• Fair Trade Assistant – Pulau Buru, Maluku, Indonesia

    14 Aug 2019
    mdpi
    257

    Posisi : Fair Trade Assistant

    Lokasi : Pulau Buru, Maluku, Indonesia

    Kepegawaian : Kontrak

    Melapor kepada : Fair Trade Supervisor

    Deskripsi :

    Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) bekerjasama dengan berbagai organisasi dan banyak pihak yang berkepentingan untuk mendukung perikanan Indonesia yang berkelanjutan. Dalam mendukung tujuan program ini MDPI membutuhkan seorang Fair Trade Assistant. Seorang Fair Trade Assistant diminta untuk bertanggung jawab pada seluruh aktifitas yang dilakukan di site yang ditugaskan, bekerja sama dengan banyak pemangku kepentingan dan menjembatani program Fair Trade Assistant organisasi ke pihak luar dan memastikan semua tugas berjalan dengan lancar.

    Memahami konsep Fair Trade dan mensosialisasikannya kepada masyarakat; para nelayan, supplier dan anggota masyarakat lainnya:

    • Memfasilitasi rapat-rapat asosiasi nelayan, melengkapi dan membantu para nelayan tentang bagaimana mengatur sistem untuk mencatat notulensi, pengambilan putusan, dll.
    • Memastikan bahwa kriteria kepatuhan pada standar-standar Fair Trade USA dilaksanakan pada tingkat setinggi mungkin dibawah arahan tim Fair Trade.
    • Menghadiri rapat-rapat co-management dimana kebutuhan dan pandangan para nelayan disampaikan kepada para pemangku kepentingan perikanan.
    • Menerapkan suatu sistim yang memastikan bahwa standar lingkungan seperti tercantum dalam standar Fair Trade USA dipatuhi dan diikuti – menurut instruksi dan arahan dari tim Fair Trade
    • Melaksanakan tugas – tugas terkait lainnya sesuai dengan arahan atasan.

    Kebutuhan / Skill yang dibutuhkan::

    • Menempuh studi jurusan strata 1 bidang Perikanan/Kelautan atau yang terkait ( Freshgraduate dipersilahkan melamar)
    • Miliki motivasi dan inisiatif yang baik untuk mempelajari bidang NGO/LSM dan industri perikanan
    • Keterampilan yang dibutuhkan: Office (MS Office, seperti: Excel, Word)
    • Berorientasi pada detail dan target, bekerja secara terorganisir dan sistematis, dapat berkomunikasi dengan berbagai kalangan dan latar belakang
    • Nilai tambah jika terampil dalam Bahasa Inggris dalam membaca, lisan dan tulisan
    • Mampu bekerja dalam organisasi yang cepat
    • Nyaman tinggal di desa nelayan terpencil dan bekerja sama dengan komunitas nelayan
    • Bersedia melakukan perjalanan ke lokasi pelaksana lainnya di Indonesia
    • Diutamakan putra/putri daerah setempat
    • Mampu bekerja dalam tim baik internal maupun mitra eksternal (stakeholder lain atau pihak terkait)

    MDPI berkomitmen untuk menerapkan rekrutmen bebas diskriminasi dari unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan), mendukung kesetaraan gender, anti perdagangan manusia dan menolak segala bentuk penggunaan dan perdagangan narkotika.

    Lamaran ditujukan kepada HRD MDPI, kirimkan lamaran lengkap via email ke: career@mdpi.or.id dengan Judul Application: Fair Trade Assistant Pulau Buru, Maluku, Indonesia

    Continue Reading
  • Cerita Nelayan Yusran Tomia: Antusias Melihat Hasil Rekaman Kamera Selang Waktu (TLC)

    8 Aug 2019
    Moch Syifa
    116
    0

    ANTUSIAS: Yusran Tomia atau Onco Yus terlihat begitu antusias saat melihat tayangan video dari kamera TLC yang dipasang di kapalnya.

    WAPREA – BURU, 21 Juli 2019 – Yusran Tomia, adalah salah satu nelayan tuna yang berasal dari Desa Waprea, Kecamatan Waplau Kabupaten Buru, Maluku. Laki-laki berusia 40 tahun ini sudah menjalani rutinitas sebagai pencari ika tuna sejak 17 tahun yang lalu. Onco Yus, dia biasa disapa, saat ini tergabung dalam kelompok nelayan Fair Trade Setia Selalu Waprea, yang didampingi Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI).

    Yusran salah satu dari 231 nelayan Fair Tade di Buru yang sangat kooperatif dengan program-program dan proyek yang dilakukan MDPI di Pulau Buru. Salah satunya adalah proyek implementasi Kamera Selang Waktu atau Time Lapsed Camera (TLC) pada kapal nelayan sebagai alat verifikasi port sampling data yang diambil oleh enumerator MDPI. Kamera TLC ini sekaligus sabagai bahan bukti interaksi nelayan terhadap hewan-hewan yang dilindungi atau yang biasa disebut endangered, threatened and protected (ETP).

