecosystem approach to fisheries management (EAFM), increase women’s influence in planning and implementing EAFM, and implement mixed-methods data collection to support the Learning Initiative.

    Continue Reading
  • Tak Sekadar Alat Komunikasi, Ponsel Bantu Nelayan Buru Utara dalam Melaut

    30 Jun 2019
    Moch Syifa
    376
    0

    Bagi para nelayan Fair Trade di Buru Utara, Maluku, telepon seluler (ponsel) bukan hanya sekadar alat komunikasi. Lebih dari itu, para nelayan memanfaatkan ponsel sebagai alat bantu penunjuk arah atau global positioning system (GPS) pada saat melaut. Terutama saat cuaca buruk atau gelap. Para nelayan memanfaatkan ponsel yang sudah dilengkapi dengan aplikasi GPS didalamnya. Meskipun sedang berada di laut dan jauh dari jangkauan sinyal, namun para nelayan tetap bisa memanfaatkan GPS. Ini karena sekarang sudah banyak aplikasi GPS yang tidak membutuhkan sinyal internet.

    Selain untuk penunjuk arah atau GPS, ponsel pintar yang dilengkapi dengan kamera tersebut juga sekaligus membantu para nelayan untuk ikut berpartisipasi dalam pemberantasan illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing. Karena dengan kamera yang ada di ponsel itu, para nelayan bisa memotret kapal-kapal ilegal yang mereka temui saat memancing tuna di lautan lepas.

    Ke depannya, dengan dampingan dari Yayasan MDPI, ponsel yang dimiliki oleh nelayan ini juga bisa menjadi sarana e-learning atau media belajar tentang Fair Trade. Metode belajar dengan menggunakan video ini akan lebih menyenangkan dan memudahkan bagi para nelayan dalam memahami tentang Fair Trade. Program pembelajaran ini dilakukan melalui kerja sama USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) project dan pemegang sertifikat Fair Trade Coral Triangle Processor, yang dikerjakan oleh Yayasan IDEP. Bentuk pembelajarannya adalah dengan menyederhanakan Fair Trade USA Captured Fisheries Standards menjadi materi pembelajaran untuk meningkatkan pengertian nelayan tentang standar Fair Trade sesuai dengan tingkatannya.

     

    Penulis: Mohammad Syifa/MDPI

    Continue Reading
  • Melaut Kini Sudah Tidak Lagi Was-Was

    28 Jun 2019
    Moch Syifa
    481
    0

    Ali Laode, 34, adalah satu dari sekian nelayan di Desa Sangowo, Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, yang kini merasakan manfaat dari registrasi kapal. Bang Ali, begitu dia akrab disapa, tidak perlu lagi was-was ketika melaut dan bertemu dengan petugas Polair. “Kalau ketemu petugas (Polair, Red), tinggal tunjukkan saja BPKP,” katanya.

    Ali memang kini sudah mengantongi dokumen Bukti Pencatatan Kapal Perikanan (BPKP). Dokumen itu dia terima secara resmi bertepatan dengan acara kunjungan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia ke Pulau Morotai pada April lalu. Dengan adanya dokumen itu, Ali mengaku saat ini bisa melaut dengan tenang. “Sekarang lebih aman. Tidak perlu takut-takut lagi ditangkap petugas,” sambung lelaki yang mulai menjadi nelayan tuna sirip kuning sejak 2016 lalu.

    Sebagai nelayan kecil, Ali kini mengaku mengetahui pentingnya memiliki dokumen kapal. Menurut dia, dengan adanya BPKP, berarti dia mengambil ikan di laut secara legal. Sehingga, ikan yang didapatnya juga bisa dijual ke luar negeri. Tidak hanya tentang kelengkapan dokumen, Ali juga lebih memperhatikan kebersihan ikan hasil tangkapannya. “Harus dijaga agar tidak kotor. Karena ikan yang dijual harus selalu bersih,” lanjut Ali.

