News

  • Cerita Nelayan Yusran Tomia: Antusias Melihat Hasil Rekaman Kamera Selang Waktu (TLC)

    8 Aug 2019
    Moch Syifa
    188
    0

    ANTUSIAS: Yusran Tomia atau Onco Yus terlihat begitu antusias saat melihat tayangan video dari kamera TLC yang dipasang di kapalnya.

    WAPREA – BURU, 21 Juli 2019 – Yusran Tomia, adalah salah satu nelayan tuna yang berasal dari Desa Waprea, Kecamatan Waplau Kabupaten Buru, Maluku. Laki-laki berusia 40 tahun ini sudah menjalani rutinitas sebagai pencari ika tuna sejak 17 tahun yang lalu. Onco Yus, dia biasa disapa, saat ini tergabung dalam kelompok nelayan Fair Trade Setia Selalu Waprea, yang didampingi Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI).

    Yusran salah satu dari 231 nelayan Fair Tade di Buru yang sangat kooperatif dengan program-program dan proyek yang dilakukan MDPI di Pulau Buru. Salah satunya adalah proyek implementasi Kamera Selang Waktu atau Time Lapsed Camera (TLC) pada kapal nelayan sebagai alat verifikasi port sampling data yang diambil oleh enumerator MDPI. Kamera TLC ini sekaligus sabagai bahan bukti interaksi nelayan terhadap hewan-hewan yang dilindungi atau yang biasa disebut endangered, threatened and protected (ETP).

    “Saya bersedia ketika akan dipasangkan kamera TLC di kapal saya karena sudah diberi penjelasan oleh staf MDPI dan saya pribadi sangat percaya dengan MDPI karena sudah mendampingi kami nelayan Fair Trade selama ini. Dengan adanya kamera ini saya tidak merasa diawasi dan bagi saya ketika TLC diapasang, yang melihat nanti bisa tahu aktivitas nelayan kecil itu seperti apa,” Ujar Onco Yus.

    Ada sebanyak 65 trip yang berhasil direkam kamera TLC pada kapal Onco Yus, dimulai pada Oktober 2017 sampai Juli 2019. Ayah dua orang anak ini sangat antusias untuk melihat hasil rekaman TLC dirinya ketika pulang melaut apalagi dapat ikan tuna dan ada hewan ETP seperti Lumba-lumba, Penyu, Burung, Hiu, Paus dan Pari yang disekitarnya.

    Untung Ayudia, Site Supervisor MDPI Buru, memperlihatkan hasil rekaman melaut dari kamera TLC kepada Onco Yus pada Minggu 21 Juli 2019 lalu. Menyaksikan dirinya terekam kamera saat melaut, Onco Yus merasa senang dan beberapa kali tersenyum ketika melihat hasil rekaman kamera tersebut.

    “Kami sebagai nelayan Fair Trade bersedia jika MDPI ingin memasang baik Time Lapsed Camera (TLC), PDS dan alat lainnya di kapal untuk membantu program perikanan berkelanjutan. Kami dan saya pribadi sangat mendukung itu” Ujar Onco Yus.

    Penulis: Untung Ayudia Musli (Site Supervisor MDPI, Pulau Buru)

    KETERTELUSURAN: Untung (kiri) bersama Onco Yus sering berdiskusi mengenai perikanan yang berkelanjutan.

    Continue Reading
  • Catatan Internship: Banyak Belajar tentang Pendataan Ikan dan Interaksi dengan Nelayan

    6 Aug 2019
    Moch Syifa
    149
    0

    KUPANG- Saya adalah salah satu mahasiswa semester VI Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Nusa Cendana Kupang yang turut serta dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung di Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) yang bertempat di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba  Kota Kupang. PKL saya lakukan untuk periode 1 Juli sampai 2 Agustus 2019.  Kegiatan PKL bertujuan untuk menunjang pengetahuan mahasiswa dalam bidang yang mereka tekuni masing-masing.

    Hari pertama PKL, kaki ini melangkah penuh semangat menghampiri kantor Yayasan MDPI Kupang. Berawal dari senyuman manis yang penuh hangat dari staf yang ada di Yayasan MDPI Kupang. Saya bersama seorang teman saya, Firman, disambut dengan penuh keakraban. Kami memulai hari itu dengan perkenalan singkat dan menyimak materi yang sangat luar biasa sesuai dengan bidang jurusan kami. Materi tersebut disampaikan langsung oleh Pak Alief Dharmawan sabagai Supervisor di Yayasan MDPI Kupang. Materi yang dipaparkan meliputi perikanan yang berkelanjutan, alat tangkap ramah lingkungan, ikan target, hasil tangkapan sampingan, identifikasi ikan, dan indentifikasi langkah awal dalam pengkajian stock. Dari materi ini kami belajar bahwa untuk melestarikan lingkungan laut agar tetap  terjaga sumber daya ikannya harus menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Ini sekaligus untuk mengetahui jenis ikan yang ditargetkan dan hasil tangkapan sampingan untuk didata oleh MDPI.