    “Saya bersedia ketika akan dipasangkan kamera TLC di kapal saya karena sudah diberi penjelasan oleh staf MDPI dan saya pribadi sangat percaya dengan MDPI karena sudah mendampingi kami nelayan Fair Trade selama ini. Dengan adanya kamera ini saya tidak merasa diawasi dan bagi saya ketika TLC diapasang, yang melihat nanti bisa tahu aktivitas nelayan kecil itu seperti apa,” Ujar Onco Yus.

    Ada sebanyak 65 trip yang berhasil direkam kamera TLC pada kapal Onco Yus, dimulai pada Oktober 2017 sampai Juli 2019. Ayah dua orang anak ini sangat antusias untuk melihat hasil rekaman TLC dirinya ketika pulang melaut apalagi dapat ikan tuna dan ada hewan ETP seperti Lumba-lumba, Penyu, Burung, Hiu, Paus dan Pari yang disekitarnya.

    Untung Ayudia, Site Supervisor MDPI Buru, memperlihatkan hasil rekaman melaut dari kamera TLC kepada Onco Yus pada Minggu 21 Juli 2019 lalu. Menyaksikan dirinya terekam kamera saat melaut, Onco Yus merasa senang dan beberapa kali tersenyum ketika melihat hasil rekaman kamera tersebut.

    “Kami sebagai nelayan Fair Trade bersedia jika MDPI ingin memasang baik Time Lapsed Camera (TLC), PDS dan alat lainnya di kapal untuk membantu program perikanan berkelanjutan. Kami dan saya pribadi sangat mendukung itu” Ujar Onco Yus.

    Penulis: Untung Ayudia Musli (Site Supervisor MDPI, Pulau Buru)

    KETERTELUSURAN: Untung (kiri) bersama Onco Yus sering berdiskusi mengenai perikanan yang berkelanjutan.

    Continue Reading
  • Catatan Internship: Banyak Belajar tentang Pendataan Ikan dan Interaksi dengan Nelayan

    6 Aug 2019
    Moch Syifa
    79
    0

    KUPANG- Saya adalah salah satu mahasiswa semester VI Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Nusa Cendana Kupang yang turut serta dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung di Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) yang bertempat di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba  Kota Kupang. PKL saya lakukan untuk periode 1 Juli sampai 2 Agustus 2019.  Kegiatan PKL bertujuan untuk menunjang pengetahuan mahasiswa dalam bidang yang mereka tekuni masing-masing.

    Hari pertama PKL, kaki ini melangkah penuh semangat menghampiri kantor Yayasan MDPI Kupang. Berawal dari senyuman manis yang penuh hangat dari staf yang ada di Yayasan MDPI Kupang. Saya bersama seorang teman saya, Firman, disambut dengan penuh keakraban. Kami memulai hari itu dengan perkenalan singkat dan menyimak materi yang sangat luar biasa sesuai dengan bidang jurusan kami. Materi tersebut disampaikan langsung oleh Pak Alief Dharmawan sabagai Supervisor di Yayasan MDPI Kupang. Materi yang dipaparkan meliputi perikanan yang berkelanjutan, alat tangkap ramah lingkungan, ikan target, hasil tangkapan sampingan, identifikasi ikan, dan indentifikasi langkah awal dalam pengkajian stock. Dari materi ini kami belajar bahwa untuk melestarikan lingkungan laut agar tetap  terjaga sumber daya ikannya harus menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Ini sekaligus untuk mengetahui jenis ikan yang ditargetkan dan hasil tangkapan sampingan untuk didata oleh MDPI.

    Desi belajar melakukan pendataan perikanan, salah satunya adalah dengan melakukan wawancara dengan nelayan.

    Selain materi yang kami dapat, kami juga diarahkan untuk menonton video penangkapan ikan untuk mengindentifikasi jenis-jenis ikan yang nelayan tangkap. Untuk mengidentifikasi jenis ikan kami dijarkan menggunakan analisis data Time Lapsed Camera (TLC). Analisis TLC merupakan sebuah kamera yang mengambil gambar otomatis secara berkala yang digunakan untuk memontoring semua peristiwa yang terjadi. TLC adalah metode baru yang sederhana dalam mengumpulkan data perikanan pancing ulur (Handline) yang tentunya dapat digunakan sebagai bukti ilmiah.