    Ali mendapatkan pengetahuan tentang penanganan ikan itu setelah dia ikut dalam pelatihan Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB). Kegiatan itu diselenggarakan dengan dinas perikanan setempat dan difasilitasi oleh Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Dalam pelatihan itu, para nelayan diberikan pengetahuan tentang bagaimana menangani ikan hasil tangkapan yang benar agar kualitasnya tetap bisa terjaga.

    Sejak 2018 lalu, Yayasan MDPI dengan dukungan dari Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) hadir di Pulau Morotai untuk melakukan pendampingan terhadap nelayan kecil, khususnya nelayan tuna sirip kuning. Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan MDPI di antaranya adalah pendataan ikan dengan metode port sampling, pendampingan penguruan dokumen kapal (vessels registration), serta kegiatan sosialisasi tentang hewan endangered, threatened, protected (ETP) kepada nelayan.

     

    Penulis/Foto: Mohammad Syifa

    Continue Reading
  • MDPI, Anova, and Harta Samudra Receive Award for Traceability Implementation

    24 Jun 2019
    Moch Syifa
    605
    0

    JAKARTA, June 18, 2019 – MDPI Foundation, Anova, and Harta Samudra collaborated with Bumble Bee Seafoods and the German-based company SAP logistics to successfully implement blockchain technology for strengthening traceability in supply chains sourcing from small-scale handline fisheries. This implementation is the first in Indonesia and the world for small-scale fisheries.

    Blane Olson, Director of Anova Technical Services, LLC said that blockchain has an important role in seafood traceability. “Blockchain is the ultimate tool to combine all existing seafood related technologies, into a common stream, to ensure transparency, traceability, food safety accountability and legal reported fisheries activities from the fishing vessel to the end consumer.” said Blane.

    This successful improvement of traceability is also a benefit for Indonesian handline fisheries. This shows that Indonesia can continue to be a front runner in the efforts to successfully implement sustainability measures in fisheries. Fishermen can demonstrate that they operate within a traceable and legal supply chain, and can be guaranteed of the related Fair Trade Premium Fund being reliably and quickly calculated from their catch.

    As a form of appreciation for the success in implementing traceability in small-scale fisheries, the event Luncheon will be held on June 18, 2019 along with MDPI, Anova, and Harta Samudra partners. The purpose of this event is to commemorate the presentation of the SAP Innovation Award for Social Hero to MDPI, Anova Food, and Harta Samudra for their current work on blockchain technology and the implementation of Fair Trade in Indonesia in small-scale handline yellowfin tuna fisheries. The three partners are honored to receive this award, selected from 433 candidates globally.

    TraceTales is an innovative traceability system developed by MDPI, with support from the USAID Oceans and Fisheries Partnership. TraceTales was instrumental in facilitating the successful implementation of the blockchain technology for the Indonesian yellowfin handline supply chain. The TraceTales solution will be an important industry leading platform to integrate additional fisheries throughout Indonesia to increase supply chain visibility, optimization, and full transparency of the Indonesia fish industry.

    Saut Tampubolon, Executive Director of MDPI said that developing traceability system is very challenging. “It can be very challenging to implement Blockchain technology for a small-scale fishery, composed of thousands of independent one-manned vessels and operating on remote islands, but MDPI has made it happen by developing a software solution for seafood processors capturing, storing, and managing product data electronically, “TRACETALES”. MDPI is committed to continuing the development of the TraceTales system to support the achievement of sustainable fisheries management from an environmental, social and economic perspective. On this occasion, we are very proud to receive this award, encouraging us to be a leader in innovating Indonesian fisheries for the future,” added Saut.

     

    TraceTales and SAP blockchain is currently installed in PT Harta Samudra in two processing plants: in Ambon, and Buru. It is also installed in PT Aneka Sumber Tata Bahari Tulehu, Central Maluku and in PT Blue Ocean Grace International (BOGI) Bitung, North Sulawesi. Since 2018, nearly 2,300 tons of frozen loin product from the five plants can be traced using the TraceTales system.

    The TraceTales system will be available to all Indonesian seafood processors and MDPI will work with industry to expand and improve Indonesian seafood traceability, food safety, transparency and sustainability and, hence improving the worldwide business success of Indonesian Seafood Companies.

    Continue Reading