    Desi belajar melakukan pendataan perikanan, salah satunya adalah dengan melakukan wawancara dengan nelayan.

    Selain materi yang kami dapat, kami juga diarahkan untuk menonton video penangkapan ikan untuk mengindentifikasi jenis-jenis ikan yang nelayan tangkap. Untuk mengidentifikasi jenis ikan kami dijarkan menggunakan analisis data Time Lapsed Camera (TLC). Analisis TLC merupakan sebuah kamera yang mengambil gambar otomatis secara berkala yang digunakan untuk memontoring semua peristiwa yang terjadi. TLC adalah metode baru yang sederhana dalam mengumpulkan data perikanan pancing ulur (Handline) yang tentunya dapat digunakan sebagai bukti ilmiah.

    Kegiatan PKL ini difokuskan pada pendataan di mana saya mendapatkan tugas mendata ikan target dan saya memilih ikan tuna untuk didata sebagai judul PKL saya. Untuk pendataannya, saya memulai dengan melakukan pengukuran panjang ikan tuna dan menimbang berat dari ikan tuna. Pengukuran panjang berat tuna ini  bertujuan untuk mengetahui perbandingan yang signifikan antara panjang dan berat ikan tuna. Pendataan ini didampingi langsung oleh Pak Alief Dharmawan sebagai Site Supervisor. Lalu ada pula Ibu Agnesia Dau sebagai Sustainability Facilitator dan Pak Hernot Reits Jon Loudoe sebagai Sustainability Facilitator. Saya diajarkan bagaimana bersikap dan berinteraksi dengan baik terhadap para nelayan yang kami temui di lapangan guna mendapatkan respon yang baik sehingga kegiatan pendataan dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Adapun tuna yang ditemukan dilapangan, yaitu Thunnus albacares (Yellowfin tuna/YFT), Thunnus obesus ( Bigeye tuna/ BET), Katsumonus pelamis (cakalang/SKJ),  dan Thunnus alalunga (Albakor/ ALB). Sebelum saya melakukan PKL saya mengetahui terdapat semua jenis tuna di PPI Oeba, namun pada kenyataannya hanyalah empat jenis tuna yang didapatkan. Ukuran dan berat ikan tuna yang didapatkan adalah  ikan  SKJ  beratnya adalah 3,1 – 3,8 Kg, Panjangnya 31-62 cm. Berat YFT dimulai dari 1- 65 Kg, panjang 27- 150 cm, berat BET di mulai dari1,17-35 Kg, panjangnya 51-124 cm.

    Saya memilih MDPI sebagai tempat PKL saya karena awalnya MDPI melakukan sebuah seminar di Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana dan dari itu saya melakukan pendekatan dengan Pak Alief. Tak disangka, dia menyambut saya dengan begitu antusias sehingga saya merasa nyaman untuk melakukan PKL di MDPI.

     

    Ditulis oleh: Desi Satria Homa Galla

    Continue Reading
  • Catatan Internship: Pengalaman Pertama Melakukan Pendataan dan Pengukuran Ikan

    6 Aug 2019
    Moch Syifa
    154
    0

    KUPANG- Mentari mulai terbit dari ufuk timur. Artinya, pagi telah tiba. Saya pun bersiap-siap untuk menuju tempat yang nantinya akan memberikan cerita dan ilmu baru. Tempat itu adalah Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia atau biasa disingkat MDPI yang berada di Kupang, tepatnya terletak di PPI Oeba Kota Kupang.

    Ini menjadi awal mula perjalanan sebulan penuh saya untuk mencari dan belajar ilmu sebagai bentuk pemenuhan terhadap salah satu tugas dari kampus, yakni melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL). Awalnya saya tertarik untuk melakukan PKL di Yayasan MDPI karena beberapa waktu lalu Yayasan MDPI berkunjung ke kampus Universitas Nusa Cendana Kupang. Dari situlah selanjutnya saya tertarik untuk belajar lebih dalam lagi dan melakukan pendekatan untuk bisa PKL. Sebuah kesempatan yang tidak saya sia-siakan  karena jarang sekali ada tempat atau instansi yang melakukan pendataan dengan fokus utamanya adalah tuna .

    Tahap awal ketika saya memulai PKL di Yayasan MDPI Kupang adalah dengan melakukan perkenalan. Saya bertemu langsung dengan Pak Alief Dharmawan sebagai Site Supervisor, Agnesia Dau sebagai Sustainability Facilitator dan Hernot Reits Jon Loudoe sebagai Sustainability Facilitator. Merekalah yang membimbing, serta menjadi inspirator, sekaligus motivator selama saya melakukan PKL.