    Kegiatan PKL ini difokuskan pada pendataan di mana saya mendapatkan tugas mendata ikan target dan saya memilih ikan tuna untuk didata sebagai judul PKL saya. Untuk pendataannya, saya memulai dengan melakukan pengukuran panjang ikan tuna dan menimbang berat dari ikan tuna. Pengukuran panjang berat tuna ini  bertujuan untuk mengetahui perbandingan yang signifikan antara panjang dan berat ikan tuna. Pendataan ini didampingi langsung oleh Pak Alief Dharmawan sebagai Site Supervisor. Lalu ada pula Ibu Agnesia Dau sebagai Sustainability Facilitator dan Pak Hernot Reits Jon Loudoe sebagai Sustainability Facilitator. Saya diajarkan bagaimana bersikap dan berinteraksi dengan baik terhadap para nelayan yang kami temui di lapangan guna mendapatkan respon yang baik sehingga kegiatan pendataan dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Adapun tuna yang ditemukan dilapangan, yaitu Thunnus albacares (Yellowfin tuna/YFT), Thunnus obesus ( Bigeye tuna/ BET), Katsumonus pelamis (cakalang/SKJ),  dan Thunnus alalunga (Albakor/ ALB). Sebelum saya melakukan PKL saya mengetahui terdapat semua jenis tuna di PPI Oeba, namun pada kenyataannya hanyalah empat jenis tuna yang didapatkan. Ukuran dan berat ikan tuna yang didapatkan adalah  ikan  SKJ  beratnya adalah 3,1 – 3,8 Kg, Panjangnya 31-62 cm. Berat YFT dimulai dari 1- 65 Kg, panjang 27- 150 cm, berat BET di mulai dari1,17-35 Kg, panjangnya 51-124 cm.

    Saya memilih MDPI sebagai tempat PKL saya karena awalnya MDPI melakukan sebuah seminar di Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana dan dari itu saya melakukan pendekatan dengan Pak Alief. Tak disangka, dia menyambut saya dengan begitu antusias sehingga saya merasa nyaman untuk melakukan PKL di MDPI.

     

    Ditulis oleh: Desi Satria Homa Galla

    Continue Reading
  • Catatan Internship: Pengalaman Pertama Melakukan Pendataan dan Pengukuran Ikan

    6 Aug 2019
    Moch Syifa
    80
    0

    KUPANG- Mentari mulai terbit dari ufuk timur. Artinya, pagi telah tiba. Saya pun bersiap-siap untuk menuju tempat yang nantinya akan memberikan cerita dan ilmu baru. Tempat itu adalah Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia atau biasa disingkat MDPI yang berada di Kupang, tepatnya terletak di PPI Oeba Kota Kupang.

    Ini menjadi awal mula perjalanan sebulan penuh saya untuk mencari dan belajar ilmu sebagai bentuk pemenuhan terhadap salah satu tugas dari kampus, yakni melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL). Awalnya saya tertarik untuk melakukan PKL di Yayasan MDPI karena beberapa waktu lalu Yayasan MDPI berkunjung ke kampus Universitas Nusa Cendana Kupang. Dari situlah selanjutnya saya tertarik untuk belajar lebih dalam lagi dan melakukan pendekatan untuk bisa PKL. Sebuah kesempatan yang tidak saya sia-siakan  karena jarang sekali ada tempat atau instansi yang melakukan pendataan dengan fokus utamanya adalah tuna .

    Tahap awal ketika saya memulai PKL di Yayasan MDPI Kupang adalah dengan melakukan perkenalan. Saya bertemu langsung dengan Pak Alief Dharmawan sebagai Site Supervisor, Agnesia Dau sebagai Sustainability Facilitator dan Hernot Reits Jon Loudoe sebagai Sustainability Facilitator. Merekalah yang membimbing, serta menjadi inspirator, sekaligus motivator selama saya melakukan PKL.

    Hal pertama saya lakukan saat melakukan PKL di Yayasan MDPI adalah pengenalan tentang apa yang dilakukan Yayasan MDPI dalam mendukung perikanan berkelanjutan di Kupang. Penjelasan mengenai materi-materi tersebut dilakukan langsung oleh Alief,Agnes dan Reits. Pengenalan materi ini berlangsung selama empat hari dan banyak ilmu baru yang saya dapat. Di antaranya adalah terkait jenis ikan target, tangkapan sampingan, tangkapan lain dari handline serta cara untuk mengidentifikasi ikan  serta hewan-hewan yang dilindungi atau biasa disebut dengan ETP.

    Bukan hanya itu yang diberikan, tetapi masih banyak lagi materi yang saya dapatkan terkait dengan kegiatan pendataan ikan. Yaitu mengenai tata cara atau prosedur dalam pengisian form serta bagaimana tata cara ketika berpapasan langsung dengan nelayan dan mewawancarai mereka. Adapula tata cara menggunakan alat pengukur panjang ikan baik itu tuna diatas 10 kg maupun yang dibawah 10 kg , dan pengenalan terhadap tiga supplier tempat dilakukan pendataan yakni UD.Tunas Harapan, CV.ASK dan UD.Bara, serta masih banyak materi yang lainnya.