    Hal pertama saya lakukan saat melakukan PKL di Yayasan MDPI adalah pengenalan tentang apa yang dilakukan Yayasan MDPI dalam mendukung perikanan berkelanjutan di Kupang. Penjelasan mengenai materi-materi tersebut dilakukan langsung oleh Alief,Agnes dan Reits. Pengenalan materi ini berlangsung selama empat hari dan banyak ilmu baru yang saya dapat. Di antaranya adalah terkait jenis ikan target, tangkapan sampingan, tangkapan lain dari handline serta cara untuk mengidentifikasi ikan  serta hewan-hewan yang dilindungi atau biasa disebut dengan ETP.

    Bukan hanya itu yang diberikan, tetapi masih banyak lagi materi yang saya dapatkan terkait dengan kegiatan pendataan ikan. Yaitu mengenai tata cara atau prosedur dalam pengisian form serta bagaimana tata cara ketika berpapasan langsung dengan nelayan dan mewawancarai mereka. Adapula tata cara menggunakan alat pengukur panjang ikan baik itu tuna diatas 10 kg maupun yang dibawah 10 kg , dan pengenalan terhadap tiga supplier tempat dilakukan pendataan yakni UD.Tunas Harapan, CV.ASK dan UD.Bara, serta masih banyak materi yang lainnya.

    Firman mencoba untuk pertama kalinya melakukan pengukuran ikan saat melakukan kegiatan magang/internship di Yayasan MDPI Kupang.

    Mempelajari hal baru menjadikan saya lebih semangat untuk belajar. Tetapi ada juga kendala terbesar bagi saya, yaitu ketika harus menghafal nama-nama latin dari ikan.  Selain itu, saya juga mendapatkan materi lainnya, yaitu mengenai analisis Time Lapsed Camera (TLC) yang merupakan pengembangan dari bidang fotografi yang menjadikan sekumpulan foto yang diambil dari periode tertentu menjadi sebuah video. Waktu pengambilan foto bisa dibuat berkala setiap beberapa detik maupun menit bergantung pada kebutuhan.

    Pertama kali melihat hasil rekaman TLC, saya pun terkagum-kagum. Dari video itu, terlihat begitu jelas semua kegiatan nelayan, termasuk bagaimana nelayan menangkap ikan. Tidak hanya melihat video, saya juga mendapat tugas langsung dari supervisor untuk menganalisis video tersebut, yaitu dengan melihat hasil tangkapan, termasuk semua jenis ikan, rumpon, hewan dilindungi serta kejadian lain dengan cara  screenshot video tersebut dan setelah itu diinput ke dalam file excel. Ada banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan dari kegiatan analisis ini. Di antaranya adalah untuk selalu fokus dan bekerja sama dengan teman saya dalam melakukan analisis agar bisa mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Namun adapula kendala yang saya temui. Yaitu hasil screenshot yang terlihat buram sehingga kami sulit untuk melakukan identifikasi.

    Pengalaman menarik lainnya adalah saya harus memulai turun ke lapangan untuk melakukan pendataan ikan. Ini adalah pengalamn pertama saya yang sangat berharga. Awalnya, saya tidak langsung melakukan pengukuran, namun saya banyak melakukan pengamatan. Setelah beberapa hari, tiba saatnya pertama kalinya saya memegang alat untuk mengukur panjang ikan tuna diatas 10 kg yang biasa disebut dengan caliper. Ketika itu juga keringat dingin mulai bermain-main dari wajah yang penuh ketakutan karena baru pertama kali menjalankan hal ini. Walau gugup tetapi bukan menjadi alasan untuk tidak bisa berbuat. Hal ini justru menjadi pemicu utnuk saya lebih memaksimalkan peluang yang telah diberikan dan alhasil mengukur ikan tuna bisa saya lakukan tanpa ada kesalahan apapun.

    Selanjutnya saya langsung diberikan kesempatan oleh supervisor untuk mengukur tuna dibawah 10 kg menggunakan papan ukur dan saya tetap pada pendirian bahwa harus bisa walaupun hal baru tidak menyulitkan ketika melakukannya dan ikan berhasil saya ukur dengan kemampuan baru tetapi mendapat hasil yang memadai. Selanjutnya data yang diperoleh diupload ke I-FISH.

    Praktik kerja lapang di MDPI menjadikan diri ini lebih banyak mengetahui ilmu baru, pengalaman baru serta banyak hal yang tak dapat dideskripsikan satu persatu. Pada hakikatnya bahwa ilmu yang saya dapat di sini akan menjadi modal awal yang berharga di hari-hari yang akan datang. Mungkin kata-kata tak mampu untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan ketika PKL disini tetapi terlebih dari itu hanya kata terima kasih untuk Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Kupang.

     

     

    Ditulis oleh: Firman Nur Laga Lewo

     

     

    Continue Reading
  • PRESS RELEASE: INVEST Project for Women’s Economic Empowerment in Fisheries Supply Chains

    16 Jul 2019
    Moch Syifa
    327
    0

    BALI, July 11, 2019 – Under USAID’s INVEST initiative, MDPI has been awarded a project to develop and test an approach that incorporates FinTech solutions and women’s economic empowerment activities alongside the electronic catch documentation and traceability (eCDT) app, Trafiz. The main objectives of this project are to improve the role of women in small-scale fisheries through women’s empowerment activities that lead to improved livelihoods and greater involvement in the ecosystem approach to fisheries management (EAFM).

    The target area of this project is North Sulawesi, initially focusing on the three areas overlapping with MDPI’s work under the USAID Oceans and Fisheries Partnership (Manado, Bitung and Sangihe) with the option for expanding beyond these areas being assessed. The target fishery is the small-scale handline tuna fishery of North Sulawesi. Previously, MDPI has piloted Trafiz, an Android-based app developed by Altermyth, in partnership with MDPI, for three male suppliers in North Sulawesi, with support from USAID Oceans, and three female suppliers in North Maluku, with support from USAID SEA project.

    It is known that women also play a key role in these supply chains, in terms of transfer of fish from one actor to the next and therefore there is potential in expanding the use of the app to these female actors to gather a wider coverage of data. It is also hypothesized that the input of data could be motivated through the incentive of an enabling financial service embedded in the Trafiz app. One of the examples of the women’s involvement in these small-scale fisheries can be seen in Bitung, North Sulawesi, where 50 percent of the existing workforce in the wholesalers node are women. They often have an important role in financial management in the households. However, women often face barriers in accessing financial services, in terms of limited or no collateral, especially in small-scale enterprises. Financial literacy amongst supply chain actors could also be strengthened for household benefits. This INVEST project aims to help support the role of women in this fishery supply chain, particularly related to financial management and fisheries management engagement.

    This INVEST project will cover four objectives: assessment of barriers to finance faced by women in small-scale fisheries (SSF) and integration of FinTech tools into Trafiz, delivery of women’s empowerment activities that leads to improved livelihoods and greater engagement in an ecosystem approach to fisheries management (EAFM), increase women’s influence in planning and implementing EAFM, and implement mixed-methods data collection to support the Learning Initiative.

    Continue Reading
  • Tak Sekadar Alat Komunikasi, Ponsel Bantu Nelayan Buru Utara dalam Melaut

    30 Jun 2019
    Moch Syifa
    283
    0

    Bagi para nelayan Fair Trade di Buru Utara, Maluku, telepon seluler (ponsel) bukan hanya sekadar alat komunikasi. Lebih dari itu, para nelayan memanfaatkan ponsel sebagai alat bantu penunjuk arah atau global positioning system (GPS) pada saat melaut. Terutama saat cuaca buruk atau gelap. Para nelayan memanfaatkan ponsel yang sudah dilengkapi dengan aplikasi GPS didalamnya. Meskipun sedang berada di laut dan jauh dari jangkauan sinyal, namun para nelayan tetap bisa memanfaatkan GPS. Ini karena sekarang sudah banyak aplikasi GPS yang tidak membutuhkan sinyal internet.

    Selain untuk penunjuk arah atau GPS, ponsel pintar yang dilengkapi dengan kamera tersebut juga sekaligus membantu para nelayan untuk ikut berpartisipasi dalam pemberantasan illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing. Karena dengan kamera yang ada di ponsel itu, para nelayan bisa memotret kapal-kapal ilegal yang mereka temui saat memancing tuna di lautan lepas.

    Ke depannya, dengan dampingan dari Yayasan MDPI, ponsel yang dimiliki oleh nelayan ini juga bisa menjadi sarana e-learning atau media belajar tentang Fair Trade. Metode belajar dengan menggunakan video ini akan lebih menyenangkan dan memudahkan bagi para nelayan dalam memahami tentang Fair Trade. Program pembelajaran ini dilakukan melalui kerja sama USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) project dan pemegang sertifikat Fair Trade Coral Triangle Processor, yang dikerjakan oleh Yayasan IDEP. Bentuk pembelajarannya adalah dengan menyederhanakan Fair Trade USA Captured Fisheries Standards menjadi materi pembelajaran untuk meningkatkan pengertian nelayan tentang standar Fair Trade sesuai dengan tingkatannya.

     

    Penulis: Mohammad Syifa/MDPI

    Continue Reading
  • Melaut Kini Sudah Tidak Lagi Was-Was

    28 Jun 2019
    Moch Syifa
    378
    0

    Ali Laode, 34, adalah satu dari sekian nelayan di Desa Sangowo, Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, yang kini merasakan manfaat dari registrasi kapal. Bang Ali, begitu dia akrab disapa, tidak perlu lagi was-was ketika melaut dan bertemu dengan petugas Polair. “Kalau ketemu petugas (Polair, Red), tinggal tunjukkan saja BPKP,” katanya.