    Firman mencoba untuk pertama kalinya melakukan pengukuran ikan saat melakukan kegiatan magang/internship di Yayasan MDPI Kupang.

    Mempelajari hal baru menjadikan saya lebih semangat untuk belajar. Tetapi ada juga kendala terbesar bagi saya, yaitu ketika harus menghafal nama-nama latin dari ikan.  Selain itu, saya juga mendapatkan materi lainnya, yaitu mengenai analisis Time Lapsed Camera (TLC) yang merupakan pengembangan dari bidang fotografi yang menjadikan sekumpulan foto yang diambil dari periode tertentu menjadi sebuah video. Waktu pengambilan foto bisa dibuat berkala setiap beberapa detik maupun menit bergantung pada kebutuhan.

    Pertama kali melihat hasil rekaman TLC, saya pun terkagum-kagum. Dari video itu, terlihat begitu jelas semua kegiatan nelayan, termasuk bagaimana nelayan menangkap ikan. Tidak hanya melihat video, saya juga mendapat tugas langsung dari supervisor untuk menganalisis video tersebut, yaitu dengan melihat hasil tangkapan, termasuk semua jenis ikan, rumpon, hewan dilindungi serta kejadian lain dengan cara  screenshot video tersebut dan setelah itu diinput ke dalam file excel. Ada banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan dari kegiatan analisis ini. Di antaranya adalah untuk selalu fokus dan bekerja sama dengan teman saya dalam melakukan analisis agar bisa mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Namun adapula kendala yang saya temui. Yaitu hasil screenshot yang terlihat buram sehingga kami sulit untuk melakukan identifikasi.

    Pengalaman menarik lainnya adalah saya harus memulai turun ke lapangan untuk melakukan pendataan ikan. Ini adalah pengalamn pertama saya yang sangat berharga. Awalnya, saya tidak langsung melakukan pengukuran, namun saya banyak melakukan pengamatan. Setelah beberapa hari, tiba saatnya pertama kalinya saya memegang alat untuk mengukur panjang ikan tuna diatas 10 kg yang biasa disebut dengan caliper. Ketika itu juga keringat dingin mulai bermain-main dari wajah yang penuh ketakutan karena baru pertama kali menjalankan hal ini. Walau gugup tetapi bukan menjadi alasan untuk tidak bisa berbuat. Hal ini justru menjadi pemicu utnuk saya lebih memaksimalkan peluang yang telah diberikan dan alhasil mengukur ikan tuna bisa saya lakukan tanpa ada kesalahan apapun.

    Selanjutnya saya langsung diberikan kesempatan oleh supervisor untuk mengukur tuna dibawah 10 kg menggunakan papan ukur dan saya tetap pada pendirian bahwa harus bisa walaupun hal baru tidak menyulitkan ketika melakukannya dan ikan berhasil saya ukur dengan kemampuan baru tetapi mendapat hasil yang memadai. Selanjutnya data yang diperoleh diupload ke I-FISH.

    Praktik kerja lapang di MDPI menjadikan diri ini lebih banyak mengetahui ilmu baru, pengalaman baru serta banyak hal yang tak dapat dideskripsikan satu persatu. Pada hakikatnya bahwa ilmu yang saya dapat di sini akan menjadi modal awal yang berharga di hari-hari yang akan datang. Mungkin kata-kata tak mampu untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan ketika PKL disini tetapi terlebih dari itu hanya kata terima kasih untuk Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Kupang.

     

     

    Ditulis oleh: Firman Nur Laga Lewo

     

     

    Continue Reading
  • PRESS RELEASE: INVEST Project for Women’s Economic Empowerment in Fisheries Supply Chains

    16 Jul 2019
    Moch Syifa
    249
    0

    BALI, July 11, 2019 – Under USAID’s INVEST initiative, MDPI has been awarded a project to develop and test an approach that incorporates FinTech solutions and women’s economic empowerment activities alongside the electronic catch documentation and traceability (eCDT) app, Trafiz. The main objectives of this project are to improve the role of women in small-scale fisheries through women’s empowerment activities that lead to improved livelihoods and greater involvement in the ecosystem approach to fisheries management (EAFM).

    The target area of this project is North Sulawesi, initially focusing on the three areas overlapping with MDPI’s work under the USAID Oceans and Fisheries Partnership (Manado, Bitung and Sangihe) with the option for expanding beyond these areas being assessed. The target fishery is the small-scale handline tuna fishery of North Sulawesi. Previously, MDPI has piloted Trafiz, an Android-based app developed by Altermyth, in partnership with MDPI, for three male suppliers in North Sulawesi, with support from USAID Oceans, and three female suppliers in North Maluku, with support from USAID SEA project.