    Ali memang kini sudah mengantongi dokumen Bukti Pencatatan Kapal Perikanan (BPKP). Dokumen itu dia terima secara resmi bertepatan dengan acara kunjungan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia ke Pulau Morotai pada April lalu. Dengan adanya dokumen itu, Ali mengaku saat ini bisa melaut dengan tenang. “Sekarang lebih aman. Tidak perlu takut-takut lagi ditangkap petugas,” sambung lelaki yang mulai menjadi nelayan tuna sirip kuning sejak 2016 lalu.

    Sebagai nelayan kecil, Ali kini mengaku mengetahui pentingnya memiliki dokumen kapal. Menurut dia, dengan adanya BPKP, berarti dia mengambil ikan di laut secara legal. Sehingga, ikan yang didapatnya juga bisa dijual ke luar negeri. Tidak hanya tentang kelengkapan dokumen, Ali juga lebih memperhatikan kebersihan ikan hasil tangkapannya. “Harus dijaga agar tidak kotor. Karena ikan yang dijual harus selalu bersih,” lanjut Ali.

    Ali mendapatkan pengetahuan tentang penanganan ikan itu setelah dia ikut dalam pelatihan Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB). Kegiatan itu diselenggarakan dengan dinas perikanan setempat dan difasilitasi oleh Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Dalam pelatihan itu, para nelayan diberikan pengetahuan tentang bagaimana menangani ikan hasil tangkapan yang benar agar kualitasnya tetap bisa terjaga.

    Sejak 2018 lalu, Yayasan MDPI dengan dukungan dari Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) hadir di Pulau Morotai untuk melakukan pendampingan terhadap nelayan kecil, khususnya nelayan tuna sirip kuning. Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan MDPI di antaranya adalah pendataan ikan dengan metode port sampling, pendampingan penguruan dokumen kapal (vessels registration), serta kegiatan sosialisasi tentang hewan endangered, threatened, protected (ETP) kepada nelayan.

     

    Penulis/Foto: Mohammad Syifa

    Continue Reading
  • MDPI, Anova, and Harta Samudra Receive Award for Traceability Implementation

    24 Jun 2019
    Moch Syifa
    441
    0

    JAKARTA, June 18, 2019 – MDPI Foundation, Anova, and Harta Samudra collaborated with Bumble Bee Seafoods and the German-based company SAP logistics to successfully implement blockchain technology for strengthening traceability in supply chains sourcing from small-scale handline fisheries. This implementation is the first in Indonesia and the world for small-scale fisheries.

    Blane Olson, Director of Anova Technical Services, LLC said that blockchain has an important role in seafood traceability. “Blockchain is the ultimate tool to combine all existing seafood related technologies, into a common stream, to ensure transparency, traceability, food safety accountability and legal reported fisheries activities from the fishing vessel to the end consumer.” said Blane.

    This successful improvement of traceability is also a benefit for Indonesian handline fisheries. This shows that Indonesia can continue to be a front runner in the efforts to successfully implement sustainability measures in fisheries. Fishermen can demonstrate that they operate within a traceable and legal supply chain, and can be guaranteed of the related Fair Trade Premium Fund being reliably and quickly calculated from their catch.

    As a form of appreciation for the success in implementing traceability in small-scale fisheries, the event Luncheon will be held on June 18, 2019 along with MDPI, Anova, and Harta Samudra partners. The purpose of this event is to commemorate the presentation of the SAP Innovation Award for Social Hero to MDPI, Anova Food, and Harta Samudra for their current work on blockchain technology and the implementation of Fair Trade in Indonesia in small-scale handline yellowfin tuna fisheries. The three partners are honored to receive this award, selected from 433 candidates globally.

    TraceTales is an innovative traceability system developed by MDPI, with support from the USAID Oceans and Fisheries Partnership. TraceTales was instrumental in facilitating the successful implementation of the blockchain technology for the Indonesian yellowfin handline supply chain. The TraceTales solution will be an important industry leading platform to integrate additional fisheries throughout Indonesia to increase supply chain visibility, optimization, and full transparency of the Indonesia fish industry.

    Saut Tampubolon, Executive Director of MDPI said that developing traceability system is very challenging. “It can be very challenging to implement Blockchain technology for a small-scale fishery, composed of thousands of independent one-manned vessels and operating on remote islands, but MDPI has made it happen by developing a software solution for seafood processors capturing, storing, and managing product data electronically, “TRACETALES”. MDPI is committed to continuing the development of the TraceTales system to support the achievement of sustainable fisheries management from an environmental, social and economic perspective. On this occasion, we are very proud to receive this award, encouraging us to be a leader in innovating Indonesian fisheries for the future,” added Saut.

     

    TraceTales and SAP blockchain is currently installed in PT Harta Samudra in two processing plants: in Ambon, and Buru. It is also installed in PT Aneka Sumber Tata Bahari Tulehu, Central Maluku and in PT Blue Ocean Grace International (BOGI) Bitung, North Sulawesi. Since 2018, nearly 2,300 tons of frozen loin product from the five plants can be traced using the TraceTales system.