    It is known that women also play a key role in these supply chains, in terms of transfer of fish from one actor to the next and therefore there is potential in expanding the use of the app to these female actors to gather a wider coverage of data. It is also hypothesized that the input of data could be motivated through the incentive of an enabling financial service embedded in the Trafiz app. One of the examples of the women’s involvement in these small-scale fisheries can be seen in Bitung, North Sulawesi, where 50 percent of the existing workforce in the wholesalers node are women. They often have an important role in financial management in the households. However, women often face barriers in accessing financial services, in terms of limited or no collateral, especially in small-scale enterprises. Financial literacy amongst supply chain actors could also be strengthened for household benefits. This INVEST project aims to help support the role of women in this fishery supply chain, particularly related to financial management and fisheries management engagement.

    This INVEST project will cover four objectives: assessment of barriers to finance faced by women in small-scale fisheries (SSF) and integration of FinTech tools into Trafiz, delivery of women’s empowerment activities that leads to improved livelihoods and greater engagement in an ecosystem approach to fisheries management (EAFM), increase women’s influence in planning and implementing EAFM, and implement mixed-methods data collection to support the Learning Initiative.

    Continue Reading
  • Istri Nelayan Desa Jambula: Kami Antar Ikan dan Bantu Isi Buku Fisher-Log

    12 Jul 2019
    Moch Syifa
    118
    0

    TERNATE- Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIT. Seorang perempuan parobaya beberapa kali berjalan mondar-mandir di tepi pantai. Sesekali dia melihat ke arah lautan seperti sedang menunggu seseorang. “Tadi katanya tidak terlalu jauh. Karena angin sedang kencang dan ombak tinggi,” kata Endang berdiri menghadap ke lautan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tampak beberapa nelayan sedang duduk-duduk di sebuah bangunan mirip gazebo yang biasa mereka sebut sebagai landing site.

    Perempuan itu adalah Endang Dahlan. Sore itu dia sedang menunggu Gafur Kaboli, sang suami, yang sedang pergi melaut. Wajar saja jika sore itu Endang sedikit was-was, karena sebagian besar nelayan yang ada di Desa Jambula, Ternate hari itu tidak melaut. Ini dikarenakan gelombang yang cukup tinggi melanda perairan Ternate dalam seminggu terakhir.

    Sambil menunggu sang suami ‘mendarat’ dari mencari ikan tuna, Endang lantas ikut bergabung dan berbincang dengan nelayan lainnya. Angin memang bertiup cukup kencang sore itu, tapi langit masih tampak cerah. Pemandangan Pulau Maitara di kejauhan dipadu dengan sinar jingga matahari sore, membuat suasana terasa begitu menentramkan.

    Tak berselang lama, Endang lantas beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke arah rumahnya yang hanya berjarak puluhan meter saja dari landing site yang biasa dijadikan oleh para nelayan untuk menurunkan hasil tangkapan itu. Lantas Endang kembali lagi sambil membawa seceret berisi kopi yang sudah dia seduh dan siapkan. Tidak lupa dia juga menyajikan sepiring pisang goreng yang masih hangat. “Ayo silakan dimakan pisangnya. Kopinya juga (diminum, red),” ujar perempuan 40 tahun itu. Obrolanpun lantas berlanjut lagi.

    Gofur adalah ketua Kelompok Nelayan Fair Trade Desa Jambula. Kelompok nelayan tuna yang baru berusia satu tahun tersebut saat ini memiliki anggota sebanyak 27 orang. Dengan dukungan dari Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA), tim Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) di Ternate terus melakukan pendampingan terhadap kelompok nelayan Desa Jambula ini. MDPI mendampingi para nelayan dan memastikan bahwa standar-standar yang diterapkan oleh Fair Trade USA bisa benar-benar dipenuhi oleh para nelayan.

    Menurut Endang, jika suaminya dan para nelayan lainnya sedang melaut dan mendapatkan ikan, maka dia dan istri-istri nelayan lainnya akan dibuat cukup sibuk. Pasalnya, para istri nelayan akan selalu siap mengantar ikan-ikan hasil tangkapan sang suami ke supplier dengan menggunakan mobil.

    Tidak hanya itu, para istri pula yang akan melakukan pengisian buku fisher-log dan ETP-log. Untuk diketahui, buku fisher-log ini di antaranya berisi informasi mengenai jenis alat pancing yang digunakan nelayan, lokasi pemancingan (fishing ground), umpan yang digunakan, hingga kedalaman memancing. Sedangkan ETP-log berisi informasi mengenai interaksi nelayan dengan hewan-hewan yang dilindungi di laut, baik itu interaksi dengan body kapal maupun bersentuhan langsung dengan fisik nelayan.

    Peran para perempuan atau istri-istri nelayan di Desa Jambula ini bisa dibilang memang cukup besar. Mereka pula yang sehari-hari mengelola keuangan rumah tangga, termasuk mengelola hasil penjualan ikan tuna. Hal ini dibenarkan oleh Wiyanti, 28, istri nelayan yang lainnya. “Saya juga bantu untuk siapkan bekal suami untuk melaut, beli es untuk dibawa melaut. Pokoknya saya bantu suami. Suami tinggal melaut cari ikan,” kata Wiyanti.

    Wiyanti juga mengaku rajin membantu mengisikan buku fisher-log dan ETP-log. Hal itu dia lakukan secara sukarela karena dia tahu bahwa saat pulang melaut suaminya sudah pasti sangat lelah. Wiyanti juga sudah paham bahwa fisher-log dan ETP-log ini penting sebagai salah satu standar dari Fair Trade yang harus dipenuhi.

    Baik Endang maupun Wiyanti juga mengatakan bahwa para istri nelayan ikut aktif dalam pertemuan-pertemuan atau rapat-rapat kelompok nelayan. Awalnya mereka hanya membantu mempersiapkan segala kebutuhan rapat. Namun akhirnya mereka juga ikut mendengarkan materi yang dibicarakan dalam rapat. Sehingga para istri nelayan di Desa Jambula juga tahu mengenai apa itu Fair Trade dan program-program apa saja yang ada di dalamnya. Termasuk mengenai harapan penggunaan Dana Premium saat sudah cairn anti. “Sekarang memang masih belum cair. Tapi nanti kalau sudah cair, ada kebutuhan untuk kelompok nelayan yang harus dibeli,” lanjutnya.

    Peran para istri nelayan ini diakui memang cukup membantu para nelayan. Seperti yang diungkapkan oleh Rahman Rasyid, 43, salah seorang nelayan di desa tersebut. “Kalau tidak ada bantuan istri, kami juga repot,” katanya. Menurut Rahman, begitu dia akrab disapa, semuanya diserahkan pengelolaannya kepada istri. Nelayan seperti dirinya hanya cukup mencari ikan di lautan dan membawanya pulang.

    Rahman juga membenarkan bahwa para istri nelayan memiliki peran yang cukup penting dalam pengelolaan keuangan keluarga, terutama yang terkait dengan hasil penjualan tuna. Para istrilah yang mengatur pengeluaran dan pendapatan. “Hampir semua istri nelayan di sini (Desa Jambula, red) sama. Kami percayakan pada istri yang mengatur dan itu sangat membantu,” ujar Rahman yang sore itu juga tidak melaut akibat ombak tinggi.

    Photo and story by: Mohammad Syifa/MDPI

    PEDULI: Ibu Endang Dahlan, seorang istri nelayan, ikut berpartisipasi aktif dalam mendukung terwujudnya perikanan yang berkelanjutan.

    Continue Reading
  • Fair Trade Supervisor – Maluku Utara

    9 Jul 2019
    mdpi
    700

    Posisi               : Fair Trade Supervisor
    Lokasi                    : Maluku Utara
    Kepegawaian     : Kontrak
    Melapor kepada  : Fair Trade Coordinator
    Deskripsi           :

    Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) bekerjasama dengan berbagai organisasi dan banyak pihak yang berkepentingan untuk mendukung perikanan Indonesia yang berkelanjutan. Dalam mendukung tujuan program ini MDPI membutuhkan seorang Fair Trade Supervisor. Seorang Fair Trade Supervisor diminta untuk bertanggung jawab pada seluruh aktifitas yang dilakukan di site yang ditugaskan, bekerja sama dengan banyak pemangku kepentingan dan menjembatani program Fair Trade Supervisor organisasi ke pihak luar dan memastikan semua tugas berjalan dengan lancar.

    Memahami konsep dasar Fair Trade USA dan mampu memberi diseminasi kepada masyarakat; para nelayan, supplier dan anggota masyarakat lainnya:

    • Memfasilitasi rapat-rapat asosiasi nelayan, melengkapi dan membantu para nelayan tentang bagaimana mengatur sistem untuk mencatat notulensi, pengambilan putusan, dll.
    • Memastikan bahwa kriteria kepatuhan pada standar-standar Fair Trade USA dilaksanakan pada tingkat setinggi mungkin dibawah arahan tim Fair Trade.
    • Menghadiri rapat-rapat co-management dimana kebutuhan dan pandangan para nelayan disampaikan kepada para pemangku kepentingan perikanan.
    • Menerapkan suatu sistim yang memastikan bahwa standar lingkungan seperti tercantum dalam standar Fair Trade USA dipatuhi dan diikuti – menurut instruksi dan arahan dari tim Fair Trade
    • Melaksanakan tugas – tugas terkait lainnya sesuai dengan arahan atasan.