    The TraceTales system will be available to all Indonesian seafood processors and MDPI will work with industry to expand and improve Indonesian seafood traceability, food safety, transparency and sustainability and, hence improving the worldwide business success of Indonesian Seafood Companies.

    Continue Reading
  • FAD Inventory with Tuna Handline Fishermen at Oeba PPI

    23 Apr 2019
    Moch Syifa
    445
    0

    FADs or Fish Aggregating Devices may be unfamiliar to some people. But, for tuna fishermen around Kupang, East Nusa Tenggara, the word rumpon or FADs is familiarly heard almost everyday. FADs are man-made floating objects, designed to encourage fish aggregation at the device and can be either floating or anchored. The materials used can vary, with attractors made of coconut leaves. Fishermen use FADs as a tool improve fishing efficiency. Therefore, rumpon or FADs have been part of their lives.

    However, various studies reveal that the use of massive and dense FADs affects the natural schooling of fish, so that fish are collected in one place, and that there is potential for juvenile tuna and non-target species to be caught. Moreover, the installation of FADs that do not have permits and is placed irregularly can lead to horizontal conflicts between fishermen and disrupt sea shipping lanes.

    Looking at the two sides that emerge from the use of FADs, management of FADs is one of the prerequisites for continuing to be used in carrying out sustainable fishing both economically, socially and ecologically. For this reason, various discussion forums have been carried out as an initial step in FADs management, such as the Data Management Committee meeting Tuna, Cakalang, Tongkol (TCT) VII East Nusa Tenggara Province which was initiated by MDPI together with Marine Affairs and Fisheries (DKP) East Nusa Tenggara Province and tuna business. The last meeting was the socialization of FADs arrangement conducted by MDPI and DKP East Nusa Tenggara Province on September 27, 2018, Kupang. The meeting resulted in an agreement in carrying out the initial action in the form of FAD inventory as a data base for better management of FADs.

    Based on that reason, at the beginning of last October the MDPI field staff began conducting inventory of FADs. It is not easy to gather fishermen in one place in digging up FADs information. For this reason, we started visiting one by one tuna fishermen who were at the PPI Oeba (Fish Landing Base). With the form prepared by the East Nusa Tenggara DKP, field staff began to conduct interviews with tuna fishermen. The fishermen were happy in conveying information about FADs that they have for the needs of this inventory. They provided information about FADs coordinate points and the number of FADs they have.

    Fishermen organizations, such as UD. Bara, UD Tunas Harapan and CV. Sanjaya Fleet were also very helpful in providing information. The results of the inventory we obtained that tuna fishermen based in the Oeba PPI had 41 FADs consisting of 10 owner groups from 36 vessels. Patong, a tuna hand line fisherman at the Oeba PPI, said “Collaboration between FADs is one of the mutual cooperation groups to be able to share the manufacturing costs, but the data on the FAD location should not be known by ships outside the group because fishing can occur in FADs”.

    This practice can certainly be one of the principles for managing FADs in the future, where each ship does not need to have one or more FADs in private so that it can reduce the density of FADs at sea. Meanwhile, Asis, another fisherman, said “In order to get through this FADs inventory, there is a follow-up action from the government to legalize FADs they have through the issuance of SIPR (Rumpon Installation License), and their FADs are free of shipping lanes” said Asis.

     

    Written by: Alief Darmawan

    Continue Reading
  • Public Lecture on Small-Scale Fisheries Issue at Mataram University

    9 Apr 2019
    Moch Syifa
    291
    0

    SHARING EXPERIENCE: MDPI Intern, Kai Garcia Neefjes, talked in front of the students at Mataram University. Photo: MDPI

    MATARAM- Ahmad Riza Baroqi, MDPI co-management officer and Kai García Neefjes, an MDPI Intern, had an opportunity to held a public lecture to 83 Aquaculture students and two lecturers of Mataram University. They talked about small-scale fisheries issues based on their fisheries co-management experiences.

    During this session, the scenarios of Southern Belize and several sites of Indonesia were introduced and explained. The lecture started with Kai García Neefjes briefly explaining the co-management theory, followed up with a description of the fisheries management status in Southern Belize, Central America (country where Kai performed field work in 2018) and some results from the work.

    In the second session, Riza Baroqi continued with the presentation, explaining the current work of MDPI in six provinces of Indonesia: NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Selatan and Sulawesi Utara. The Fisheries Co-management Committee (FCMC) and the importance of stakeholder participation were also explained within the presentation. Moreover, the individual and collective roles from the key stakeholders of the FCMC were also mentioned.  The last part of the presentation was the comparison of advantages and disadvantages of the fisheries management in Southern Belize and the sites of Indonesia. These served as good examples for the students because they present two different places in the world that are aiming for sustainable small-scale fisheries.