    Kebutuhan / Skill yang dibutuhkan::

    • Menempuh studi jurusan strata 1 bidang Perikanan/Kelautan atau yang terkait ( Jurusan lain dipersilahkan melamar SMA/SLTA – S1, Fresh graduate dipersilahkan untuk melamar)
    • Memiliki kemampuan kepemimpinan dan mengatur proses pekerjaan agar kegiatan, tim dan operasional program dapat berjalan lancar
    • Miliki motivasi dan inisiatif yang baik untuk mempelajari industri dan komunitas perikanan
    • Keterampilan yang dibutuhkan: Office (MS Office, seperti: Excel, Word)
    • Berorientasi pada detail dan target, bekerja secara terorganisir dan sistematis
    • Nilai tambah jika terampil dalam Bahasa Inggris dalam membaca, lisan dan tulisan
    • Mampu bekerja dalam organisasi yang cepat
    • Nyaman tinggal di desa nelayan terpencil dan bekerja sama dengan komunitas nelayan
    • Bersedia melakukan perjalanan ke lokasi pelaksana lainnya di Indonesia dan bersedia bekerja lembur bila
    • Diutamakan putra/putri daerah setempat
    • Mampu bekerja dalam tim baik internal maupun mitra eksternal (stakeholder lain atau pihak terkait)

    MDPI berkomitmen untuk menerapkan rekrutmen bebas diskriminasi dari unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan), mendukung  kesetaraan gender, anti perdagangan manusia dan menolak segala bentuk penggunaan dan perdagangan narkotika.

    Lamaran ditujukan kepada HRD MDPI, kirimkan lamaran lengkap dengan judul: FT Supervisor North Maluku via email ke: career@mdpi.or.id

    Continue Reading
  • Tak Sekadar Alat Komunikasi, Ponsel Bantu Nelayan Buru Utara dalam Melaut

    30 Jun 2019
    Moch Syifa
    238
    0

    Bagi para nelayan Fair Trade di Buru Utara, Maluku, telepon seluler (ponsel) bukan hanya sekadar alat komunikasi. Lebih dari itu, para nelayan memanfaatkan ponsel sebagai alat bantu penunjuk arah atau global positioning system (GPS) pada saat melaut. Terutama saat cuaca buruk atau gelap. Para nelayan memanfaatkan ponsel yang sudah dilengkapi dengan aplikasi GPS didalamnya. Meskipun sedang berada di laut dan jauh dari jangkauan sinyal, namun para nelayan tetap bisa memanfaatkan GPS. Ini karena sekarang sudah banyak aplikasi GPS yang tidak membutuhkan sinyal internet.

    Selain untuk penunjuk arah atau GPS, ponsel pintar yang dilengkapi dengan kamera tersebut juga sekaligus membantu para nelayan untuk ikut berpartisipasi dalam pemberantasan illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing. Karena dengan kamera yang ada di ponsel itu, para nelayan bisa memotret kapal-kapal ilegal yang mereka temui saat memancing tuna di lautan lepas.

    Ke depannya, dengan dampingan dari Yayasan MDPI, ponsel yang dimiliki oleh nelayan ini juga bisa menjadi sarana e-learning atau media belajar tentang Fair Trade. Metode belajar dengan menggunakan video ini akan lebih menyenangkan dan memudahkan bagi para nelayan dalam memahami tentang Fair Trade. Program pembelajaran ini dilakukan melalui kerja sama USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) project dan pemegang sertifikat Fair Trade Coral Triangle Processor, yang dikerjakan oleh Yayasan IDEP. Bentuk pembelajarannya adalah dengan menyederhanakan Fair Trade USA Captured Fisheries Standards menjadi materi pembelajaran untuk meningkatkan pengertian nelayan tentang standar Fair Trade sesuai dengan tingkatannya.

     

    Penulis: Mohammad Syifa/MDPI

    Continue Reading
  • Melaut Kini Sudah Tidak Lagi Was-Was

    28 Jun 2019
    Moch Syifa
    326
    0

    Ali Laode, 34, adalah satu dari sekian nelayan di Desa Sangowo, Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, yang kini merasakan manfaat dari registrasi kapal. Bang Ali, begitu dia akrab disapa, tidak perlu lagi was-was ketika melaut dan bertemu dengan petugas Polair. “Kalau ketemu petugas (Polair, Red), tinggal tunjukkan saja BPKP,” katanya.

    Ali memang kini sudah mengantongi dokumen Bukti Pencatatan Kapal Perikanan (BPKP). Dokumen itu dia terima secara resmi bertepatan dengan acara kunjungan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia ke Pulau Morotai pada April lalu. Dengan adanya dokumen itu, Ali mengaku saat ini bisa melaut dengan tenang. “Sekarang lebih aman. Tidak perlu takut-takut lagi ditangkap petugas,” sambung lelaki yang mulai menjadi nelayan tuna sirip kuning sejak 2016 lalu.

    Sebagai nelayan kecil, Ali kini mengaku mengetahui pentingnya memiliki dokumen kapal. Menurut dia, dengan adanya BPKP, berarti dia mengambil ikan di laut secara legal. Sehingga, ikan yang didapatnya juga bisa dijual ke luar negeri. Tidak hanya tentang kelengkapan dokumen, Ali juga lebih memperhatikan kebersihan ikan hasil tangkapannya. “Harus dijaga agar tidak kotor. Karena ikan yang dijual harus selalu bersih,” lanjut Ali.

    Ali mendapatkan pengetahuan tentang penanganan ikan itu setelah dia ikut dalam pelatihan Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB). Kegiatan itu diselenggarakan dengan dinas perikanan setempat dan difasilitasi oleh Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Dalam pelatihan itu, para nelayan diberikan pengetahuan tentang bagaimana menangani ikan hasil tangkapan yang benar agar kualitasnya tetap bisa terjaga.

    Sejak 2018 lalu, Yayasan MDPI dengan dukungan dari Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) hadir di Pulau Morotai untuk melakukan pendampingan terhadap nelayan kecil, khususnya nelayan tuna sirip kuning. Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan MDPI di antaranya adalah pendataan ikan dengan metode port sampling, pendampingan penguruan dokumen kapal (vessels registration), serta kegiatan sosialisasi tentang hewan endangered, threatened, protected (ETP) kepada nelayan.

     

    Penulis/Foto: Mohammad Syifa

    Continue Reading
  • Gender Officer

    27 Jun 2019
    mdpi
    986
    0

    Position                   : Gender Officer
    Location                  : Denpasar, Bali – Indonesia
    Employment            : Contract Fixed Term Hired
    Report to                 : Program Director

    Description:
    Masayarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Foundation supports the development of the fishing communities and supply chains of these fisheries through programs that support economic improvements and social stability for the people.

    The successful candidate will engage with the program teams to develop gender inclusive approaches and capacity building trainings for women and men involved in small-scale tuna fisheries supply chains. The Gender Officer will work with the Program Director and Program Managers to identify tools and approaches for overcoming potential barriers facing gender equality and women empowerment in small-scale tuna fisheries supply chains, with the goal of strengthening our inclusive approaches including women’s economic enterprises. The focus is on community members in small-scale tuna fisheries communities in Northern Sulawesi, with documentation of lessons learned, and approaches that are transferable across MDPI working sites.

    POSITION SUMMARY:

    The Gender Officer (GO) is a new position in the organization and will be responsible to the Program Director. The GO will work on a variety of tasks related to ensuring gender inclusive approaches are implemented across MDPI sites, identifying at which sites and nodes in the supply chains and communities where women’s roles can be strengthened and recognized. The GO will lead on the gender integration of financial services for specific actors in the supply chain, navigating any potential behavior changes and limiting factors identified to hamper implementation. The GO is expected to contribute to other areas of MDPI’s work that fall under gender equality and women empowerment as necessary and is expected to have a close collaboration with all three of MDPI’s program staff. The position will involve travel to the field (remote fishing villages across Indonesia) as well as interaction with a variety of stakeholders, predominantly fishing industry. MDPI is an energetic, innovative and young team and we offer you the opportunity to contribute to the growth of the organization as we aim to support small-scale fishing communities across eastern Indonesia.

    MAJOR RESPONSIBILITIES:

    • Assist and report to Program Director
    • Work collaboratively with each department Manager and team as required to ensure gender inclusivity in MDPI’s programs
    • Ensure gender-disaggregated information in data collection activities and reports
    • Conduct a participatory gender analysis to fully consider the different needs, benefits, impacts, risks and access to / control over resources by women and men in MDPI’s sites contexts
    • Ensure all aspects of the trainings and reports are gender sensitive
    • Providing applied experience in gender research methods and practices to the process of designing development strategies, projects, and activities that address gender equality gaps
    • Develop constructive male engagement strategy to enable gender empowerment in small-scale fisheries management

    Qualifications and requirements:

    • Bachelor or Master’s degree in related field
    • Minimum of 3 years’ experiences in conducting gender analyses and assessments in Indonesia, ideally in natural and or coastal resource management context, including gender integration in program management
    • Solid understanding of key gender equality and women’s empowerment, and sustainable development
    • Analytical thinker and problem solver able to come up with creative solutions to diverse problems
    • Considerate of local cultures and settings
    • Able to work collaboratively with teams and independently
    • Time management skills on projects
    • Ability to stay positive, supportive, and open to new ideas or approaches solutions to solving problems
    • Good command of the English language
    • Considerate of sensitive data and settings

    Send complete application to MDPI HR via email: career@mdpi.or.id with subject: Application: Gender Officer, Bali, Indonesia

    Continue Reading