    Once the lecture finished, Kai and Riza decided to involve the students by asking input, thoughts, and questions regarding the presentation. The students actively participated in lively discussions and asked interesting questions that showed the interest and the will of understanding the topic. This lecture triggered the interest of the Mataram University lecturers to continue performing such informative sessions. The previous experiences from MDPI interns alongside the current work of MDPI, can be useful for the new and current generation of students to think about relevant topics regarding fisheries management.

     

    Written by: Kai Garcia Neefjes

    Continue Reading
  • Terus Lakukan Pendataan demi Perikanan yang Berkelanjutan

    9 Apr 2019
    Moch Syifa
    462
    0

    WAPREA- Sore itu, Sabtu 26 Januari 2019, cuaca di sekitar pantai yang ada di Desa Waprea, Buru Utara, Maluku terasa lebih bersahabat. Angin pantai berhembus perlahan dan terasa begitu sejuk. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya berdiri di halaman belakang kantor MDPI yang memang langsung menghadap ke pantai.

    Tampak pula anak-anak Desa Waprea yang bermain-main di sekitar pantai. Mereka berkejar-kejaran di sepanjang pantai. Sebagian dari mereka ada pula yang tampak asyik berenang dan menyelam di birunya air laut yang ada di kawasan itu. Memang, menyelam di pantai yang ada di Desa Waprea ini sungguh menyenangkan. Airnya yang masih jernih, ditambah dengan terumbu karang dan ikan-ikan yang berwarna-warni, memberikan pemandangan yang luar biasa menakjubkan.

    Tidak hanya anak-anak. Sore itu, ibu-ibu istri nelayan juga terlihat menuju ke pantai sambil membawa wadah berwarna hitam. Mereka lantas duduk-duduk di bawah sebuah pohon rindang yang di kanan kirinya ada beberapa perahu kecil berukuran sembilan meter. Kegiatan seperti itu memang sudah menjadi rutinitas setiap sore para istri nelayan. Mereka setia menunggu sang suami pulang dari melaut. Tentu saja, mereka berharap sang suami bisa pulang dengan selamat dan membawa ikan tuna yang banyak dan hasilnya bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

    Sejenak kemudian, datanglah Ikhsan Bessy. Pemuda 27 tahun itu datang mendekat ke arah saya sambil membawa caliper, alat ukur sepanjang dua meter, yang setiap harinya selalu setia menemani Ikhsan mengukur panjang ikan tuna. Cano, begitu dia akrab disapa oleh rekan-rekannya, saat ini tergabung di Yayasan MDPI sebagai Sustainability Facilitator (SF). Cano sendiri adalah pemuda asli Desa Waprea yang sebelumnya sempat bekerja sebagai nelayan tuna pancing ulur. Saya dan Cano lantas berjalan bersama menuju ke kerumunan ibu-ibu.

    Sembari menunggu sang suami pulang, para istri nelayan tersebut banyak bercerita mengenai kehidupan sehari-hari. Termasuk mengenai pekerjaan sang suami sebagai nelayan. “Beta pung Pae Tua, pigi melaut tadi pagi sekitar jam 6 pagi, semoga sa antua hari ini dapat rahmat agar nanti katong bisa dapat asar kepala tuna terus katong bisa makan rame-rame (Suami saya berangkat melaut sekitar jam 6 pagi, semoga hari ini dia mendapatkan rezki, supaya nanti kita bisa bakar kepal tuna dan makan bersama-sama, Red),” kata Ibu Saiya, salah satu istri nelayan, yang tengah mengasuh anaknya yang baru berusia tiga tahun.

    Sore itu, Ibu Saiya tengah menunggu Pak Hayunan, sang suami, pulang dari melaut. Ibu Saiya menceritakan bahwa hasil tangkapan ikan sang suami sekarang sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan sebelumnya. Kini hasil tangkapan tidak menentu, bahkan seringkali pulang tanpa hasil tangkapan.  Sementara operasional sekali penangkapan mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu.

    Cerita dari Ibu Saiya tersebut membuat saya terenyuh. Betapa tidak, jika hasil tangkapan ‘kosong’ terus-menerus, bagaimana mungkin nelayan skala kecil tersebut memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sementara lautan menjadi tumpuan hidup satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Tidak terasa, obrolan saya bersama para istri nelayan tersebut berlangsung cukup lama. Hingga tiba-tiba terlihat matahari kian turun mendekati air laut yang artinya hari akan semakin gelap. Namun sayangnya perahu yang ditunggu-tunggu belum kunjung tiba.

    Sambil terus menunggu perahu nelayan mendarat, saya pun terlibat obrolan yang semakin dalam. Kali ini tidak hanya dengan Cano, tetapi ikut bergabung rekan-rekan MDPI lainnya. Ada Asis , Miun dan Untung. Obrolan kami masih sama, yakni tentang kekhawatiran para nelayan apabila hasil tangkapan tidak bisa maksimal lagi. Termasuk bagaimana agar para nelayan tuna di Pualau Buru dapat terus menangkap ikan secara berkelanjutan.

    Kami lalu sepakat bahwa salah satu cara agar penangkapan ikan bisa terus berkelanjutan adalah melalui pendataan hasil tangkapan. “Data yang berkualitas baik dan memiliki kuantitas yang cukup dapat menjadi sumber informasi yang baik bagi para peneliti dan pemeritah dalam mengkaji stok ikan di laut,” kata saya memulai lagi pembicaraan.

    “Sehingga dapat dilakukan manajemen perikanan yang baik untuk menjadikan ikan tuna tetap lestari dan dapat terus dimanfaatkan keberadanaannya,” lanjut saya. Itu merupakan kalimat-kalimat penyemangat yang sering menjadi pegangan kami selaku pengambil data sampling ikan tuna pada nelayan skala kecil. Tentunya sebagai anak nelayan yang berasal dari Pulau Buru, baik Asis, Miun, Untung dan Cano sangat memegang teguh kata-kata tersebut. Mereka tidak ingin, nelayan yang berada di kampung mereka tidak dapat lagi menangkap ikan tuna. Begitulah kami berdiskusi dalam saling mengingatkan pentingnya data.

    Tidak terasa, matahari pun kini benar-benar sudah terbenam di lautan, menciptakan suasa gelap. Tampak dari kejauhan beberapa lampu kelap-kelip semakin mendekat ke arah pantai. Tidak diragukan lagi, itu adalah lampu kode yang dipasang nelayan di atas kapal untuk menghindari kapal agar tidak tertabrak kapal lain pada saat malam hari.

    Ibu Saiya dan para istri nelayan yang lainnya memasang potongan-potongan kayu yang biasa mereka sebut “langgi” secara berjejer di atas pasir. Ketika Pak Hayunan berlabuh, kami pun langsung mengambil posisi untuk membantu mendorong kapal tersebut menuju darat. Sekitar 10 orang mendorong kapal tersebut secara perlahan-lahan dengan bantuan langgi dapat didorong sampai di darat.

    Selepas itu, Cano langsung merentangkan kalipernya untuk mengukur panjang tuna, kemudian menimbang berat ikan tuna. Tidak lupa, Cano melakukan wawancara kepada Pak Hayunan tentang biaya operasional yang terpakai seperti penggunaan es, penggunaan BBM, lama memancing, dan data biologi berupa daerah tangkap, jenis Umpan dan keberadaan hewan ETP (endangered, threatened, and protected) yang berinteraksi dengan nelayan. Berkat kerja sama yang baik dari para nelayan, Cano dapat menyelesaikan data sampling hanya dalam waktu lima menit.

    Menariknya, Cano menulis data-data tersebut tidak di atas kertas, namun langsung dalam smart phone yang dimilikinya menggunakan I-fish apps. Sebuah terobosan baru bergaya elektronik yang dibuat dalam bentuk aplikasi untuk pengumpulan data sampling pada perikanan tuna pancing ulur skala kecil yang dibuat dan dikembangkan oleh MDPI sejak 2018. Sebanyak 167 data sampling yang sudah terkumpul dari Buru dengan menggunakan aplikasi ini.

    Melalui I-Fish apps tersebut penggunaaan kertas dapat diminimalisasi dan dapat mempersingkat proses penginputan. Jika sebelumnya, semua data ditulis dalam formulir kertas, kemudian dimasukkan ke dalam form excel untuk selanjutnya diunggah ke database yang menghabiskan waktu yang cukup lama. Namun kini hanya dalam satu langkah, data sudah tersedia dalam aplikasi. Aplikasi ini juga dapat digunakan di daerah terpencil yang sulit dengan akses internet seperti di Desa Waprea. Untuk diunggah ke database, Cano hanya membutuhkan sedikit koneksi internet, karena data ini juga tidak berat kapasitasnya. Yang paling terpenting adalah, aplikasi ini dapat mempercepat proses pengiriman data, sehingga data yang terkumpul dapat diakses dengan cepat dan dalam kondisi paling terkini. Dengan demikian dapat membantu dalam mengumpulkan data yang baik dan berkualitas dengan jumlah yang cukup bagi pemerintah dan para peneliti dalam mengkaji stock perikanan tuna dalam merumuskan manajemen yang baik dalam mewujudkan perikanan tuna yang berkelanjutan.

    “Aplikasi ini memang baru bagi katong, tetapi harus katong pakai terus menerus agar terus terbiasa, mengingat I-fish apps dapat mempercepat proses pengumpulan data dan penginputan data, sehingga katong seng perlu matawana (bagadang) untuk masukkan lagi ke dalam data excel. Namun kedepannya I-fish apps ini agar terus dikembangkan agar dapat semakin baik,” ungkap Cano usai melakukan pendataan sampling tuna.

    Ditulis oleh: Putra Satria Timur

    Continue Reading